
Sekarang aku harus kembali berjalan memutar lagi menuju ke kelas ku. Tapi saat melewati UKS aku berpapasan dengan Panji yang baru keluar dari dari UKS sambil memegangi kepalanya. Karena penasaran aku menghampiri nya.
"Oi, Panjul!" panggil ku pada Panji hingga membuat langkahnya terhenti dan menoleh ke arah ku.
"Ck... manggil gue yang romantis dikit kenapa sih Ras, panggil beb atau ayang gitu kan bisa!" protesnya pada panggilan ku dan malah menyarankan beberapa panggilan yang membuat ku terkekeh mendengarnya.
Aku memperhatikan kepalanya yang sedari tadi dia pegang-pegang dengan gerakan ujung-ujung jarinya yang terlihat seperti memijit kepalanya itu.
"Ayang-ayang, pala lu peyang!" celetuk ku dengan niat bercanda padanya.
"Ih siapa yang peyang, pala gue benjol nih!" keluhnya sambil menundukkan sedikit kepalanya di hadapan ku.
Dan aku memperhatikan kepala Panji, aku penasaran jadi aku pegang bagian yang sedari tadi diusapnya. Benar saja ada benjolan, dan ketika aku pegang dan raba benjolan pada kepala Panji itu, di pemilik kepala terlihat meringis kesakitan.
"Aduh, lu megang nya pelan-pelan geh! kasar amat, jadi cewek tuh yang lembut!" protesnya lagi setelah mengaduh sakit.
Awalnya aku ingin membalas ucapannya, tapi aku rasa dia memang sedang kesakitan sekarang ini.
"Kenapa bisa benjol gitu? lu jatuh apa di timpuk orang karena lu nakal?" tanya ku yang masih menyelipkan kalimat ringan agar dia tetap bisa tertawa meskipun kepalanya sakit.
"Iya nih, semua ini gara-gara mata gue nakal. Lihatin cewek cakep pake tas warna ungu, yang rambutnya di kuncir kuda, terus nama belakangnya Azzura lewat di koridor. Pala gue ke hantam sama bola basket gara-gara gak fokus, dan ngelihatin tuh cewek terus!" jelas nya panjang lebar sambil terus mengusap pelan kepalanya yang benjol.
Aku berfikir sebentar, aku rasa aku tahu siapa cewek yang punya ciri-ciri yang disebutkan oleh Panji tadi.
"Eh, itu gue kan dudul!" pekik ku setelah menyadarinya.
"Lemot lu gak ilang-ilang. Elah, tiga menit baru nyadar!" ucapnya mengejek ku lagi.
"Ck... lagian lu tuh ngapain sih lihatin gue. Ada yang aneh ya?" tanya ku yang juga memperhatikan penampilan ku sendiri.
"Augh ah! puyeng nih pala gue!" ucapnya kesal.
"Kalau lu puyeng, tiduran aja di UKS. Gak usah keluar-keluar kayak gini!" ucap ku menyarankan Panji untuk kembali masuk ke ruang UKS dan beristirahat.
"Horor gue sendirian di dalam! para medisnya lagi ke kantin sarapan. Gak ada orang lain selain gue!" jelas nya dengan wajah yang terlihat pucat.
"Eh lu temenin gue ya!" ucapnya sambil menarik lengan ku.
"Eh, gak bisa ya!" ucapku dan menarik lengan ku kembali.
"Gue ada pelajaran matematika, lu tahu kan Senin ujian. Gue gak mau ketinggalan pelajaran! lu tunggu aja di dalem, bentar lagi juga dateng tuh mbak mbak medisnya!" ucap ku pada Panji.
"Ck... ya udah, tapi sambil nunggu gue chat elu ya?" tanya nya lagi masih tawar menawar dengan ku.
Karena aku harus kembali ke kelas dan aku juga kasihan pada Panji maka aku segera menganggukkan kepala ku beberapa kali.
