Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Ada Apa Dengan Marco


__ADS_3

Aku melangkahkan kakiku menuju ke arah gerbang dengan langkah yang gontai. Ada perasaan bersalah pada Marco, dia terlihat tulus tapi mau bagaimana lagi. Kali ini aku harus menolaknya dengan tegas. Hal itu juga demi kebaikan nya, dengan tidak memberikan harapan padanya, bukankah itu semakin membuat nasib hatinya menjadi jelas dan dia bisa mencari gadis lain, yang jelas bukan aku.


Tapi belum juga melewati koridor, aku kembali menepuk jidat ku sendiri.


"Astaga, hape gue!" gumam ku.


Tadi Yusita sudah bilang kalau kak Yoga sudah berhasil menemukan ponselku, tapi dia mengatakan itu di depan Yusita dan yang lain karena mereka memang tidak tahu cerita yang sebenarnya. Yang mereka tahu ponsel ku hilang.


Aku segera berbalik, memutar arah tujuan ku. Sekarang aku melangkah dengan cepat ke ruang guru yang ada di lantai dua. Dengan cepat aku menaiki anak tangga satu demi satu hingga tibalah aku di sebuah ruangan yang sangat besar. Pintu ruangan itu terbuka lebar, hingga tanpa ragu aku pun mengetuk pintu.


Tok tok tok


"Permisi!" ucap ku sopan.


"Silahkan masuk!" sahut seseorang dari arah dalam ruang guru. Suara itu sangat aku kenali.


Aku langsung masuk dan karena aku sudah tahu dimana meja kak Yoga. Aku langsung menghampiri nya.


"Pak Yoga, selamat siang. Yusita tadi bilang kalau...!" belum juga aku menyelesaikan kalimat ku, Bu Tari berjalan ke dekat kak Yoga dan memberinya minuman ringan dan satu buah box kecil yang seperti nya berisi cake atau semacamnya.


"Ini pak, saya bawakan kue!" ucap Bu Tari sambil tersenyum manis pada kak Yoga.


Jangan tanya ekspresi kak Yoga, dia bahkan di kenal dengan guru yang sangat murah senyum di sini. Melihat tontonan seperti itu di depan mataku. Rasanya aku ingin membuka box kue itu dan memakannya. Menyebalkan.


"Pak, ponsel saya!" ucapku ketus tapi tidak terlalu kencang.


Aku kesal sekali melihat sikap kak Yoga. Setelah kak Yoga mengeluarkan ponsel ku dari dalam tasnya dan meletakkan nya di atas meja. Tanpa basa-basi aku mengambilnya lalu keluar dari ruang guru sambil berlari bahkan tanpa mengucapkan terima kasih pada kak Yoga.


Jangan tanya apa alasannya, karena aku memang sangat kesal. Aku terus berjalan dengan sesekali berlari menuju ke arah gerbang sekolah.


"Rasti!" panggil kak Tirta membuat ku langsung menoleh ke arahnya.


Aku langsung berlari menghampiri kak Tirta.


"Kak, udah lama nunggunya. Maaf ya, tadi itu...!" aku menghentikan apa yang ingin aku katakan pada kak Tirta karena aku melihat ke arah seberang jalan.

__ADS_1


Orang-orang yang kemarin itu menolongku dari anak buah ayahnya Friska, sedang berdiri di sana. Dengan komposisi yang sama, ketiga orang itu salah satunya berdiri dengan kaca mata hitam dan melihat ke arah ku, kurasa. Dua orang duduk sambil meluruskan kakinya di sebuah gang kecil yang sudah lama tak ada orang yang lewat di sana.


"Eh, malah bengong! kenapa tadi?" tanya kak Tirta sambil memberikan helm padaku.


Aku mengambil helm itu dan langsung mengalihkan pandangan ku dari para preman itu. Awalnya aku ingin mengatakan nya pada kak Tirta, tapi kurasa kak Tirta pasti akan sangat penasaran lalu menghampiri mereka. Dan aku rasa itu tidak perlu, sepertinya memang mereka tidak ada niat buruk. Jadi biarkan sajalah.


"Gak kak, pulang aja yuk!" ajak ku pada kak Tirta setelah aku naik ke boncengan belakang motor kak Tirta.


Kak Tirta sepertinya juga tidak mau ambil pusing.


"Oke, kakak juga udah laper banget ini!" serunya.


"Emang kakak gak makan di kantin kampus?" tanya ku.


