Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Bu RT


__ADS_3

Beberapa kali aku masih berusaha untuk menghubungi pak Yoga. Tapi tidak membuahkan hasil. Aku jadi khawatir.


"Kenapa gak di angkat ya?" gumam ku.


Aku masih terus menghubungi, tapi hasilnya sama. Tidak ada jawaban.


"Samperin aja apa ya?" gumam ku lagi.


Aku langsung meraih tas selempang Kinyang berwarna putih dan memasukkan ponsel ku ke dalamnya. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah pak Yoga.


Saat keluar dari dalam kamar, aku berpapasan dengan Tirta yang baru saja naik ke lantai dua.


"Mau kemana?" tanya nya.


Aku berpikir sejenak, kalau aku katakan aku akan pergi ke rumah pak Yoga. Dia pasti akan melarang ku. Tapi aku benar-benar mencemaskan keadaan pak Yoga sekarang. Tapi kemudian aku punya sebuah ide yang tidak mungkin Tirta mau mengantar ku ke sana.


"Mau ke rumah Nina, dia mau ngajak belajar bareng. Mau ikut?" tanya ku memancing Tirta.


Aku tahu kalau Tirta itu seperti agak segan atau takut pada Nina, karena teman ku itu terlihat memang begitu menyukai Tirta, dan selalu bersikap aneh kalau di dekat Tirta. Jadi Tirta pasti akan bergidik kalau aku menyebut nama Nina.


Dan benar saja reaksi pertama yang di tunjukkan oleh Tirta adalah dia menggidikkan bahunya.


"Makasih lah, lu naik taksi aja. Lu kan belum sehat bener, nih gue kasih ongkos!" ucap nya sambil memberikan dua lembar uang pecahan seratus ribuan padaku.


Aku langsung menyambar uang itu dengan cepat, kapan lagi di kasih uang taksi sama Tirta.


"Oke makasih ya!" ucap ku sambil menuruni anak tangga dengan cepat.


"Eh pelan-pelan, pulangnya jangan malem-malem!" seru Tirta lagi namun aku sudah berlalu meninggalkannya.


Aku berjalan ke arah luar komplek, dan seseorang memanggilku. Aku bingung mau menghampiri nya atau tidak.


"Nak Rasti!" panggil Bu RT lagi.


Aku menghela nafas dan berbalik.


"Saya Bu?" tanya ku sambil menunjuk ke arah diriku.

__ADS_1


Aku hanya berbasa-basi, karena jelas tadi aku mendengar memang namaku yang Bu RT sebutkan.


Bu RT mengangguk dan melambaikan tangannya memanggil ku agar menghampiri nya. Sebenarnya aku sedikit malas, karena aku benar-benar mencemaskan pak Yoga saat ini yang tidak bisa di hubungi.


Tapi dengan langkah cepat akhirnya aku menghampiri Bu RT.


"Bu RT ada apa?" tanya ku sopan dengan senyum seadanya.


"Rasti kamu mau kemana?" tanya Bu RT.


"Mau ke rumah teman Bu, mau belajar bareng!" jawab ku berbohong pada Bu RT.


"Rasti, kamu belajar sama Panji aja ya, kasihan tahu dia masih keliyengan itu kepalanya katanya!" ucap Bu RT menjelaskan kondisi Panji.


Aku jadi bingung, harus bagaimana. Rasanya tidak enak juga menolak permintaan Bu RT.


"Tapi Bu RT, Rasti sama Panji itu beda jurusan, Rasti anak IPS, Panji anak IPA!" jelas ku dan aku harap apa yang aku katakan pada Bu RT ini bisa membuatnya mengerti.


Tapi sepertinya aku salah, dia malah menarik lenganku agar ikut masuk ke dalam rumahnya.


"Bu RT, tapi Rasti mau pergi ke rumah temen... nanti dia...!"


