Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Menurut Tirta, Marco itu Pintar


__ADS_3

Dan disinilah aku, terdampar di pulau penuh kata-kata yang di tulis Marco dengan tulisan yang bahkan lebih unik dari tulisan Dewi yang melebihi tulisan dokter.


"Buruan Rasti, mana materi aspek perencanaan usaha nya?" tanya Marco.


"Ini lu serius mau pakai perusahaan dagang, kalo kata pak Yoga sih mendingan perusahaan jasa aja, katanya kalau pakai perusahaan dagang itu kita harus kasih contoh produk nya!" jelas ku pada Marco mengatakan kalimat yang sama persis seperti yang tadi sore di katakan pak Yoga padaku.


"Eh iya, pak Yoga gimana?" tanya nya keluar dari topik pembahasan kami.


"Lu anter kemana dia?" tanya Marco dan saat aku menoleh ke arah Tirta dia juga sedang melihat ke arah ku. Sepertinya mereka sama-sama ingin tahu apa yang terjadi pada pak Yoga.


Apa aku harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi siang. Tapi kurasa lebih baik tidak, kami kan sepakat untuk tidak go publik dulu sebelum aku lulus sekolah. Bagaimana kalau aku mengarang bebas saja, iya kurasa lebih baik aku mengarang bebas saja.


"Tadi siang tuh di belakang sekolah, gue kan makan bekal makanan tuh yang gue bawa dari rumah, nah pas gue selesai makan, gue lihat pak Yoga megangin perut, katanya perutnya sakit. Dia minta tolong tuh sama gue anterin dia ke klinik, takutnya pas dia nyetir mobil dia pingsan, gitu katanya!" jelas ku berbohong.


'Maafin Baim ya Allah, eh salah.. maafin Rasti ya Allah, Rasti bukan sengaja mau bohong, tapi ini kepepet!' batin ku menyesal.


"Terus lu anter kemana dia?" tanya Tirta yang ikut nyambung obrolan ku dan Marco.


"Ke klinik elah, tadi kan gue dah bilang! udahlah gak usah bahas itu, bahas ini nih, tinggal satu jam lagi Marco!" seru ku mengingatkan Marco bahwa waktu yang kami miliki tidak banyak.


Padahal sebenarnya aku sedang berusaha mengalihkan topik pembicaraan kami. Kalau di teruskan maka aku tidak tahu akan berapa banyak kebohongan yang aku katakan nanti. Dan aku tidak menginginkan itu, aku ini pelupa, kalau aku sampai lupa suatu yang sudah aku katakan bisa gawat.


"Jadi gimana ini, beneran mau pakai perusahaan dagang aja?" tanya ku memastikan.


"Ya iyalah, nih proposal udah gue konsep sempurna ya. Kalau di rubah lagi, repot tahu gak? lu gak usah pusing sama produknya, orang gue cuma bikin proposal bisnis perusahaan kacang telur kok, lu besok tinggal nyari kacang telur tuh yang kiloan, terus lu kemas lagi pakai plastik, lu kasih label nama perusahaan karangan gue ini!" jelas Marco padaku.


"Jadi ini perusahaan dapet ngarang?" tanya ku tak percaya. Bisa-bisa nya dia mengarang nama dan alamat perusahaan nya.


Aku sampai di buat takjub, pantas saja dia yakin sekali dalam satu setengah jam tugas membuat proposal bisnis ini selesai. Ternyata dia memang hanya mengarangnya saja. Apa memang bisa seperti itu ya, aku bahkan tidak memikirkan nya sejak tadi.


Dan pak Yoga juga, dia bahkan berniat mengajak ku ke perusahaan kakak nya untuk mempelajari proposal bisnis. Tapi Marco, dia hanya duduk dan konsep proposal nya sudah siap begitu saja.


Ketika aku memandang takjub ke arah Marco, ternyata dia menyadarinya.


"Kenapa lu lihatin gue kayak gitu? gue ganteng ya? lu mulai jatuh cinta ya sama gue?" tanya nya ngebanyol.


Plakk


Aku memukulnya dengan beberapa lembar kertas yang ada di tangan ku.

__ADS_1


"Eh, pede lu beli dimana coba?" tanya ku kesal.


Dan bukan aku saja yang bertanya seperti itu, Tirta yang tahu-tahu sudah berdiri di belakang Marco pun bertanya.


"Ngomong apa lu barusan?" tanya nya.


Kalau aku deskripsi kan seperti di film-film kartun ya, Tirta berdiri di belakang Marco dengan bara api di sekitar tubuhnya, dengan mata dan wajah yang memerah, juga sambil berkacak pinggang.


Sedangkan Marco dari ukuran manusia normal mendadak dia mengecil seukuran Gerri sipitnya Spongebob. Ha ha ha.. daya hayal ku memang payah sekali.


Marco menoleh ke belakang, dai memasang wajah memelas sambil mengangkat tangannya dan membentuk hari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.


"Peace kak, suer becanda doang tadi ngomong gitu. Biar gak tegang, serius terus gitu!" ucapnya beralasan.


"Jangan macem-macem lu ya, Rasti gak boleh pacaran sebelum lulus SMA, itu kata ayah!" serunya dan kembali ke mejanya.


