Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Kebersamaan yang Indah


__ADS_3

Aku masih terdiam di tempat ku, dokter Andika baru saja keluar dari dalam ruang rawat ini. Tapi ucapannya ketika keluar itu malah membuatku makin bingung, aku sama sekali tidak mengerti maksudnya.


Tadi dia bilang


"Rasti, mungkin dalam beberapa waktu ke depan kita tidak akan bertemu, tapi aku janji akan kembali dan menemui mu lagi!" begitu lah kalimat terakhir yang dia ucapkan sambil mengelus kepalaku perlahan. Setelah itu dia pergi.


Aku tidak mengerti apa maksudnya, apa dia akan pergi jauh? kalau begitu kenapa dia bilang berjanji akan kembali. Kalau dia mau pergi tentu saja itu haknya, apa karena kami sekarang adalah teman maka dia bicara begitu padaku.


"Rasti!" panggil sebuah suara dari orang yang sejak tadi aku cemaskan.


Aku langsung menoleh.


"Kak Yoga!" ucap ku senang. Aku senang dia kembali dan dalam keadaan baik-baik saja.


Aku memperhatikan wajahnya dan tidak ada yang terluka, akhirnya aku bisa menghela nafas lega. Tapi setelah memastikan keadaan pak Yoga aku kembali menoleh ke arah belakang pak Yoga, cukup lama. Tapi aku tidak menemukan Tirta di sana.


"Kak Tirta mana pak?" tanya ku pelan sambil terus melihat ke arah pintu.


Aku langsung menatap pak Yoga.


"Apa yang terjadi? apa kalian bertengkar? dimana kak Tirta?" tanya ku lagi karena pak Yoga belum juga angkat bicara.


Pak Yoga kemudian menarik kursi dan akhirnya duduk di sisi sebelah kanan ku.


"Yoga pergi ke kampus! ada temannya yang menghubungi nya dan mengatakan kalau dosen pembimbing nya mencarinya!" jawab pak Yoga sambil memegang tangan ku dengan lembut.


Aku sedikit mengernyit heran, benarkah tidak ada pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Bukannya aku berharap mereka bertengkar, tapi tadi Tirta keluar dengan sangat emosi.


"Tidak ada pertengkaran Rasti, aku dan Tirta bicara baik-baik. Aku bersyukur dia lebih dewasa dari usianya, dia mau mendengarkan penjelasan ku." lanjut pak Yoga lagi.

__ADS_1


Dan apa yang baru saja pak Yoga katakan itu membuatku kembali dapat menghela nafas dengan lega.


"Kak Yoga terlihat sangat lelah, kak Yoga tidak tidur ya? sebaiknya kak Yoga pulang dan beristirahat. Bukan kah siang ini kak Yoseph akan menikah, kamu harus tampil segar!" ucap ku panjang lebar dan pak Yoga hanya terus memeluk tangan ku yang dia genggam sangat erat.


"Aku tidak akan hadir di sana Rasti, aku bahkan tidak akan menginjakkan kaki ku di rumah itu lagi!" ujar pak Yoga. Dan jujur saja, apa yang dikatakan oleh pak Yoga membuat ku terkesiap.


Aku menjadi merasa bersalah karena apa yang dia lakukan pada keluarga.


"Semua itu karena aku?" tanya ku lirih.


Kalau semua itu terjadi karena aku, alangkah berdosa nya aku telah membuat seorang anak jadi bersikap seperti ini pada kedua orang tua nya, dan alangkah berdosa nya aku membuat hubungan kedua kakak adik jadi seperti ini.


Pak Yoga mengangkat kepalanya dan menggelengkan kepalanya perlahan.


