
"Ada-ada aja lu, eh tapi tapi tapi... tadi tuh kan kita ke rumah pak Anteng di belakang sekolah. Dan rumahnya kosong kayaknya, terus dari tadi pagi tuh gue gak lihat pak Anteng di depan gerbang!" jelas Nina mengingat kalau dia memang tidak melihat pak Anteng sejak pagi.
"Iya, gue juga! gue gak lihat pak Anteng di depan gerbang kayak biasanya." sambung Dewi lagi.
Yusita lalu diam dan berfikir.
"Jadi kita gak mungkin titipin tas Rasti ke rumah pak Anteng kan? ya udah nanti coba deh gue anterin ke rumah nya aja. Gue kan si anterin sama supir! gue kasih tahu pak yoga dulu!" ucap Yusita dan kembali mengirim pesan pada pak Yoga kalau tas Rasti akan dia antar ke rumah Rasti.
***
Sementara itu di rumah Yoga, sedari tadi Rasti terlihat celingak celinguk karena Yoga sibuk dengan ponselnya.
Yoga tidak memberitahu kalau dia sedang chat dengan Yusita yang menanyakan tentang dirinya. Yoga iseng saja melakukan itu, dia ingin tahu reaksi apa yang di tunjukkan oleh Rasti padanya.
"Lagi chating sama siapa sih pak? senyum-senyum gitu? calon istri yang lain ya?" tanya Rasti iseng. Padahal kalau itu benar, Rasti juga yang bakalan sakit hati.
"Kamu kok ngomongnya gitu, kan calon istri saya lagi ada di depan saya!" jawab pak Yoga tak mau kalah mengisengi Rasti
"Ih bapak apaan sih!" elaknya sambil tersipu malu. Pipinya yang putih memerah, membuat Yoga tersenyum senang memandang wajah Rasti.
Mereka berdua sedang makan burger dan juga kentang goreng bersama si ruang tamu.
"Ini teman kamu yang namanya Yusita mengirim pesan, dia mencemaskan kamu karena tidak ada di kelas!"
"Terus bapak bilang apa?" sambar Rasti bertanya dengan cepat pada Yoga padahal yoga belum menutup mulutnya.
"Saya bilang kamu menemani saya, benar kan?" tanya Yoga dengan raut wajah datar.
"Terus?" tanya Rasti lagi.
"Dia bilang, dia akan bawa tas kamu dan mengantarkannya ke rumah kamu! saya bilang iya dan terimakasih, gitu!" jelas Yoga pada Rasti.
Rasti terlihat tidak puas dengan jawaban Rasti. Dia takut kalau teman-teman nya salah paham tentang keberadaan nya bersama pak Yoga. Dan melihat rasti terlihat gelisah hingga meletakkan bowl kentang goreng yang tadinya dia makan sambil di pangku ke atas meja, Yoga meletakkan ponselnya di atas meja lalu menggeser duduknya mendekati Rasti.
"Ada apa?" tanya Yoga.
Rasti menoleh dan menengadahkan kepalanya menatap Yoga yang duduk persis di sebelahnya.
"Mereka salah paham tidak ya, tentang kita?" tanya Rasti dengan nada khawatir lalu kembali menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Yoga terdiam, dia jadi ikut memikirkan apa yang baru saja Rasti katakan. Perbedaan usia mereka yang terpaut begitu jauh, lalu status mereka yang adalah guru dan siswinya. Yoga jadi merasa apakah keputusan nya menyukai Rasti itu benar atau tidak bagi Rasti, bermasalah atau tidak untuk gadis itu nantinya.
"Jika kamu tidak ingin hubungan kita ini... !" Yoga mengatakan apa yang ingin dia katakan dengan ragu. Dia menjeda kalimat nya, karena sesungguhnya dia tidak ingin mengatakan itu.
Dia tidak ingin hubungan mereka yang bahkan belum terjalin harus berhenti karena hal itu. Tapi Yoga juga tidak mau egois, karena menyukai Rasti dia juga tidak harus membuat Rasti berada dalam masalah baik itu di sekolah ataupun di keluarga nya.
Rasti kembali menoleh ke arah Yoga,
"Bapak mau bilang apa?" tanya Rasti penasaran.
