Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Kedatangan Yoseph dan Sofie


__ADS_3

Aku masih berusaha untuk mencerna semua ucapan pak Yoga. Cara nya menjelaskan sebenarnya lebih mudah di pahami daripada penjelasan Bu Mulyani. Tapi kurasa ini memang karena dia hanya menjelaskan padaku, jadi dia hanya fokus padaku. Dan itu membuat semua penjelasan nya hanya di tujukan padaku, ibaratnya ya, kalau WiFi hanya tersambung padaku, jadi lancar jaya gitu.


Dari tiga halaman tugas yang harus ku kumpulkan besok, aku sudah mengerjakan dia lembar halaman. Dan ini adalah rekor bagiku. Dimana aku mengerjakan nya hanya dalam waktu satu jam lebih lima belas menit. Jika hanya sendiri dan tanpa bantuan pak Yoga. Aku yakin semalaman pun aku tidak akan mengerjakan lebih dari setengah halaman.


Tapi di tengah kami sedang mengerjakan tugas, ponsel pak yoga terus berdering. Dia melihat ponselnya itu beberapa kali, tapi setelah melihatnya dia seperti nya me-reject panggilan itu. Dan hal itu membuatku semakin tidak fokus saat belajar.


"Ya udah sih pak, kalau emang penting dan gak pengen saya dengar percakapan bapak dengan seseorang yang dari tadi terus telpon bapak itu, bapak terima telponnya jauh-jauh sana!" ucap ku kesal.


Aku juga tidak tahu kenapa aku merasa sangat kesal, itu mungkin adalah telepon dari calon istri nya itu. Tapi kalau memang iya, masa' sih dia reject dari tadi.


Aku malah jadi bingung sendiri, dan yang lebih membuat aku tidak mengerti dia malah mematikan ponsel nya.


"Lho kok dimatiin?" tanya ku refleks. Aku langsung menutup mulut ku sendiri dan memalingkan wajah ku.


'Ih, ngapain juga gue nanya. Ntar gue disangka kepo lagi. Huh!' batin ku merutuki kebodohan ku barusan..


Aku memalingkan wajah, tapi pak Yoga malah seperti berpura-pura tidak mendengarkan pertanyaan ku. Dia malah meraih buku lagi dan menerangkan bagian lain yang belum aku tulis di buku PR ku.


"Biasakan untuk memberi jarak sekitar dua baris, saat akan menuliskan kesimpulan!" jelasnya lagi padaku.


Aku jadi merengut, seperti nya dia tidak berpura-pura mengabaikan aku. Tapi memang benar-benar mengabaikan aku. Huh, jadi kesal sendiri. Tapi bukannya ini yang aku mau.


Satu jam selanjutnya aku sudah tidak sanggup lagi melihat banyak tulisan yang ada di buku paket. Semua tulisan itu seperti berputar, dan membuat kepalaku rasanya sangat berat.


Yoga Adrian POV


Aku masih menerangkan lima nomer tugas terakhir, tapi aku merasa suasana nya makin hening. Saat aku menjelaskan aku memang lebih fokus pada buku paket, hal itu bukan tanpa alasan aku lakukan. Karena jika aku melihat ke arah Rasti, aku malah tidak akan fokus. Dia memang sudah memintaku menjauh dan bersikap layaknya guru dan murid saja. Dan aku sedang berusaha untuk melakukan itu.


Aku bahkan mengabaikan beberapa pertanyaan nya padaku jika itu tidak ada hubungannya dengan pelajaran yang sedang kami bahas. Tapi aku bisa melihat sedikit kekecewaan dari raut wajah Rasti, tapi mungkin itu hanya pandangan ku saja.

__ADS_1


"Itu tadi jawaban untuk soal nomer 14, apa kamu sudah mengerti?" tanya ku pada Rasti tanpa melihat ke arahnya.


Satu detik, dua detik, tiga detik dan aku tidak mendengar jawaban Rasti. Aku menurunkan buku paket yang menghalangi pandangan ku pada Rasti. Dan aku harus menghela nafas dalam ketika gadis yang aku ajak bicara itu ternyata sudah tidak sadarkan diri, dia tertidur.


