
Aku masuk ke dalam rumah dan meletakkan helm milik so gerandong nyebelin itu di atas sebuah rak yang tingginya sepinggang ku. Rak yang memang biasa diisi barang-barang yang akan di bawa keluar seperti payung, sepatu boot dan lain-lain.
Aku lalu melangkah menuju dapur untuk mengambil air minum.
"Sudah pulang non?" tanya bibi padaku.
"Sudah bi, bibi darimana?" tanya ku melihat bibi yang tengah membawa dompet dan pakaian yang lumayan rapi.
"Itu non, bibi habis ambil uang dari ATM. Tuan kirim uang buat belanja bulanan!" jawab nya dan aku hanya mengangguk kan kepala ku.
"Non Rasti mau langsung makan? bibi siapkan di meja makan ya?" tanya bibi menawarkan untuk menyajikan makanan di meja makan jika aku ingin makan siang sekarang.
Tapi aku menggeleng dengan cepat, karena aku masih kenyang. Tadi sewaktu di sekolah, saat istirahat kedua, aku mendadak lapar dan makan mie ayam favorit ku. Jadi sekarang perutku masih kenyang.
"Gak usah bi, nanti kalau mau makan Rasti ambil sendiri. Rasti ke kamar dulu ya bi!" seru ku lalu berlalu dari dapur setelah sebelumnya mendapatkan anggukan kepala dari bibi.
Aku melangkahkan kakiku menuju ke lantai atas, dan menuju ke dalam kamar ku. Meletakkan tas ransel sekolah ku di atas meja belajar, dan segera beranjak membuka lemari lalu mengambil kaos dan juga celana jeans selutut, tapi pandangan ku tiba-tiba teralih pada baju dan celana yang di lipat oleh bibi dan dimasukkan ke dalam lemari ku. Pakaian itu sudah licin dan rapi, seperti bibi sudah menyetrika nya. Itu adalah baju pak Yoga yang aku pakai kemarin.
Deg
Hanya melihat bajunya saja, kenapa aku jadi sedih begini. Apa aku harus mengembalikan pada pak Yoga, tapi tidak mungkin jika aku ke rumahnya. Juga tidak mungkin jika aku mengembalikan nya di sekolah.
'Aku harus bagaimana?' batinku bertanya.
__ADS_1
Cukup lama aku melihat ke arah pakaian itu, dan semakin lama aku malah semakin kesal.
"Ih, ngeselin!" gumam ku sambil meraih pakaian itu dan melemparkannya ke bagian lemari paling bawah. Tempat baju yang jarang sekali aku pakai.
"Nah, aman kan! gue gak bakalan lihat lagi tuh barang-barang yang bisa ngingetin gue sama pak Yoga!" gumam ku lagi lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Usai berganti pakaian, aku keluar dari kamar mandi lalu mengeluarkan tugas ekonomi yang besok harus di kumpulkan. Aku nyaris merobek halaman buku paket ekonomi ku karena aku melipat nya terlalu rapi.
"Wah, untung gak sobek!" kekeh ku sendiri. Geli sendiri dengan apa yang telah aku lakukan. Lipatan tipis ini benar-benar nyaris membuat halaman buku ini sobek.
Aku membawa buku paket ekonomi dan juga buku PR ku. Karena aku ingin guru les ku itu mengajari aku pelajaran ini. Sambil menyelam minum air juga kan, sambil les tambahan sambil mengerjakan PR.
Aku menuruni anak tangga dengan semangat. Sebenarnya aku ini juga bukanlah anak yang pemalas. Hanya saja fokus dan konsentrasi ku sering terpecah. Entahlah, aku juga tidak mengerti. Mungkin karena dulu sewaktu kecil, aku sering sekali melihat ayah dan ibu bertengkar, teriakan mereka, saling memaki dan menyalahkan. Itu membuat ku merasa tertekan, aku sampai harus di jemput oleh nenek ku ke rumah nenek karena ayah dan ibu yang terus bertengkar membuat mereka tidak mengurusku dengan baik.
Bahkan tak jarang aku juga menjadi sasaran kemarahan mereka. Tapi aku merasa saat ini bahkan tak lebih baik dari saat itu. Meski aku bersama ayah, tapi aku tak bersama ibu ku. Aku tak mengerti, tapi yang nenek jelaskan padaku adalah setelah perceraian ayah dan ibu. Hak asuh ku jatuh pada ayah, dan sejak saat itu ibu tidak pernah datang, jangan kan menemui ku, menelpon ku pun tidak pernah.
Aku meletakkan buku di atas meja ruang tengah, aku lalu duduk di atas karpet dengan memangku bantal kursi sambil menunggu guru les yang di katakan oleh Tirta. Aku melirik ke arah jam dinding yang ada di ruang tengah, dan jam itu sudah menunjukkan pukul 3 lewat 5 menit sore.
"Hum, katanya jam tiga, weh guru bisa molor juga ya jam nya!" gumam ku sambil membuka buku paket karena aku hendak menyalin soal yang ada di sana ke buku PR ku.
Tapi baru menuliskan kalimat 'jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat!' aku mendengar suara bel rumah berbunyi. Aku juga melihat bibi tergopoh-gopoh berlari dari arah belakang, seperti nya dia sedang mengerjakan sesuatu.
Jadi ketika dia hampir sampai di dekat ku, aku berdiri dan menyapanya.
__ADS_1
"Bibi, biar Rasti aja yang bukain pintu. Bibi lanjutin aja apa yang sedang bibi kerjakan! oh ya, biar Rasti juga yang bikin minum nanti!" seru ku pada bibi, supaya aku bisa meringankan sedikit pekerjaan nya.
Bibi tersenyum senang dan mengangguk paham.
"Baik non!" jawab nya lalu berlalu lagi ke arah belakang.
Aku berjalan mendekati pintu utama, aku berada di sebelah rumah tamu, jadi agak lama membukakan pintu, sampai orang itu harus kembali membunyikan bel pintu.
Ceklek
Dan betapa aku terkejut ketika melihat siapa yang ada di hadapan ku saat ini.
"Pak Yoga!" ucap ku pelan sebelum aku menelan saliva ku dengan susah payah.
Dia malah tersenyum dan menyapa ku dengan lembut.
"Selamat sore Rasti, Tirta sudah mengatakan pada mu kan. Kalau mulai sekarang saya akan mengajar les kamu di rumah, seminggu ini?" tanya nya dan pertanyaan nya itu tak mau ku jawab.
'Ih, dasar gerandong nyebelin, susah payah gue ngejauhin pak Yoga. Dia malah bawa pak Yoga kerumah! tuh orang bener-bener ya!' kesal ku dalam hati.
Aku masih diam mematung, aku bingung. Antara harus mempersilahkan dia masuk atau harus berkata kasar lagi padanya agar dia pergi dari sini.
Tapi aku ingat apa yang gerandong nyebelin itu katakan, kalau aku tidak mau les. Dia kan mengadu pada ayah, dan yang jajan ku terancam hangus.
__ADS_1
***
Bersambung...