"Masakan ibu itu paling enak, kakak gak mau lewatin makan siang buatan ibu!" ucapnya lalu segera menyalakan mesin motornya dan kami pun meninggalkan area sekolah.


Setelah ku pikir-pikir lagi. Benar juga apa yang dikatakan oleh kak Tirta. Seharusnya aku juga seperti dia kan, makan siang di rumah. Terkadang aku malah melewatkan makan malam di rumah hanya untuk jajan makanan yang sebenarnya tidak membuat ku kenyang juga.


***


Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah seperti biasanya kak Tirta mengantarkan aku sampai di depan pintu gerbang.


Aku juga terkejut saat turun dari motor, melihat Nina yang tiba-tiba berdiri di belakang ku.


"Pagi juga Nina!" jawab kak Tirta dengan senyum yang sepertinya dipaksakan olehnya.


"Gak usah senyum kalo kepaksa!" bisikku pada kak Tirta dengan suara pelan. Aku yakin kalau Nina tidak mendengarnya. Kalau sampai dia dengar sih, mungkin dia akan sakit hati padaku.


"Ya sudah, kakak pergi dulu. Selamat tinggal Nina!" ucap Kak Tirta lalu pergi.


Aku langsung berjalan masuk ke arah gerbang, tapi Nina masih berdiri di tempatnya sambil melihat kepergian kak Tirta. Aku ikut menghentikan langkah ku dan kembali mundur sekitar tiga langkah agar mensejajarkan posisiku berdiri dengan Nina.


"Eh, ayo masuk. Kenapa malah berdiri diem kayak patung gitu? Nina, hello!" ucapku sambil melambai-lambaikan tangan ku di depan wajah Nina.


Tapi setelah aku melakukan itu pun Nina masih diam dan terlihat sedih.

__ADS_1


"Lu kenapa Nin?" tanya ku yang mulai mengkhawatirkan Nina.


Nina menundukkan kepalanya sekilas lalu kembali mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah ku.


"Kok kak Tirta bilang selamat tinggal sih sama gue...!" suaranya terdengar sedih.


Aku lalu menepuk bahunya.


"Kan dia emang mau pergi ngampus, jadi wajarlah dia buru-buru dan bilang selamat tinggal sama lu, sama gue juga kan!" jelas ku pada Nina agar dia tidak merasa sedih.


"Kenapa harus selamat tinggal, kenapa bukan sampai jumpa atau sampai ketemu lagi Nina, semangat ya ujiannya, gitu!" seru Nina yang terdengar begitu kecewa.


Aku jadi mengernyitkan dahi ku mendengar apa yang dikatakan oleh Nina. Dari ucapannya itu, aku jadi salah paham kalau Nina menyukai kak Tirta. Aku menepuk bahu Nina lalu memicingkan mata padanya.


"Lu gak suka kan sama kakak gue?" tanya ku penuh selidik.


Nina terkesiap dan menghindari tangan ku yang tadinya berada di bahunya, tangan ku sampai jatuh ke tempatnya semula yaitu berada di samping tubuhku karena Nina menghindar dengan cepat.


"Bu... bukan begitu, gue sedih aja kenapa dia bilang selamat tinggal bukan sampai jumpa lagi...!" jawabnya namun terkesan sangat gugup.


Benar-benar seperti ekspresi seorang pencuri yang sedang ketangkap basah ketahuan melakukan perbuatan tidak terpuji nya.


"Yakin?" tanya ku lagi dengan penuh penekanan di setiap hurufnya.


Nina lalu melangkah maju meninggalkan aku.


"Augh ah, masuk kelas aja! kabur!" ucapnya sambil berlari meninggalkan aku, mungkin niatnya dia ingin menghindar dariku.


Aku sampai terkekeh melihat tubuhnya yang tambun itu seperti memantul-mantul saat Nina berlari seperti itu.


Aku juga langsung berjalan ke kelas. Tapi sebelum sampai di jelas tempat ku melaksanakan ujian, aku berpapasan dengan Marco. Aku ingin menyapanya, tapi saat kami bertemu pandang, dia langsung memalingkan wajahnya dan segera pergi meninggalkan aku.


Tangan ku bahkan sudah terulur ingin menepuk bahunya, tapi dengan cepat dengan langkah yang sangat cepat dia malah menghindar dariku. Tangan ku bahkan masih terulur.


"Ada apa sama Marco?" tanya ku dengan bergumam.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2