"Oke, ya udah masuk sana ke dalem, gue ke kelas!" ucap ku lalu meninggalkan UKS dan juga Panji yang berjalan perlahan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Setelah tiba di depan pintu kelas ku, aku mengetuk pintu dan meminta ijin untuk masuk pada Bu Risky.
"Sudah selesai urusan mu dengan toilet?" tanya Bu Risky yang membuat teman-teman ku yang lain terkekeh.
Aku mengangguk perlahan.
"Sudah Bu!" jawab ku sopan.
"Duduk!" seru Bu Risky.
Aku pun segera berjalan ke arah kursi ku lalu duduk.
"Lama amat lu di toilet? emang di toilet ada Aliando Syarif ya?" tanya Dewi dengan wajah mengejek.
__ADS_1
"Gak ada, adanya Ucok Baba!" ucap ku sengaja.
Dewi menggidikkan bahunya dan kembali fokus pada pelajaran. Nina menoleh ke belakang dan berkata.
"Gue tadi pipis, tapi gue gak lihat lu. Lu ada di toilet yang dimana?" tanya Nina yang membuat Dewi juga menoleh ke arah ku.
Aku memperhatikan mereka berdua bergantian, aduh si Nina ini kenapa akhir-akhir ini jadi menyebalkan sekali ya.
"Toilet Deket UKS!" jawab ku.
"Jauh amat, emang toilet di samping kelas IPS IV kenapa?" tanya Dewi ikut curiga sepertinya.
"Tadi tuh penuh disana, kebelet gue daripada lama....!"
Belum juga aku selesai bicara, lagi-lagi Dewi menyela.
"Ada empat pintu kan disana, semuanya penuh? pada sarapan apa sih pagi ini. Kenapa pada mules?" tanya Dewi yang begitu panjang lebar.
Aku hanya mengangkat sekilas bahu ku. Tidak tahu juga mau jawab apa lagi. Ketika aku membuka tas untuk mengambil pulpen, ponsel ku bergetar. Aku mengeluarkan nya dan meletakkan nya diatas buku catatan. Buku paket aku posisi kan berdiri agar menutupi keberadaan ponsel ku dari Bu Risky.
'Dah di kelas?' tanya Panji yang tertulis dalam pesannya.
'Udah, lu gimana? mbak mbak medisnya dah dateng belom?' tanya ku pada Panji.
'Belom nih, gak tahu apa yang dimakan. Lama banget!' keluhnya.
'Namanya juga orang medis, ngunyah makanan juga pasti kan 20 kali dulu baru di telen wkwkwk!'
Aku ikut terkekeh sambil menulis pesan pada Panji. Dan itu disadari oleh Dewi.
"Lagi chating sama siapa lu? noh pacar lu dari tadi ngelihatin aja!" tanya Dewi sambil menggerakkan matanya melirik ke arah depan.
Dan aku sungguh kesal ketika yang dia maksud pacar ku itu adalah Marco.
"Wi, lu kan temen gue ya? masa' iya lu gak percaya sama gue? gue tuh gak pernah jadian sama Marco. Hoax doang dia itu!" jelas ku pada Dewi.
Tak lama ponsel ku bergetar lagi.
'Gue puyeng lagi nih, gue pulang aja kali ya?' keluhnya.
'Eh jangan, lu bilang lu puyeng. Mana bisa lu bawa motor sendiri pulang?' tegur ku padanya.
'Bisa geger otak gak sih kira-kira?' tanya nya lagi.
Dan jujur saja aku jadi panik ketika membaca pesan dari Panji itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Gue kan cuma denger gosip dari anak-anak kalo semalam tuh Marco ngapelin lu!" ujar Dewi lagi.
Aku masih bingung mau menjawab Dewi lebih dulu atau membalas pesan dari Panji.
"Elah Wi, dia itu semalem ke rumah gue ngerjain tugas doang, hari ini dia gak bisa karena mau pergi sama bokap nya!" jelas ku.
Dewi terlihat manggut-manggut, tapi aku tidak tahu dia benar-benar mengerti atau tidak. Aku lalu kembali fokus pada pesan Panji.
