Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Mencoba Menjelaskan Kesalahpahaman


__ADS_3

Yoga Adrian POV


"Bukan itu pak! tidak kah bapak merasa bersalah pada calon istri bapak?" tanya Rasti padaku ketika aku bertanya alasannya memintaku menjauhinya setelah aku menyatakan perasaan ku padanya ketika di rumah ku dulu.


Aku sempat terdiam, menatap wajah sendu Rasti dan matanya yang berkaca-kaca. Aku mengira dia marah karena aku mengungkapkan perasaan ku dengan mencium keningnya waktu itu. Tapi ternyata dia menjauhiku karena mengira aku sudah punya calon istri.


"Rasti maksud mu calon istri ku? aku tidak mengerti?" tanya ku padanya.


Karena memang aku tidak mengerti apa yang dia maksud, dia mengatakan tentang calon istri ku, tapi aku tidak punya calon istri. Apa ada yang mengatakan sesuatu yang tidak benar padanya.


Rasti hanya terdiam, dia menundukkan kepalanya dan tangannya terlihat mengepal di sisi kanan dan kirinya.


Atau jangan-jangan dia salah paham akan sesuatu. Aku mencoba mendekat ke arah Rasti, ku arah kan tangan ku perlahan menjangkau tangannya, aku menyentuhnya perlahan, dia melihat ke arah tangan ku yang telah menggenggam tangannya.


Dia tidak menolak nya, aku tahu seperti nya dia tengah salah paham padaku.


"Rasti, apa kamu mengira aku sudah punya calon istri dan akan menikah?" tanya ku perlahan dengan lembut padanya.


Aku menatap nya dengan lembut, tapi dia sama sekali tidak melihat ke arah ku. Matanya benar-benar sedang menahan tangis, hingga aku yakin jika dia berkedip maka air matanya akan langsung jatuh ke pipinya. Aku meraih dagunya dengan lembut dan mengarahkan pandangannya agar bisa melihat ku.


"Kamu salah paham, aku sama sekali belum punya calon istri. Dan aku pun tidak berencana untuk menikah dalam waktu dekat ini!" jelas ku padanya masih dengan nada yang lembut agar dia tidak menghindar.


Tapi beberapa detik dia terdiam dan seperti sedang berfikir, dia malah lantas menghentakkan tangannya cukup kuat, hingga genggaman ku terlepas dari nya.

__ADS_1


"Bapak gak usah pura-pura lagi, saya tahu bapak pasti bohong kan. Bapak mau main-main dulu sama saya sebelum bapak menikah dan bapak gak bisa selingkuh lagi setelah itu, iya kan?" tanya nya dan seperti nya itu bukan sebuah pertanyaan. Aku merasa dia sedang menuduh ku.


Aku benar-benar yakin kalau gadis yang aku sukai ini sudah salah paham. Dan aku tidak akan melepaskannya jika belum menjelaskan semuanya sampai kesalahpahaman ini berakhir.


Ketika dia kembali berbalik dan akan melangkah pergi, aku menahannya dengan cepat. Aku memeluk nya dari belakang. Kurasa akal sehat ku memang tidak bisa bekerja dengan baik jika berada di dekat Rasti. Aku bahkan mengabaikannya dimana kami sekarang berada dan bagaimana jika ada yang melihat kami. Yang aku pikirkan hanyalah aku tidak ingin membiarkan dirinya pergi sebelum dia berhenti salah paham padaku.


"Pak Yoga lepas, kalau bapak gak lepasin saya, saya bakal teriak!" bentak nya sambil memberontak berusaha melepaskan diri dari pelukan ku.


"Saya akan lepaskan, tapi kamu janji tidak pergi dan dengarkan penjelasan saya!" tegas ku pada nya.


Aku merasa dia perlahan berhenti memberontak, aku melepaskannya dan aku berjalan maju sampai bisa berada di hadapannya dan menghadap ke arahnya.


"Kamu tahu dari mana saya punya calon istri?" tanya ku lagi padanya dan dia memalingkan wajahnya ketika aku menatap ke arahnya.


"Seorang model bernama Sofie Almira, dia calon istri bapak kan? dia memposting foto saat kalian feeting baju pengantin!" ucap nya dengan nada suara bergetar. Saat dia kembali menatap ku air matanya benar-benar telah jatuh.


"Jadi bapak tolong jangan seperti ini lagi pada saya, kalau bapak memutuskan untuk menikahi seseorang maka berikan seluruh cinta bapak untuk nya, jangan...!"


Aku sudah tidak tahan lagi mendengar dia bicara sambil menangis seperti itu. Aku menariknya dengan cepat ke arah ku dan memeluknya.


"Sayang, kamu salah paham! Sofie Almira itu bukan akan menikah dengan ku. Dia itu calon kakak ipar ku, yang akan menikah dengannya adalah kakak kandung ku. Namanya Yoseph Adrian!" jelas ku sambil memeluknya.


Aku menarik sedikit tubuh ku lalu melihat apa reaksi yang di tunjukkan oleh Rasti.

__ADS_1


"Ikut aku ya, akan ku tunjukkan padamu!" ucap ku sambil menyeka air mata di wajah nya.


Dia hanya diam, aku tahu dia sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama padaku. Dan aku akan menyingkirkan semua kesalahpahaman ini agar hubungan kami kembali menjadi baik-baik saja dan aku tidak harus menjauhi Rasti. Karena jujur saja itu memang sulit untuk kulakukan.


Setelah aku menghapus semua air mata yang ada di wajahnya, aku segera menggandengnya ke arah tempat parkir mobil para guru. Langkah ku terhenti, ketika aku merasa Rasti menahan tangan ku dan berhenti.


"Rasti, ada apa? kita benar-benar harus pergi ke suatu tempat untuk menghilangkan salah paham mu padaku!" jelas ku pada Rasti.


Rasti terlihat bingung, seperti nya dia ragu untuk ikut atau tidak. Karena ini masih istirahat pertama, dan masih ada enam pelajaran lagi yang menunggu. Tapi aku ingin segera menjelaskan kesalahpahaman yang ada antara kami.


"Bapak jalan duluan saja, saya akan menunggu di depan gerbang!" ucap nya tanpa melihat ke arah ku dan segera berlari menjauh.


Aku menghela nafas berat, tapi aku yakin kalau dia tidak melakukan itu untuk menghindar dariku. Aku percaya dia memang mengatakan kebenaran dan sedang menunggu ku di depan gerbang. Aku langsung masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil ku, aku mengabari pak Tanto, guru yang mejanya ada di sebelah mejaku di rumah guru. Dan meminta dia mengatakan pada kepala sekolah kalau aku mendadak sakit perut dan pulang.


Aku tahu ini tidak benar, tapi ada hal yang menentukan hidup ku di masa depan yang sedang aku perjuangkan. Aku meletakkan ponsel ke dalam saku ketika selesai mengirim pesan pada pak Tanto. Lalu melajukan mobil menuju ke luar gerbang, aku menepi di dekat halte di depan sekolah, aku melihat sekeliling dan aku tidak menemukan Rasti dimana pun.


Terus terang saja aku sempat kecewa, aku memejamkan mataku, mencoba menyingkirkan pikiran kalau Rasti hanya mengatakan akan menunggu di depan gerbang untuk bisa menghindari ku.


"Aku akan menunggunya, aku tahu dia akan datang!" gumam ku meyakinkan hatiku yang sebenarnya terasa sedih dan sesak.


Aku akan menunggunya, aku yakin dia sedang berjalan menuju ke tempat ini.


Yoga Adrian POV end

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2