Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Makan Siang Bersama


__ADS_3

Setelah makanan siap, aku, ibu dan juga bibi menyajikannya di meja makan. Berbagai macam lauk sudah dibuat oleh ibu dan juga bibi, aku hanya melihatnya sambil makan kentang goreng saja.


Masalahnya adalah bukan karena aku tidak mau membantu, aku bahkan sudah membantu tadi, tapi saat ibu menyuruhku mengambil dan memasukkan tepung ke dalam adonan jagung yang sudah di iris di dalam mangkuk, aku malah memasukkan tepung beras. Aku anggap itu sudah benar, tapi ternyata saat di aduk seperti nya ada yang salah. Dan saat aku memperlihatkan nya pada ibu, dia bilang seharusnya aku memasukkan tepung terigu.


Tapi ini tidak marah, dia malah tersenyum dan mengatakan kalau ini adalah salahnya seharusnya dia lebih spesifik lagi menyebutkan tepung terigu, bukan menyebut tepung saja.


Dan setelah itu, ibu memintaku untuk duduk saja melihat apa yang mereka masak sambil menikmati kentang goreng kesukaan ku. Bukan keripik kentang, tapi kentang yang di potong julian dan di goreng hingga kering. Rasanya enak, sangat enak apalagi di taburi dengan bubuk keju di atasnya, yummy.


Setelah selesai menyajikan makanan di atas meja, ibu bilang akan memanggil ayah dan juga Tirta.


"Sebentar ya, ibu panggil ayah dan juga Tirta dulu!" seru ibu.


Tapi ku pikir lagi, kamar ayah ada di bawah di lantai satu, dan kamar Tirta ada di atas di lantai dua. Aku rasa ibu akan sangat lelah kalau bolak-balik begitu.


"Ibu, aku akan panggil ayah ya!" ucap ku berinisiatif untuk membantu ibu.


Ibu tersenyum lalu mengangguk kan kepalanya, dia lalu menaiki anak tangga untuk naik ke lantai dua dan memanggil Tirta untuk makan siang bersama. Sementara aku berjalan ke kamar ayah ku juga untuk memanggilnya.


Tok tok tok


"Ayah ibu Rasti!" ujar ku di depan pintu kamar ayah ku.


"Masuk Rasti!" sahut ayah dari dalam kamar.


Ceklek


Aku langsung membuka pintu dan melihat ayah yang sedang mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam tas nya.


"Ayah sedang apa?" tanya ku sambil duduk di tepi ranjang di sisi lain ayah ku duduk.


"Ayah sedang memeriksa beberapa dokumen penting, ayah sudah beberapa hari ini tidak mengecek laporan perusahaan, ayah harap semua baik-baik saja!" jawab ayah menjelaskan.


"Bagaimana keadaan nenek Sari?" tanya ku pada ayah.

__ADS_1


Dan ayah langsung meletakkan dokumen yang dia baca lalu menatap ke arah ku dengan tatapan serius.


"Nenek Sari sudah membaik nak, dia sudah pulang ke rumah, dan semua sudah baik-baik saja. Ayah senang karena tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya, tapi Rasti! ada hal yang lebih membuat ayah senang, apa kamu tahu itu?" tanya ayah ku setelah menjelaskan keadaan nenek Sari, ibu nya ibu Rita.


Aku menggelengkan kepala ku perlahan, karena aku memang tidak tahu apa yang membuat ayah senang.


Ayah menyingkirkan semua dokumen nya dan menggeser duduknya mendekat ke arah ku, ayah menggenggam kedua tangan ku dan menghela nafas lega.


"Ayah senang kamu sudah bersikap baik pada ibu Rita dan juga Tirta, tahukah kamu kalau apa yang kamu lakukan ini sangat berarti bagi mereka berdua!" ucap ayah dengan wajah yang begitu sendu.


Aku masih diam, aku baru menyadari kalau selama ini aku benar-benar telah sangat keterlaluan pada ibu Rita dan juga Tirta. Tapi aku bersyukur aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki semua itu.