'Panjul, lu diem-diem disitu ya. Gue minta seseorang buat nganterin lu ke rumah sakit!' seru ku pada pesan ku padanya.
'Siapa? Mak gue repot dia lagi rapat RW. Bokap gue lagi keluar kota!'
'Udah tunggu aja disitu, jangan kemana-mana!'
Setelah mengirimkan pesan itu pada Panji, aku mengirimkan pesan pada pak Yoga.
__ADS_1
'Kak, aku minta tolong boleh ya?' tanya ku pada pesan yang aku kirimkan pada pak Yoga.
'Apa itu sayang?' tanya nya membalas pesan ku tanpa emoticon apapun.
'Kak Yoga ada jam lagi gak? kalau gak ada aku minta tolong anterin Panji yang lagi di UKS ke rumah sakit ya? plus!' pintaku pada pak Yoga.
Cukup lama aku menunggu balasan dari pak Yoga.
'Memangnya kenapa dia?'
'Kena bola basket, kepalanya benjol. Dia bilang kepalanya puyeng. Tolong ya kak!'
'Ada kompensasi nya kan?' tanya nya.
Aku langsung meletakkan ponsel ku lagi, aku menghela nafas panjang.
'Kompensasi?' tanya ku dalam hati.
Aku diam sebentar, aku tidak tahu apa itu kompensasi. Aku menoleh ke belakang dan bertanya pada Yusita yang sedang serius menulis soal latihan dari buku paket yang ada di depannya.
"Yus, mau tanya dong!" ucap ku pada Yusita.
Yusita langsung melihat ke arah ku.
"Iya, soal nomer berapa?" tanya nya yang langsung membuat ku membulatkan mata ku takjub.
'Dia kira aku mau tanya jawaban soal ya?' tanya ku dalam hati.
"Bukan soal matematika Yus, mau tanya kompensasi tuh apaan ya artinya?" tanya ku.
"Arti dari kata kompensasi?" tanya nya secara diplomatis.
Wah teman ku yang satu ini memang selalu berusaha bicara sesuai dengan ejaan bahasa baku.
"Nih kalau bahasa baku nya itu ya, kompensasi itu artinya imbalan berupa uang atau bukan uang kepada karyawan dalam sebuah perusahaan! tapi kalau bahasa kita bisa di bilang, em...!" Yusita terlihat memikirkan kata yang mungkin menurutnya lebih mudah untuk ku pahami.
"Uang lelah mungkin!" katanya yang terdengar juga tidak yakin.
Aku mengangguk paham,
"Makasih ya!" ucapku dan di balas anggukan kepala dari Yusita.
Aku menghela nafas ku lagi, seingat ku yang jajan ku masih ada 300 ribu, karena tambahan dari Tirta kemarin. Aku mulai mengetik jawaban untuk pak Yoga.
'Oke kak, tapi aku cuma punya 300 ribu, apa itu cukup?" tanya ku ragu tapi aku tetap mengirimkan pesan itu.
'Bukan kompensasi yang seperti itu sayang, baiklah aku akan antar Panji ke rumah sakit. Masalah kompensasi kita bicarakan nanti!'
'Oke!' balas ku.
Aku kembali menyimpan ponsel ku dan berharap Panji baik-baik saja. Kasihan juga dia, dia itu anak yang baik dan berbakti pada ibu-ibu di perumahan. Kalau dia kenapa-kenapa pasti ibu-ibu di komplek perumahan jadi sedih.
"Baiklah anak-anak, yang sudah selesai boleh di kumpulkan sekarang!" seru Bu Risky.
Aku langsung panik, karena urusan dengan Panji tadi aku malah belum mengerjakan soal dari buku paket sama sekali. Tidak ada jalan lain, aku segera menoleh ke belakang.
"Yus!" panggil ku pelan pada Yusita.
"Iya, nomer berapa?" tanya nya lagi yang sepertinya sangat memahami ku.
"Satu, dua, tiga... em semuanya boleh gak?" tanya ku memelas.
__ADS_1
***
Bersambung...