Rasti tertidur dengan posisi duduk dan tangannya menjadi banyak di atas meja. Tempat dimana bukunya masih berantakan. Aku memperhatikan gadis itu, dan tingkah konyol dan apa adanya inilah yang sebenarnya membuatku tertarik padanya.


Aku merapikan buku Rasti yang berantakan di atas meja dengan perlahan. Karena aku tidak mau membangunkannya. Tinggal 4 soal lagi, kurasa tidak masalah. Kurasa dia pasti akan mampu menjawab nya saat dia bangun nanti.


Aku lalu merapikan tas ku dan berjalan ke arah dapur. Seperti nya aku melihat ada pergerakan dari arah dapur. Aku ingin pamit saja, karena seperti nya Rasti sangat lelah belajar. Mungkin dia belum pernah belajar selama itu dan sebanyak itu.


"Permisi!" ucap ku pelan. Karena aku tidak mau membangunkan Rasti.


"Iya!" jawab seorang wanita paruh baya yang keluar dari dalam dapur.


"Maaf bi, saya guru les nya Rasti. Dan saya mau pamit pulang. Pelajaran nya seperti nya sudah tidak bisa di lanjutkan karena Rasti tertidur!" jelas ku agar asisten rumah tangga Rasti ini tidak salah paham.


"Apa tidak sebaiknya di bangunkan saja tuan, supaya nona tahu kalau tuan akan pulang?" tanya asisten rumah tangga Rasti itu dengan sopan.


Aku menggeleng kan kepala ku perlahan.


"Sebaiknya tidak usah bi, dia seperti nya sangat lelah. Aku pamit ya bi. Permisi!" ucap ku sopan.


Dan aku segera berjalan meninggalkan sang asisten rumah tangga Rasti ketika dia sudah mengangguk paham atas ucapan ku..


Aku meraih tas ku dan memandang Rasti sekali lagi.


'Sampai ketemu besok Rasti!' batin ku sebelum aku benar-benar keluar dari rumah Rasti.


Aku masuk ke dalam mobil, lalu menyalakan mesin mobilku meninggalkan rumah Rasti. Besok aku masih harus kemari lagi, dan terus terang saja aku senang melakukan semua ini. Setidaknya aku bisa bertemu dengannya, mendengar suaranya setiap hari.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian aku sampai di depan pagar rumah ku. Dan ternyata dua orang yang sejak tadi menghubungi ku sudah berdiri di depan pintu rumah ku.


Aku langsung luar dari dalam mobil. Lalu menghampiri kakak dan calon kakak ipar ku.


"Hai kak, ada apa? tumben kakak ke rumah ku?" tanya ku yang langsung menghampiri dan berdiri di sisi Yoseph kakak ku.


Yoseph langsung menepuk bahu ku.


"Kamu darimana? aku dan Sofie sejak tadi menghubungi mu. Kata Sofie kamu bahkan menolak panggilan nya!" protes kakak ku yang seperti biasanya selalu membela wanita di depannya itu.


"Iya, Yoga. Kenapa kamu me-reject panggilan ku? kamu marah?" tanya nya dengan nada sok manja.


Aku tidak menghiraukan nya dan membuka kunci pintu rumah ku.


"Masuk dulu kak, kita bicara di dalam jika memang ada hal yang penting!" sela ku.


Aku masuk ke dalam rumah, di ikuti kakak dan calon istri nya. Aku mempersilahkan merek untuk duduk.


"Sebentar, aku akan ambilkan minuman untuk kalian berdua!" ucap ku setelah meletakkan tas kerja ku di atas sofa.


"Yoga, tunjukkan saja dimana dapurnya. Biar aku yang buatkan kalian minuman!" sela Sofie yang entah sejak kapan sudah berdiri dekat sekali dengan ku.


"Tidak perlu! kalian kan tamu. Jadi biar aku yang buatkan minuman. Duduklah di samping kakak!" sanggah ku yang memang tidak ingin wanita itu masuk ke dapur ku.


Yoga Adrian POV end


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2