Deg


'Nah itu dia masalahnya, gue lupa kalau ayah pernah bilang kayak gitu. Gimana nih, mana pacar gue, guru gue sendiri lagi!' batin ku gelisah


Kegelisahan ku seperti nya lagi-lagi di ketahui oleh Marco. Aku heran, anak ini sensitif sekali. Mungkin karena dia sering ngobrol sama Lutfhi si anak indigo itu.


Aku hanya menghela nafas ku panjang, lalu kembali membacakan apa yang di tulis Marco di kertas coret-coretan nya.


Beberapa waktu berlalu, mataku juga sudah mulai perih membaca dari dekat tulisan ajaib Marco.


"Dana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan produksi usaha “Kacang telur Bola-bola” adalah sekitar Rp 80.000.000 (delapan puluh juta rupiah). Adapun, kekurangannya adalah sekitar Rp 25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah), dengan rincian anggaran terlampir". kata ku membaca tulisan Marco.


"Eh, Marco serius biaya nya segitu? kacang telur doang segitu biayanya. Banyak banget?" tanya ku.


"Pffttt!"


Aku dan Marco menoleh ke arah belakang kami saat Tirta menahan tawanya.


"Ras, aduh puyeng gue. Sering-seringlah lu belajar sama Marco. Kalau cuma seratus dua ratus ribu yang lu butuhin ngapain juga lu bikin proposal bisnis, lu pinjem aja noh sembako dari warung mang Ujang, kalo dagangan lu dah kau lu pulangin. Haduh!" keluh Tirta.


Aku terdiam, aku bukannya diam karena aku sedang berfikir ya. Aku diam karena aku merasa seharusnya tadi aku tidak bertanya. Aku sungguh jadi terlihat begitu bodoh.


"Lanjut Ras, dikit lagi kan itu!" seru Marco kemudian.

__ADS_1


"Demikian proposal bisnis yang kami buat. Adapun kesimpulan dari pembuatan proposal bisnis ini adalah sebagai berikut. Kami berharap bahwa tindak lanjut dari pengajuan proposal ini adalah diberinya kesempatan bagi kami untuk mempresentasikan perusahaan kami kepada Bapak/Ibu. Kami harapkan kebutuhan dana dalam proposal tersebut bisa dipertimbangkan oleh Bapak/Ibu.” ucap ku membacakan apa yang Marco tulis lagi.


"Sekian pengajuan proposal bisnis yang kami sampaikan. Kami harap, proposal ini bisa diterima oleh semua pihak supaya kegiatan usaha kami dapat berjalan dengan baik. Kami menyadari bahwa proposal bisnis yang kami buat ini masih terdapat banyak kekurangan dan kekeliruan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi terwujudnya perencanaan usaha yang baik ke depannya. Kami ucapkan terima kasih atas perhatian Bapak/Ibu! selesai deh!" ucap ku senang karena akhirnya proposal ini sudah selesai.


"Oke, kelar ya. Sekarang gue balik dah malem! lu print abis itu lu kliping. Jangan lupa kacang telornya lu kemas dengan rapi dan baik ya. Gue balik dulu, makasih ya kak!" ucapnya setelah membereskan barang-barang nya dan meninggalkan ku begitu saja dan pergi dari rumah ku.


Aku menatap flashdisk yang tadi dia berikan padaku, dan menatap printer milik Tirta yang tadi aku pinjam.


"Terus, ngapain juga printer nya di bawa ke bawah coba?" tanya ku bergumam.


Tirta tertawa.


"Ha ha ha, udah gak papa! sini gue yang nge print!" ucap Tirta sambil menghampiri ku dan mengambil flashdisk yang tadi di berikan Marco padaku.


Dia menyambungkannya ke laptop nya dan mulai mencetak tugas proposal bisnis ku dan Marco.


"Dia peringkat berapa sih di kelas lu? menurut gue dia pinter banget loh!" puji Tirta setelah bertanya.


"Huh, dia itu peringkat satu kalau Yusita sama Dodo lagi ngeblank!" jawab ku asal


"Bisa gitu ya?" tanya nya sambil merapikan kertas yang sudah tercetak.


"Iya, pokoknya yang peringkat satu kalau gak dia, Yusita ya Dodo!" jelas ku lagi.


"Pantesan, oh ya besok gue gak bisa jemput lu ya, ekskul hari ini di cancel besok!" jelasnya.


Aku hanya mengangguk kan kepala ku, sebenarnya aku juga tidak tahu sejak kapan aku bisa bicara begini pada Tirta. Tapi kurasa dia ini benar-benar tidak buruk sebagai seorang kakak tiri. Aku hanya berharap ini bukan sandiwara nya saja.


Setelah selesai mengeprint tugas ku, dia menyerahkan flashdisk dan juga kertas-kertas itu padaku. Dia bahkan sudah mencetak masing-masing dua lembar, untuk ku dan Marco.


"Jangan lupa di kliping besok, dan jangan lupa kacang telur nya! sudah malam istirahat lah!" seru Tirta.


Aku langsung mengangguk lagi dan menaiki anak tangga menuju ke kamar ku di lantai dua.


Sebelum masuk ke dalam kamar, aku menoleh ke arah Tirta yang masih duduk di atas karpet dan mengetik sesuatu dengan laptopnya.


Beberapa detik setelah itu, aku kembali menghela nafas dan masuk ke dalam kamar. Ketika aku lihat ponsel ku yang masih aku charger. Ternyata ada puluhan misscall dari pak Yoga.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2