Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Ancaman Friska


__ADS_3

Keesokan harinya, aku bangun dengan malas. Itupun setelah ibu Rita membangun kan ku sebanyak tiga kali.


"Ada apa? kamu semalam belajar sampai larut malam?" tanya Bu Rita yang terlihat cemas.


Aku penggalangan kepalaku dengan cepat berkali-kali.


"Tidak Bu, semalam aku tidak bisa tidur. Aku takut kalau preman itu datang lagi ke sekolah bagaimana? bahkan saat aku memejamkan mata yang terbayang para preman itu Bu!" keluh ku pad ibu Rita.


Apa yang aku katakan itu memang benar, maka semalam aku mimpi diculik. Rasanya aku tidak ingin keluar dari rumah ini, dan tidak mau ke mana-mana lagi.


Ibu Rita membelai rambutku dengan lembut dan merapikannya.


"Kamu sedang ujian sayang, kamu harus yakin kalau tidak akan terjadi apa-apa padamu, percayalah! Tuhan akan bersama dengan orang baik dan jujur seperti kamu!" ucap ibu Rita sambil tersenyum.


Aku memeluk ibu Rita, setidaknya aku merasa aman untuk saat ini. Aku langsung mandi dan bersiap-siap setelah ibu Rita keluar dari dalam kamar dan mengatakan sarapan sudah siap.


Setelah rapi dan sudah memakai baju seragam dan juga sepatu, aku langsung meraih tas ransel ku dan segera keluar dari dalam kamar lalu menuruni anak tangga satu persatu.


"Selamat pagi!" sapa ku pada ayah, ibu dan juga kak Tirta yang sudah terlebih dahulu berada di meja makan, di kursi mereka masing-masing.


"Selamat pagi!" jawab mereka semua.


"Rasti, bagaimana ujian mu?" tanya ayah ku saat aku batu saja menarik kursi ku dan hendak duduk.


"Semua berjalan baik ayah!" jawab ku lalu duduk dan mulai menyantap roti lapis yang ada di piring di atas meja di hadapan ku.


"Berapa jumlah soalnya?" tanya ayah ku mendetail.


Aku tidak terkejut, karena setiap aku ujian ayah memang akan selalu bertanya seperti itu. Berapa jumlah soalnya dan berapa soal yang kira-kira aku yakin menjawab dengan benar, nanti berapa soal yang kira-kira aku menjawabnya dengan hanya cap cip cup. Padahal aku tidak pernah cap cip cup, aku selalu menjawabnya dengan satu huruf yang sama. Yaitu pilihan ganda A semua.


"Kali ini Rasti yakin ayah, kan udah belajar!" jawab ku mencoba bersikap dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Ayah tersenyum dan aku senang sekali melihatnya.


"Bagus, kamu memang harus optimis seperti itu. Ayah sudah dengar dari ibu kalau kemarin sedikit ada masalah, ayah berpikir untuk pergi ke sekolah dan meminta pihak sekolah mengadakan pertemuan dengan orang tua Friska itu, bagaimana menurutmu?" tanya ayah.


Aku berpikir sebentar.


"Tapi kita kan gak punya yah?" tanya Tirta menyela saat aku baru saja akan membuka mulutku untuk mengeluarkan suara.


Dan aku rasa apa yang dikatakan oleh Tirta itu memang benar, kami memang tidak punya cukup bukti kalau preman-preman yang kemarin itu adalah suruhan Friska.


"Ayah tenang saja, Tirta akan mengantar dan menjemput Rasti tepat waktu, Tirta akan mastikan anak ayah ini aman!" ujar Tirta sangat yakin.


Sebenarnya aku juga cukup yakin padanya karena kak Tirta memanglah pemegang sabuk hitam di taekwondo. Tapi aku juga heran kenapa hati ku masih saja tidak tenang ya, seperti mencemaskan sesuatu begitu.