Aku hanya bisa menghela nafas, karena sungguh tak enak hati mau menolak permintaan Bu RT. Ketika masuk ke dalam aku menemukan Panji yang sedang tiduran di sofa ruang tamunya. Aku lihat dia masih memegangi kepalanya, saat ibu RT meminta ku duduk dan dia pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan yang tadi dia tawarkan, aku langsung menghampiri Panji.


"Sakit kelapa lu belum sembuh Panjul?" tanya ku dan langsung duduk di samping nya.


Panji membuka matanya dan langsung melihat ke arah ku, dia berusaha untuk bangun dan duduk tapi sepertinya tampak oleng. Aku lantas langsung bangun dan membantunya.


"Elah Ras, orang jenguk orang sakit tuh bawa apaan lah gitu, bawa buah kek, bawa biskuit kek, atau bawa apalah! ni tangan ku keliatan nganggur aja!" keluhnya melihat ke arah ku sekilas lalu memejamkan mata nya dan menyandarkan kepala nya pada sandaran sofa lagi.


Kelihatannya dia memang masih pusing. Aku jadi kasihan sekali padanya. Panji yang biasanya tengil dan ceria malah jadi seperti ini.


"Bukannya kemaren kata dokter lu udah gak papa ya, emang kenapa sih kok kayaknya pusing banget gitu?" tanya ku.


"Ck... ini semua gara-gara lu!" ucapnya terlihat kesal.


Aku langsung terkesiap, bagaimana mungkin gara-gara aku. Kemarin saja seharian aku di rumah sakit. Lalu apa hubungan nya dengan ku.

__ADS_1


"Kok gue, emang gue ngapain?" tanya ku bingung.


Panji langsung membenarkan posisi duduknya, dan menatap ku lurus.


"Lu kenapa gak bilang sama gue, kalau waktu lu ngambil tas di kelas gue, lu di aniaya sama Kiki?" tanya nya memasang wajah serius.


"Di aniaya, elah lebay amat. Di dorong doang gue, siapa yang ngadu sama lu?" tanya ku pada Panji yang masih terlihat serius.


"Tio yang jenguk gue kemaren, pas gue ke rumah lu. Bibi bilang lu sama Tirta lagi pergi gak ada di rumah, gue balik lagi malem gak ada juga. Gue pikir lu kenapa-napa! Jadi gue datengin tuh si Kiki, sialnya di rumah nya ada sepupunya yang tentara itu, waktu gue maki maki tuh si Kiki, saudaranya itu gak terima, abis gue di gebukin!" jelas Panji memasang raut kesal.


"Pffttt!" aku benar-benar ingin tertawa melihat ekspresi Panji.


"Eh malah ketawa lu triplek plywood, gue tuh di gebukin gara-gara mau menegakkan keadilan buat lu, malah ketawa!" keluhnya lagi-lagi memprotes apa yang aku lakukan.


Aku langsung berdiri dan pindah duduk di sebelahnya, mengangkat tangan ku perlahan dan memijit kepalanya.


"Oke, maafin gue ya. Dan makasih lu dah ngebelain gue meskipun itu sebenarnya gak perlu...!"


"Rasti!" sela Panji lagi-lagi memprotes.


"Iya iya, sorry. Sini gue pijitin kepala lu biar tambah parah sakitnya...!"


"Rasti dudul!" omelnya padaku.


"Wah, anak ibu sama calon mantu, romantis banget deh!" seru Bu RT dari arah dapur dengan sebuah nampan berisi dua mangkuk tekwan yang masih mengepulkan asap.


Aku langsung menarik tangan ku dan menggeser duduk ku sedikit menjauh dari Panji.


"Bu RT, Rasti tuh cuma...!"


"Gak papa Rasti, lanjutin aja. Sambil di cicipi ya tekwan buatan calon mertua!" ucap nya sambil terkekeh pelan dan masuk ke dalam lagi.


"Ck... Mak lu kenapa?" tanya ku heran pada Panji.


"Udah lah biarin aja, makan tuh tekwan buatan calon mertua!" seru Panji membuat ku mendengus kesal.


Tapi sayang juga kalau makanan yang terlihat enak itu di lewatkan begitu saja.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2