
Tempat yang kami datangi ini sangat ramai, mungkin karena saat ini sedang ada sebuah pernikahan yang di lakukan di tempat ini. Aku melihat di sebuah ruangan ada yang sedang melaksanakan ijab kabul. Aku melirik ke arah ruangan itu, tapi kemudian pak Yoga berada di depan ku.
"Kenapa? mau belajar? gimana kalau langsung praktek nya aja?" tanya nya dan apa yang dia tanyakan itu berhasil membuat ku ingin tersenyum.
Aku memalingkan wajah ku agar tak ketahuan olehnya aku sedang tersipu. Aku lanjut berjalan meninggalkan nya sambil memegang pipiku karena wajahku terasa menghangat.
Dia menyusul ku,dan bertanya lagi.
"Memang kita mau kemana sih?" tanya nya padaku.
Aku menghentikan langkah ku karena pertanyaan nya itu. Aku mengerutkan kening ku lalu melihat ke arahnya.
"Maksud bapak gimana sih? katanya mau kasih lihat buktinya sama saya? kenapa malah nanya kita mau kemana?" tanya ku balik padanya.
Aku heran kenapa dia malah menanyakan hal semacam itu.
"Tapi kamu salah arah!" jawab nya.
"Kalau kita terus berjalan ke sana kita akan ke toilet!" ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah tulisan toilet yang ada di ruangan di depan kami.
Blush
'Salah lagi kan gue! aduh parah parah parah!' pekik ku dalam hati.
Aku sungguh malu, sudah salah jalan. Marah-marah pula sama pak Yoga. Kalau di toilet itu ada sumur yang kedalamannya cuma satu meter, mungkin aku akan memilih melompat saja ke dalamnya dan menyembunyikan wajah ku yang pasti sudah memerah saat ini.
"Makanya tunjukkin yang bener jalan nya!" elak ku mencoba untuk melimpah kan kesalahan pada pak Yoga lagi.
"Makanya yang namanya makmum itu harusnya di belakang imam, bukan malah di depan!" serunya dan langsung berjalan berlawanan arah dari tujuan ku semula.
Aku membelalakkan mata ku masih mencerna apa yang dia katakan.
'Hah, dia bilang apa? imam? makmum? whuaaaa sumpah baper gue!' pekik ku lagi dalam hati.
__ADS_1
Aku cukup lama diam, sambil mengatur debaran jantung dan juga nafasku yang tidak beraturan akibat kalimat sederhana yang baru saja di katakan oleh pak Yoga. Setelah aku rasa semuanya kembali normal, aku mengikuti langkah pak Yoga ke sebuah ruangan yang di atas pintu tertulis bagian administrasi.
Pak yoga sudah berada di salah satu kursi dan sedang menunggu gilirannya. Aku duduk sedikit jauh darinya dan melihat beberapa orang yang juga sedang memperhatikan aku. Aku melihat ke arah pakaian yang aku kenakan.
'Aduh, mereka pasti merhatiin aku karena pakaian ini!' batin ku.
Seorang wanita paruh baya lalu mendekati ku dan duduk di dekat ku.
"Eh, neng masih SMA udah mau nikah? yang mana calon suaminya?" tanya ibu itu kepo.
"Enggak Bu, saya PKL disini alias Praktek Kerja Lapangan, bukan mau nikah!" jawab ku mengelak.
Ibu itu mengangguk paham.
"Oh, saya kirain neng masih SMA sudah mau nikah, kirain saya neng tekdung duluan!" ucap nya sambil tertawa.
'Tekdung? apaan tuh?' tanya ku dalam hati.
"Rasti, ayo kemari!" ajak nya.
Aku langsung berdiri dan menghampiri nya, setelah aku di dekatnya, pak Yoga bertanya pada bagian administrasi itu pernikahan yang akan di laksanakan pada tanggal yang terhitung tujuh hari lagi dari hari ini.
"Sebentar yan pak!" kata si petugas administrasi.
Pak Yoga sempat melirik ke arah ku dan aku memilih untuk fokus melihat ke arah jari-jari tangan petugas yang sedang mengetik dan menggerak-gerakkan tangannya dia atas keyboard komputer nya.
"Atas nama Yoseph Yanuar Adrian dan Sofie Almira Darmaji." seru petugas itu dengan suara yang bisa terdengar jelas oleh ku.
"Terimakasih pak!" seru pak Yoga pada petugas itu sebelum menggandeng tangan ku keluar dari ruangan administrasi itu.
Kami segera keluar dari Kantor Urusan Agama itu karena aku tak mau lama-lama disana. Pikiran ku sedang sangat kacau, aku bingung harus bagaimana. Aku sudah menuduh pak Yoga yang bukan-bukan, padahal aku bisa saja kan langsung bertanya padanya.
Aku malah berkata kasar dan memintanya menjauhiku karena alasan yang tidak benar. Aku melepaskan tangan ku dari pak Yoga dan berjalan dengan cepat menuju ke mobil pak Yoga yang terparkir di tempat parkir.
__ADS_1
Pak Yoga membukakan pintu mobil untukku, aku langsung masuk ke dalam dan langsung memasang sabuk pengaman ku. Aku ingin meminta maaf pada pak Yoga, tapi aku bingung bagaimana harus memulainya.
"Sekarang apa ada yang ingin kamu katakan pada saya?" tanya pak Yoga setelah dia masuk dan duduk di kursi pengemudi.
Aku hanya menundukkan kepalaku, aku bingung harus bagaimana menjawabnya. Rasanya mulut ku tidak bisa mengeluarkan suara padahal kata-kata sudah hampir terangkai di kepalaku. Tapi sepertinya tercekat di tenggorokan dan rasanya sungguh tidak nyaman.
"Rasti!" ucap nya lembut sambil menepuk punggung tangan ku yang aku letakkan di pangkuan ku.
"Kita bicara di rumah ya!" ucapnya.
Deg
Aku merasa jantung ku kembali berdebar tak karuan. Kenapa malah mau bicara di rumah?
"Pak, kita balik ke sekolah saja. Tas ku masih ada di sana!" ucap ku cepat karena aku tak mau dia membawa ku ke rumah nya.
"Kamu yakin mau kembali ke sekolah? kamu tahu kan jam segini mata pelajaran siapa siapa di kelas kamu? dan saya tadi sudah bilang pada Marco kalau kamu mengantar saya ke klinik terdekat karena saya sakit perut!" jelas pak Yoga panjang lebar padaku.
"Hah, bapak bilang gitu? emang bapak punya nomer Marco, darimana bapak dapat?" tanya ku penasaran.
"Saya punya semua nomer ketua kelas di sekolah itu, itu penting untuk memberikan tugas, atau untuk memberitahukan jika saya berhalangan hadir mengajar, juga semacamnya. Jadi bagaimana? mau langsung bicara di rumah atau beli burger dan kentang goreng dulu?" tanya nya padaku.
Awalnya aku ingin tetap ke sekolah, tapi kalau pak Yoga sudah bilang pada Marco seperti itu kurasa aku lebih memilih makan burger dan kentang goreng juga memperjelas hubungan kami saja.
"Pilihan kedua!" jawab ku ragu.
"Baiklah, sesuai keinginan mu Ratu ku!" sahut pak Yoga dengan suara lembut dan senyum yang begitu bahagia.
Pak Yoga lalu menyalakan mesin mobil dan kami pun meninggalkan kantor urusan agama itu. Menuju ke sebuah restoran cepat saji, pak Yoga memilih memesan makanan dengan Drive thru, setelah mendapatkan pesanan nya. Pak Yoga kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah nya.
***
Bersambung...
__ADS_1