Ayah memelukku, dan mengusap kepalaku perlahan.


"Terima kasih nak!" ucap nya pelan.


***


Kami semua sekarang sudah ada di meja makan, sambil menyantap makan siang bersama juga sambil mengobrol ringan. Ayah menceritakan tentang kondisi nenek Sari padaku dan juga pada Tirta. Lalu ayah bertanya tentang guru les yang Tirta bicarakan sebelumnya.


"Uhukk uhukk!" aku sampai tersedak saat ayah bertanya tentang nilai ku.


Ibu Rita langsung mendekati ku dan memberikan aku minum, sambil mengusap punggung ku pelan.


"Pelan-pelan Rasti, jangan menghirup udara saat kamu memasukkan makanan ke dalam mulut mu!" ujar ibu Rita memberikan aku nasehat.


Saat aku melihat ibu dan ayah cemas, aku malah melihat Tirta senyum senyum tidak jelas.


"Bagaimana Rasti? sudah tidak apa-apa kan?" tanya ayah yang juga terlihat khawatir dan ikut mendekati ku.


"Tidak apa-apa ayah, terimakasih ibu!" ucap ku membuat mereka tenang dan kembali ke kursi mereka lagi.


"Ayah tidak perlu cemas, Tirta yakin kalau guru les Rasti ini pasti mampu mengubah Rasti yang nilai rapor nya selalu berwarna warni menjadi satu warna saja!" ucap Tirta dengan yakin.

__ADS_1


"Benarkah? sehebat itu?" tanya ayah pada Tirta.


Kenapa saat ayah bertanya seperti itu, aku malah merasa kalau ayah sedang menyindirku. Aku terdiam beberapa saat sambil melihat ke arah ayah dan Tirta secara bergantian, dan benar saja tak lama kemudian mereka terkekeh bersama.


"Huh, kenapa pada ngetawain sih, lihat aja ya Rasti pasti naik kelas kok!" jawab ku mencoba untuk tidak di pandang remeh oleh Tirta dan ayah.


Tirta terlihat mengangguk,


"Iya iya percaya, kamu pasti bisa naik kelas, naik pager sekolah aja kamu bisa kan pas bolos...!" ejek Tirta lagi.


Dan ayahku malah tertawa saat Tirta mengatakan kalimat itu.


"Tirta, jangan ledek adik mu lagi!" seru ibu membela ku.


"Tahu tuh Bu, kak Tirta. Lihat aja nilai Rasti nanti pasti gak ada yang merah lagi!" ucap ku penuh percaya diri.


Kenapa tidak, kan aku punya pacar seorang guru yang sangat pintar dan baik hati. Dia pasti tidak akan mengajariku dengan sangat baik hingga nanti nilai ku pasti akan lebih baik.


Kak Tirta mulai berhenti mengganggu ku, ketika ibu Rita sudah menunjukkan raut serius padanya.


Dan ayah pun seperti nya juga merasa takut pada tatapan tajam ibu Rita, dia juga berhenti tertawa dan mulai mengalihkan topik pembicaraan ke hal lain.


Aku baru tahu kalau makan bersama dengan Tirta dan ibu Rita juga ayah ku bisa terasa begitu menyenangkan seperti ini. Sebelum nya aku selalu menghindar dan tidak ingin berbaur dengan ketiga orang yang sedang berada satu meja makan dengan ku ini.


Setelah makan siang, aku kembali ke kamar ku untuk belajar karena besok sudah ujian kenaikan kelas. Dan saat aku mengecek ponsel ku ternyata ada lima belas panggilan tak terjawab dari pak Yoga.


"Astaga, sebanyak ini!" gumam ku terkejut.


Segera aku menghubungi pak Yoga, tapi beberapa kali nomernya tersambung tapi tidak di angkat.


Aku menghubungi lagi, dan masih sama, tidak di angkat.


"Heh, kenapa tidak diangkat? apa dia marah?" gumam ku.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2