"Baiklah kalau begitu, Rasti kamu juga jangan keluar sebelum kakak kamu jemput ya!" perintah Ayah dan aku langsung mengangguk kan kepala ku dengan cepat.


Setelah selesai sarapan bersama, Tirta seperti biasanya mengantarkan aku berangkat ke sekolah. Sepanjang jalan dia terus saja menanyakan kepada aku apakah aku masih merasa takut atau tidak. Dan aku juga tidak ingin membuat nya khawatir, lalu aku katakan pada Tirta kalau aku baik-baik saja, padahal sebenarnya aku ini masih takut.


"Jangan sampai masalah ini mengganggu konsentrasi lu pas ujian, pacar lu juga kan ada di sekolah. So far aman lah!" seru Tirta lagi.


Aku mengangguk paham.


"Iya, lu juga hati-hati di jalan ya kak!" ucap ku pada Tirta.


Aku menunggu sampai Tirta menjalankan motornya, tapi samar-samar aku melihat di seberang jalan ada beberapa orang yang sepertinya melihat ke arahku. Tapi mereka bukan preman-preman yang kemarin, kali ini badan mereka kurus kurus, tapi pakaian mereka juga terlihat seperti pakaian preman.


Aku makin merinding di buatnya. Aku langsung berbalik dan memutuskan untuk berlari secepatnya memasuki pintu gerbang.


'Hih, banyak amat sih anak buahnya bokapnya Friska!' keluh ku dalam hati.


Saat aku sedang berjalan cepat menuju ke kelas. Ponsel ku berbunyi, dan dengan cepat aku membuka tas lalu meraih ponselku dari dalamnya.

__ADS_1


Ada pesan dari kak Yoga.


*Semangat ya sayang, hari ini aku tidak mengawas di ruangan mu, tapi cintaku tetap akan selalu bersama mu*


Aku tersenyum membaca pesan yang menurutku sangat membuatku terbantu, setidaknya pesan dari kak Yoga ini membuatku sejenak melupakan rasa parno sama preman-preman yang aku lihat barusan di depan.


Masih sambil tersenyum aku membalas pesan kak Yoga.


*Iya, aku percaya*


Balas ku singkat lalu menyimpan kembali ponsel ke dalam tas. Saat aku akan berjalan masuk ke kelas, rombongan Friska dan teman-temannya sudah berdiri di depan pintu dan seperti menghadangku untuk masuk.


Aku sungguh tidak ingin mencari keributan pagi pagi, kalau hanya dengan mereka berlima aku sih tidak takut. Apalagi ini masih di area sekolah, dan kami sama-sama murid. Apa yang musti aku takutkan.


"Minggir!" ucapku dengan tegas.


Setelah aku mengatakan kata itu tidak ada satupun dari mereka yang bergerak dari tempatnya.


"Ck... masih pagi udah cari masalah aja!" gumam ku terang-terangan di depan wajah Friska.


Dia lalu tersenyum miring dan melangkah maju hingga jarak kami benar-benar dekat.


"Lu, boleh berasa di atas angin sekarang. Tapi jalan beberapa jam lagi, lu pasti bakalan berada di tempat rendah bahkan paling rendah di bumi ini, sampai lu bahkan nggak kan berani muncul di hadapan siapapun!" bisik nya di telinga ku dan jujur saja itu membuat ku merinding.


Mereka lalu berjalan bersama-sama masuk ke dalam kelas dengan menatap tajam ke arah ku satu persatu dan dengan senyuman yang menyeringai, bahkan Dino terlihat menggerakkan mulutnya komat kamit seperti sedang mengatakan sesuatu tapi aku tak mengerti apa yang dia katakan.


Aku menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan.


Aku hanya mengingat kalimat yang disampaikan oleh Ibu Rita tadi pagi, bahwa Tuhan akan selalu bersama dengan orang yang berbuat benar dan jujur. Karena aku melakukan hal yang benar, aku yakin Tuhan pasti akan melindungi ku.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2