Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Kedatangan Teman-teman


__ADS_3

Di rumah sakit, Yoga sebenarnya ingin sekali menemani Rasti di rumah sakit. Tapi Tirta meminta agar Yoga pulang saja dan beristirahat, belum lagi dia harus menyiapkan soal ujian untuk murid-muridnya.


"Saya sudah siapkan itu jauh-jauh hari, biar saya saja yang menemani Rasti!" kekeuh Yoga.


Tirta sebenarnya juga tidak masalah, hanya saja dia takut kalau ini justru akan menimbulkan banyak pertanyaan untuk teman-teman Rasti nantinya. Marco bahkan belum kembali, entah dia membuang buket bunganya dimana. Takutnya dia mulai mencurigai hubungan Rasti dengan Yoga, itulah uang dipikirkan Tirta.


"Aku sudah baik-baik saja kak, besok pagi aku juga sudah boleh pulang. Benar kata kak Tirta, sebaiknya kak Yoga pulang dan beristirahat, ya!" bujuk Rasti.


Dan Yoga pun terpaksa mengangguk kan kepalanya patuh pada apa yang di katakan Rasti. Tirta hanya tersenyum kecil melihat tingkah dua orang di depannya itu.


Ceklek


Pintu kembali terbuka, membuat Rasti, Tirta dan Yoga menoleh ke arah yang sama secara serempak.


Yang membuka pintu adalah Marco, tapi di belakangnya ada Yusita dan juga Dewi.


"Rasti!" panggil Dewi dan langsung berlari memeluk Rasti.


Begitu pula dengan Yusita yang berjalan perlahan lalu mendekati Rasti.


"Lu kenapa Rasti? astaga gue panik banget waktu denger dari Marco lu masuk rumah sakit?" tanya Dewi yang tak melihat sekeliling dan langsung nyerocos di depan Rasti.


Tirta mendekati Marco.


"Gue kira lu nyasar?" tanya Tirta membuat semua orang memandang ke arah mereka berdua.


"Gak kak, gue lama karena nyariin tuh dua orang temennya Rasti yang kesasar, di rumah sakit aja nyasar. Apalagi di hutan lu berdua!" keluh Marco sedikit kesal.


Bagaimana tidak, karena mencari keberadaan Yusita dan Dewi yang salah memberitahukan lokasi mereka pada Marco. Marco harus berkeliling rumah sakit mencari mereka.


"Eh, ada kak Tirta! halo kak!" sapa Dewi yang fokus pada Tirta


Tapi berbeda dengan Dewi, Yusita malah fokus pada keberadaan Yoga.


"Malam Pak Yoga!" sapa Yusita dengan sopan.


Dan Dewi pun baru menyadari kalau sedari tadi juga ada pak Yoga disini.


"Lah bapak juga jenguk Rasti, baik banget sih bapak!" celetuk Dewi apa adanya. Gadis yang satu ini memang selalu mengatakan apa yang ada di pikiran nya tanpa di saring terlebih dahulu.


"Iya, tapi sekarang saya sudah mau pulang. Semuanya saya pamit ya, Rasti cepat sembuh!" ucap Yoga.

__ADS_1


Rasti tersenyum dan mengangguk kan kepalanya. Tirta benar-benar ingin tertawa melihat sandiwara dua orang itu di depan teman-temannya Rasti.


Tirta memilih untuk keluar dan memberikan kebebasan pada Rasti agar bisa leluasa mengobrol dengan teman-teman nya.


"Kakak mau keluar cari minuman dulu, ada yang mau juga?" tanya Tirta sopan.


"Mau kak, capuccino ya kak!" sahut Marco tanpa malu-malu.


Dan Tirta pun hanya mengangguk menyetujui.


"Dewi juga capuccino kak!" sahut Dewi yang juga sok akrab.


"Yusita, kamu mau apa?" tanya Tirta pada Yusita.


Dengan wajah yang memerah Yusita menoleh ke arah Tirta.


"Sama dengan Dewi saja kak, terimakasih!" ucapnya pelan.


Tirta pun kembali tersenyum dan mengangguk. Lalu pergi keluar dari ruang rawat Rasti.


"Lu kenapa Ras? sakit apa lu? gak parah kan? senin ujian loh!" tanya Dewi bertubi-tubi. Belum juga Rasti membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan yang satu, Dewi sudah menambahkan dengan pertanyaan yang lain lagi.


