Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Kedatangan Yoga


__ADS_3

'Hah, apa dia dan kak Tirta sedekat itu sampai dia menawarkan untuk menyuapi ku makanan?' tanya ku dalam hati.


Tapi baru aku berfikir seperti itu, Tirta segera menolak secara halus niat baik dari dokter Andika itu.


"Tidak apa-apa dokter, aku yang akan menyuapi adikku. Terimakasih sudah membelikan kami sarapan, kamu sangat baik dokter!" ucap Tirta sopan pada dokter itu.


Aku cukup jarang mendengar Tirta bicara soap. seperti itu. Kurasa dia juga setuju dengan ku kalau dokter Andika ini memang benar-benar orang yang baik.


"Tirta, sebaiknya kamu sarapan saja. Sejak semalam kamu bahkan baru tidur di pagi harinya, tidak minum segelas air pun. Tidak baik juga untuk kesehatan mu, biar aku yang menyuapi pasien ku ini!" ucapnya sambil menyendok kan bubur dan mengarahkan nya ke depan mulut ku.


Aku tidak tahu kalau Tirta bahkan sampai tidak tidur semalam dan batu tidur tadi pagi. Tahu begitu aku tidak akan membangunkan nya tadi pagi. Aku rasa aku harus membuka mulutku, agar Tirta juga cepat memakan makanan nya.


"Hap!"


Aku memakan bubur yang disendokkan oleh dokter Andika, membuat dokter Andika tersenyum. Dan saat aku melihat Tirta, dia juga tersenyum dia juga mulai memakan makanan nya.


"Bagus, makan lah yang banyak supaya cepat sembuh dan naik kelas ya!" ucap dokter Andika lagi.


Aku sedikit heran karena dia tahu kalau aku akan ujian kenaikan kelas. Aku rasa Tirta benar-benar menceritakan banyak hal tentang ku pada dokter Andika.


Beberapa saat kemudian, aku rasa perut ku sudah tak mampu menampung makanan lagi.


"Sudah ya dokter, aku sudah kenyang!" ucap ku memelas pada dokter Andika.


"Satu suap lagi ya!" sahut dokter Andika.


"Kamu mengatakan satu suap lagi itu sejak lima suapan yang lalu dokter!" keluh ku pada dokter Andika.


"Pffftt!" aku langsung menoleh ke arah Tirta yang terkekeh mendengar apa yang aku katakan.


"Baiklah! sekarang minum dulu. Setelah itu duduklah selama lima belas menit, baru minum obat!" ucap dokter Andika.

__ADS_1


"Baik, terimakasih dokter!" ucap ku pelan.


Tirta juga sudah selesai dengan sarapannya, dia memberikan remote control televisi padaku.


"Kalau bosan nonton televisi saja!" ucapnya


Aku menoleh ke arah dokter Andika.


"Anda tidak sarapan dokter?" tanya ku pada dokter Andika.


"Nanti saja setelah memastikan kamu meminum obat mu!" jawab nya.


"Kenapa tidak sarapan disini saja, kita bisa sambil mengobrol di sana!" ucap Tirta menunjuk ke arah sofa yang ada di depan meja televisi.


"Baiklah!" ucap dokter Andika yang langsung membawa bungkusan buburnya ke arah sofa.


Aku menghidupkan televisi dan menonton serial kartun, aku lebih suka menonton kartun daripada menonton berita. Sesekali aku juga melihat ke arah Tirta dan dokter Andika yang sedang mengobrol obrolan ringan, seperti Tirta kuliah dimana, berapa usianya dan juga dia ambil jurusan apa, kesulitan di kampus apa saja dan semacam itu.


Tirta juga bertanya pada dokter Andika, sudah lama kah menjadi dokter, dan sejak kapan dia bekerja di rumah sakit ini. Dan pertanyaan terakhir nya membuat mataku terbelalak.


"Uhukk uhuukk!"


