Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Di Tangkap Preman


__ADS_3

"Rasti... halo Rasti!" seru kak Tirta masih dapat aku dengar.


Tapi sayang sekali, ponsel ku keburu di rebut oleh Dinda, Vita juga terlihat segera berlari meninggalkan kami.


Aku tidak tahu apa yang sedang mereka semua rencanakan, tapi aku baru menyadari kalau Gugun salah satu dari mereka berlima sudah keluar dari kelas sejak lima belas menit sebelum ujian selesai. Tadi dia beralasan sakit perut.


"Balikin hape gue!" teriak ku pada Dinda tapi Friska menghalangi jalan ku. Dan Dinda memberikan ponsel ku pada Dino.


'Apa-apaan sih mereka!' geram ku dalam hati.


Mereka membuat ku kesal, ponsel itu kudapatkan setelah susah payah membujuk ayah untuk membelinya setelah aku menjatuhkan ponsel lamaku ke kolam ikan saat kami sedang berlibur ke rumah nenek Irma. Dan ponsel itu baru dua bulan bersama ku. Yang benar saja mereka mengambilnya begitu saja.


Tapi saat aku kesal dan menatap mereka dengan tajam, mereka malah tersenyum aneh. Friska maju semakin ke depan ku.


Dia tersenyum miring dan mendorongku. Tapi aku tak gentar. Suasana sudah cukup sepi saat ini dan aku memang benar-benar tidak takut pada mereka bertiga.


Aku melipat ujung lengan seragam sekolah ku.


"Hoh, mau main keroyokan? lu bertiga pikir gue takut apa? sini gue ladenin!" seru sambil memasang kuda-kuda.


Aku sungguh tidak takut pada mereka, memangnya kenapa kalau mereka bertiga. Hanya dua orang cewek sok manja dan juga satu pria melambai. Tidak akan membuatku babak belur kan.


Friska mendorong Dinda agar dia maju terlebih dahulu, Dinda langsung memegang kerah bajuku dan mencoba mencekik leher ku. Aku tidak mau kalah, aku menjambak rambutnya membuatnya berteriak kesakitan.


"Se*** lu ya, sakit be**!" pekik nya memaki ku sambil terus berusaha mencekik leherku.


Tapi aku masih mengalami kesulitan bernafas, aku masih tidak menyerah, aku menginjak kaki Dinda dengan kuat. Membuatnya mengerang kesakitan dan melepaskan cengkraman nya dari leher ku.


Aku memandang ke arah mereka bertiga dengan waspada. Aku tidak menyangka jika seperti nya mereka sangat niat melakukan sesuatu yang berbahaya. Bahkan Dinda saja sampai beneran mencekik. Aku rasa ini tidak akan sama seperti perkelahian anak SMA biasa. Dari mata mereka terlihat tidak ada keraguan untuk menyakiti ku.

__ADS_1


Dino dan Friska mulai maju, aku yang merasa sedikit pusing memilih untuk berlari menghindar dari mereka.


"Sial, tuh orang beneran mau bunuh gue apa! gue kira bakalan cakar-cakaran terus jambak-jambakan kek biasanya gue berantem. Parah ini mah, sakit leher gue!" keluh ku sambil terus berlari dengan cepat menuju keluar gerbang sambil memegangi leherku.


Aku tidak tahu semua ini sudah mereka rencanakan atau bagaimana, tapi tidak ada pak Anteng di gerbang. Dan yang lebih parah, baru saja aku melihat Panji memboncengkan Vita dengan motornya.


'Astaga, mereka pasti udah ngerencanain ini semua. Mampus gue!' batin ku sambil terus berlari keluar.


Dan sialnya lagi ketika aku berlari hendak menuju ke tempat ramai, tangan ku di tarik oleh seseorang dan orang itu bahkan membekap mulut ku. Tidak ini bukan hanya satu orang, ini adalah ke empat preman berbadan besar itu.


Mataku terbelalak, ketika salah satu dari mereka mengangkat tubuh ku dan membawa nya seperti karung beras di atas pundak salah satu preman yang berkepala plontos. Tangan ku masih terus memberontak, tapi sayangnya aku tidak bisa menjambak orang ini, karena dia tidak punya rambut.


Sementara mulutku di bekap salah seorang lagi, merek berjalan dengan cepat. Aku di bawa ke gang kecil yang sepi di dekat sekolah, aku terus memikirkan cara untuk bisa lepas dari orang-orang ini. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku. Bagaimana kalau mereka menjual jantung ku, atau ginjal ku. Aku langsung menggelengkan kepala ku mengusir semua pikiran itu. Aku menggigit kuat tangan orang yang membekap mulut ku.


'Sial, bau ikan asin!' keluh ku


Tubuh tipis ini membuatku gerakan ku seringan kapas. Aku segera berlari ke belakang ketika ada kesempatan. Aku terus berlari sambil melihat ke arah belakang, mereka juga mengejar ku dengan cepat. Tapi karena tubuh mereka besar-besar aku sedikit bisa lebih jauh dari mereka.


"Ayo Rasti lari yang kencang kalau mau selamat!" gumam ku lagi sambil terus berlari tak tentu arah.


Brukk


"Augh!" pekik ku karena aku terjatuh setelah terpental sedikit karena menabrak sesuatu.


Pertama kali aku berpikir itu mungkin tembok, tapi ternyata aku salah. Yang aku tabrak itu bukan lah sesuatu, saat aku melihat ke arah depan dan ingin mengetahui apa benda yang aku tabrak. Ternyata itu benar-benar bukan sesuatu tapi seseorang. Dan dua orang lain di belakang nya.


Mataku terbelalak ketika melihat bahwa ternyata yang aku tabrak itu adalah orang yang sama yang aku lihat tadi pagi.


Glek

__ADS_1


Aku menelan saliva ku dengan susah payah.


'Habis sudah, habislah gue sekarang!' batin ku yang merasa sudah tidak ada lagi jalan ku melarikan diri.


Suara derap langkah berhenti dari arah belakang ku, ketika aku menoleh itu adalah ke empat preman itu.


'Tuhan, tolong Rasti ya Tuhan. Rasti janji kalau Rasti selamat dari sini. Rasti bakalan nurut sama ayah dan ibu!' aku memejamkan mataku dan berdoa.


Aku tahu saat ini hanya keajaiban lah yang dapat membantu ku keluar dari kesulitan ini.


"Heh, siapa kalian?" tanya para preman berbadan besar di belakang ku.


Aku langsung membuka mataku, dan menoleh ke arah mereka.


'Apa mereka tidak saling mengenal?' tanya ku dalam hati.


Para pria berbaju compang-camping di depan ku yang berjumlah tiga orang itu maju, aku sudah gemetaran. Aku sangat ketakutan. Semakin dekat langkah mereka ke dekat ku, semakin pucat dan gemetaran telapak tangan ku.


Tapi ketika mereka bertiga maju dan sudah sejajar dengan ku, mereka malah melewati ku. Aku sangat bingung, aku bahkan celingak-celinguk tidak mengerti. Aku langsung berusaha bangun, ketika mereka bertiga terlihat menghampiri ke empat preman yang tadi mengejar ku.


Tapi sialnya kaki ku seperti sudah tidak dialiri darah lagi, rasanya seperti kebas dan sangat lemas.


'Kenapa harus disaat seperti ini sih!' keluh ku dalam hati.


"Minggir, gue gak ada urusan sama lu!" ucap preman berkepala plontos itu dengan nada tinggi.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2