"Bukan karena kamu Rasti, semua ini karena kebodohan ku. Tapi sudahlah, jangan pikirkan semua itu. Dokter mengatakan kalau kamu tidak boleh berfikir yang berat-berat. Oh ya, tadi aku sudah memberitahukan pada Marco kalau kamu sakit dan tidak bisa masuk sekolah hari ini, aku minta Marco ke rumah mu dan mengambil tugas proposal kalian. Apakah aku melakukan hal yang benar?" tanya pak Yoga padaku.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Aku bahkan melupakan hal itu, tapi pak Yoga malah ingat dan membuat tugas ku tidak sia-sia di kerjakan.


Tapi dari raut wajah pak Yoga seperti nya apa yang aku cemaskan memang sudah terjadi.


"Tadi dia bertanya, jadi aku mengatakan kalau kamu di rawat di rumah sakit ini!" jawabnya pelan dan aku tahu kalau pak Yoga seperti nya sangat merasa bersalah karena sudah mengatakannya pada Marco.


Aku hanya tersenyum lagi.


"Ya sudah tidak apa-apa kak, masalahnya aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan mu tapi...!" aku menghentikan ucapan ku.


Aku baru sadar kalau apa yang aku katakan ini membuat tatapan pak Yoga berubah. Yang tadinya begitu lembut, kini sepertinya lebih terlihat tegas dan juga dalam.


"Benarkah?" tanya nya dengan suara yang agak berat, sedikit serak.

__ADS_1


Itu suara yang sama seperti saat pak Yoga mencium ku di mobilnya. Jantung ku mulai berdetak sangat kencang. Seperti nya aku sudah mengatakan kalimat yang salah, seperti nya aku sedang membangunkan buaya yang kelaparan yang sedang tertidur.


Benar saja, tak lama setelah bertanya. Pak Yoga mulai berdiri dan memutar panel otomatis untuk mengatur posisi ranjang pasien yang aku duduki. Dia memutarnya menjadi posisi berbaring, dan aku yang sedang bersandar pun ikut berbaring. Aku menelan saliva ku dengan susah payah ketika kedua tangan lembut dan hangat pak Yoga menangkup kedua pipi ku.


Dan bibir kami pun kembali menyatu, semakin lama dan semakin dalam. Aku hanya diam, aku bahkan sampai gemetar karena pak Yoga tidak memberikan ruang untuk ku menghirup udara segar. Ciuman ini lebih lama dari yang pernah pak Yoga lakukan di dalam mobilnya, sesekali dia melepaskan tautan bibir nya dan membiarkan aku mengambil nafas, tapi tak lama dia kembali membekap nya lagi. Tangannya bahkan sudah berpindah dari pipi ke lengan ku.


Ceklek


"Oh, maaf!" sebuah suara membuat pak Yoga segera menjauhkan dirinya dari ku. Dia segera mengusap bibir ku yang basah karena ulahnya dengan tangan nya.


"Maaf, saya harus memeriksa apakah infus pasien masih ada atau sudah habis!" kata suster yang malah terlihat canggung saat berbicara.


Pak Yoga sedikit menjauh dan membiarkan suster itu melihat dan memeriksa selang infus serta infus yang tergantung di samping kirim ku.


"Em, seperti nya masih. Saya akan periksa satu jam lagi!" ucap nya dan segera keluar dari ruang rawat ku dengan terburu-buru.


Aku terkekeh saat pak Yoga menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak benar-benar gatal.


"Kak Yoga terlihat seperti seorang pencuri uang tertangkap basah!" ucap ku pelan sambil terkekeh.


Pak Yoga kembali mendekatiku.


"Apa masih bisa kita lanjutkan yang tadi?" tanya nya dengan malu-malu.


Aku membuka mulut ku membentuk sebuah huruf O.


"Tidak... tidak. Kak, ini di rumah sakit. Tidak mau!" ucap ku menjawab pertanyaan yang juga adalah permintaan dari pak Yoga itu dengan tegas.


"Jadi kalau tidak di rumah sakit, boleh?" tanya nya lagi membuatku membelalakkan mataku padanya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2