"Kakak, ambilkan minum!" seru ku dari jauh karena Tirta terlihat malahan bengong saja melihat dokter Andika tersedak.


Tirta segera berdiri, lalu mengambilkan minuman yang ada di atas meja dan memberikan nya pada dokter Andika.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Tirta pada dokter Andika.


Dokter Andika menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak, aku hanya mengambil udara bersamaan dengan aku memasukkan makanan ke dalam mulut ku!" jelasnya.

__ADS_1


Aku lagi-lagi dibuat terbengong karena jawabnya itu. Karena pertanyaan itu, dokter Andika tidak melanjutkan lagi sarapan nya dan memilih meletakkan bowl makanan nya kembali ke adalan bungkusan. Dia lalu mengeluarkan tiga cup milkshake.


"Ini untuk mu!" ucap dokter Andika sambil meletakkan satu cup milkshake di atas meja.


"Dan ini untuk Rasti, tapi setelah tiga jam dia meminum obatnya!" ucap dokter Andika yang segera berjalan ke arah ku lalu meraih mangkuk kecil berisi obat-obatan yang harus aku minum.


Dokter Andika bahkan membantuku meminum obat, dia memegang gelas dan setelah aku menelan obat ku dia memberikan air minum untukku.


"Terimakasih dokter, anda baik sekali. Semua pasien anda akan sangat senang di rawat oleh dokter sebaik anda!" ucap ku pada dokter Andika.


"Benarkah?" tanya nya seolah tak percaya.


"Rasti!!" panggil seseorang yang suaranya sangat aku kenali.


Tirta bahkan segera berdiri dan berlari ke arah pintu untuk mengusir orang itu keluar ketika dia akan masuk ke dalam kamar rawat ku. Dokter Andika yang terlihat bingung mencoba untuk melerai Tirta yang sudah mencengkeram kuat kerah kaos yang dipakai oleh pak Yoga.


Benar, pria yang berusaha masuk ke dalam ruangan ini adalah pak Yoga, yang tadi memanggilku juga adalah pak Yoga. Dengan wajah lusuh dan pucat, kurasa dia juga tidak tidur semalaman. Dan aku yakin Tirta juga tidak akan memberitahukan keberadaan ku pada pak Yoga.


Hingga membuat aku yakin kalau semalaman dia mencari tahu dimana aku di rawat, dia bahkan menggunakan celana pendek dan kaos oblong dia bahkan hanya memakai sandal. Aku yakin dia sangat kelelahan.


"Kak, biarkan dia masuk!" ucap ku.


Tirta menoleh ke arah ku, dia mendorong Yoga dan terlihat sangat kesal. Tapi kemudian dia kemudian memilih duduk kembali di sofa. Pak Yoga berjalan perlahan ke arah ku, tapi dokter Andika tidak keluar. Dia hanya berdiri sambil bersandar di dinding dekat dengan tempat Tirta duduk. Kurasa dia ingin berjaga-jaga, kalau saja nanti Tirta emosi lagi.


"Rasti, bagaimana keadaan mu?" tanya pak Yoga yang berusaha menyentuh tangan ku namun dengan cepat aku menarik tangan ku darinya.


"Rasti aku minta maaf atas apa yang telah ibu ku lakukan dan katakan padamu! aku janji hal itu tidak akan pernah terulang lagi!" ucap pak Yoga.


Dan aku merasa pak Yoga sangat menyesal dan merasa bersalah atas apa yang dilakukan oleh ibunya itu. Tapi aku juga bingung harus bagaimana, aku terlalu sakit hati pada ucapan ibunya. Dan aku juga sadar diri, kalau aku memang tak sebanding dengan pak Yoga. Aku hanyalah muridnya yang begitu bodoh sudah jatuh cinta pada pak Yoga yang seperti kata ibunya, tampan, kaya dan juga berkelas.


Aku tidak tahu harus bicara apa, tapi kurasa hubungan ku dengan pak Yoga tak akan pernah berakhir baik. Masa laluku akan membuat pak Yoga malu.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2