"Eh, Dewi. Lu nanya apa bikin parno?" tanya Marco kesal.


"Gak papa kok, gue cuma kecapean doang. Kemaren tuh banyak banget yang gue kerjain. Sok sibuk gitu gue, akhir nya gue pingsan!" jelas Rasti panjang lebar pada teman-teman nya.


"Sampai pingsan? terus apa kata dokter?" tanya Yusita yang mulai khawatir.


Rasti lalu menggeleng kan kepalanya.


"Gak papa kok, cuma asam lambung naik aja! besok pagi juga udah pulang!" jelas Rasti lagi membuat raut lega terpancar dari ketiga orang di depannya itu.


"Iya, lu kemarin terlalu sibuk tuh ngurusin anaknya pak RT. Jadi sakit kan lu!" sambung Marco.


"Ih lu apaan sih, bukan juga karena itu. Udah waktunya aja gue sakit. Bukan karena itu, ngaco aja lu!" sanggah Rasti.


"Siapa anak pak RT?" tanya Dewi kepo.


"Panji, siapa lagi!" jawab Marco.


Dewi langsung terlihat panik, dia bahkan menutup mulutnya seolah tak percaya dan terlihat sangat dramatis.

__ADS_1


"Hah, Panji sakit. Gara-gara kejedot bola itu ya, kasian banget sih dia. Dia dirawat disini gak, sekalian jenguk dia yuk!" ajak Dewi pada yang lain.


"Gak, dia di rawat di rumah sakit deket sekolah. Lagian lu heboh banget sih Wi, jangan-jangan lu suka ya sama Panji?" goda Marco.


Dan karena ucapan Marco, wajah Dewi memerah. Itu membuat mereka bertiga menyimpulkan kalau Dewi memang menyukai Panji.


"Hadeh, lu mau jadi Kiki ke berapa lu?" tanya Marco dengan tatapan jengah.


Rasti mulai paham kemana arah pembicaraan Marco, dia kemudian melihat ke arah Marco dan menggelengkan kepalanya memberikan isyarat pada Marco agar tidak mengatakan pada Dewi dan Yusita tentang kejadian di kelas Panji kemarin saat Kiki dan teman-teman nya berlaku kasar pada Rasti.


"Iya Wi, nanti lu patah hati. Udah cari aman aja!" sambung Rasti.


"Nah lu deket sama Panji kan?" tanya Dewi yang seperti nya tidak menghiraukan apa yang di katakan oleh Marco dan Rasti.


"Kan temenan doang...!"


"Ngomong apa sih lu Wi, Rasti tuh calon nyonya Ricardo you know!" ucap Marco membuat ketiga gadis di depannya itu tertawa terbahak-bahak.


"Eh hoax aja lu, jangan-jangan Rasti stress gara-gara hoax lu, asam lambungnya naik tuh, gara-gara hoax lu, ya gak Ras?" tanya Dewi pada Rasti setelah mengejek Marco.


"Aduh, kayaknya iya deh!" sahut Rasti yang masih terkekeh.


Yusita akhirnya ikut menimpali.


"Wah lu bilang calon nyonya Ricardo ya, berarti Rasti calon Mak tiri lu dong. Kan bokap lu tuan Ricardo!" seru Yusita.


Apa yang diucapkan oleh Yusita itu membuat Dewi dan Rasti tertawa semakin terbahak. Tapi membuat Marco menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Ck... salah ngomong nih gue!" sahut Marco.


"Ih amit-amit ya Ras jadi mak tiri mah!" ucap Dewi sambil menggidikkan bahunya.


Rasti terdiam, dia merasa kalau selama ini pendapat nya tentang ini tiri yang kejam itu juga tidak sepenuhnya benar. Buktinya ibu tirinya begitu baik dan sangat menyayangi. Rasti merasa dialah yang selam ini yang selalu bersikap tidak baik pada ibu tirinya. Rasti menghela nafasnya.


"Gak juga sih, ibu tiri ku, ibu Rita sangat baik!" ucapnya tulus.


Dan tanpa mereka ketahui, Tirta sudah berdiri di depan pintu, dengan senyuman yang terlukis indah di wajahnya.


Author POV end


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2