Yoga menatap mata coklat Rasti, dia sungguh tak ingin menutupi perasaannya lebih lama lagi. Dia memutuskan untuk mengutarakan perasaannya sekali lagi, dan setelah itu apapun keputusan Rasti dia bertekad untuk menerima nya.
Yoga menggenggam erat tangan Rasti, dia menatap gadis itu dengan tatapan lembut dan penuh cinta.
"Saya tahu, kita begitu berbeda. Usia kita dan..!"
Yoga mengehentikan ucapannya karena Rasti meletakkan jari telunjuk kanan nya di bibir Yoga.
"Bapak mau nembak saya lagi ya?" tanya Rasti membuat Yoga membulatkan matanya.
Yoga terkekeh, dia merasa suasana romantis yang dia bangun, runtuh seketika.
"Kamu merusak momen!" keluh Yoga pada Rasti.
Dan apa yang dikatakan oleh Rasti itu membuat Yoga mengernyitkan dahi nya, dia tidak menyangka Rasti punya pemikiran dewasa seperti itu.
"Menurut mu kita juga bisa begitu?" tanya Yoga.
Rasti terdiam sejenak dan menoleh ke arah Yoga lagi lalu dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, saya tidak mau seperti itu. Saya mau bapak kasih saya kepastian!" jawab Rasti.
Dan lagi-lagi jawaban Rasti itu membuat Yoga terkejut.
"Kepastian? kamu meminta kepastian?" tanya Yoga sambil terkekeh pelan tanpa suara.
"Rasti, seperti nya kamu lebih dewasa dari umur mu!" tambah Yoga lagi.
Rasti malah kembali meraih bowl kentang goreng yang tadi dia letakkan di atas meja.
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak mau, tapi jangan salahkan saya kalau nanti ada teman satu kelas atau satu sekolah yang menyatakan perasaan nya...!"
Grep
Yoga menahan tangan Rasti yang sudah memegang kentang goreng yang akan dia masukkan ke dalam mulutnya. Membuat Rasti bengong menatap Yoga.
"Kamu mau jadi pacar saya?" tanya Yoga cepat.
Rasti mengerjapkan matanya beberapa kali dengan perlahan.
"Pffftt!" Rasti tidak dapat menahan untuk tidak tertawa.
Dia meletakkan bowl kembali ke atas meja.
"Saya bercanda pak Yoga! bapak tidak perlu menganggap apa yang saya katakan itu dengan serius!" seru Rasti masih sambil terkekeh.
Yoga tidak melepaskan tangan Rasti dan malah membuat nya menghadap ke arah Yoga dan menariknya mendekat.
"Tapi saya serius, saya tidak bercanda. Saya menyukai kamu, saya menyayangi kamu layaknya seorang pria pada seorang wanita. Rasti Azzura, maukah kamu menjadi kekasih saya?" tanya Yoga sambil menyatakan seluruh isi hatinya pada Rasti.
Rasti terpana, dia terdiam dan tak bisa berkata-kata.
"Sa...Saya...!" Rasti sangat gugup, dia jadi bingung harus menjawab bagaimana.
Yoga tahu Rasti sangat gugup, dia masih memandang Rasti dengan tatapan lembut.
"Katakan ya atau tidak!" ucap Yoga lembut membantu agar Rasti lebih mudah memberikan jawaban.
Rasti tersenyum karena Yoga seperti mengerti kalau dia kesulitan merangkai kata-kata untuk menjawab pernyataan Cinta Yoga.
"Ya!" jawab Rasti singkat padat dan sangat jelas bagi Yoga.
Pria itu tersenyum bahagia, dan memeluk Rasti dengan erat. Beberapa saat kemudian Yoga menarik tubuhnya sedikit menjauh dan menatap gadis yang tersipu di depannya yang sekarang sudah resmi jadi kekasihnya itu.
Dan ketika Yoga mendekati Rasti semakin dekat, Rasti menahan dada Yoga dengan kedua tangannya.
"Eits... bapak jangan modus ya!" seru Rasti dan membuat Yoga yang gantian tersipu.
Author POV end
__ADS_1
***
Bersambung...