Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Friska n the gengs


__ADS_3

Author POV


Di sebuah gudang kosong di dekat sebuah pasar tradisional yang masih sangat ramai karena hari pun masih sore. Tiga orang wanita cantik berusia sekitar 17 sampai 18 tahun, dan dua orang pemuda yang 1 terlihat sangat garang dan yang satu lagi terlihat sangat kemayu. Mereka di dalam gudang itu bersama dengan 4 orang laki-laki berusia sekitar 30 sampai 35 tahun yang berbadan besar, berotot, satu di antaranya berkepala plontos.


Terlihat seorang gadis dengan kuncir 2 di kepalanya, memaki keempat pria berbadan besar itu.


"Gimana sih, masa' ngerjain satu cewek tengil kurus kering aja nggak bisa. Badan doang gede, otak lu semua pada ke mana sih, bukannya diikutin bukannya di untit sampai ke rumahnya malahan balik lagi ke sini!" kesal gadis itu.


Keempat preman yang dia marahi pun hanya diam, itu hanya di depannya saja. Padahal di dalam hati mereka mereka sangat memaki gadis itu, tangan mereka yang mereka sembunyikan di balik punggung pun sudah terkepal, tentu saja mereka marah dan kesal. Hanya seorang gadis kecil, anak bau kencur tapi berani memaki-maki mereka berempat yang sudah lama aku makan asam garam kehidupan ini di jalanan di pasar bahkan di terminal.


Mereka berempat masih terus diam ketika salah seorang teman dari gadis itu yang laki-laki dan berwajah kemayu ikut memarahi mereka.


"Iya gak guna banget sih punya anak buah, percuma dong digaji kalau kerjanya nggak bener!" oceh pemuda itu yang tak lain adalah Dino.


Dan gadis berkuncir dua itu adalah Friska, ternyata benar mereka menaruh dendam kepada Rasti. Dan ternyata benar preman yang tadi mengawasi Resti di depan gerbang sekolah itu adalah suruhan dari Friska, karena mereka itu adalah anak buah dari ayahnya Friska.


"Kami tadi kan tidak tahu kalau kalau ternyata gadis itu bersama dengan seorang pemuda, kami kira dia hanya berjalan kaki dan naik angkutan umum seperti yang nona Friska katakan!" salah satu dari keempat preman itu mulai bersuara mereka juga tidak mau terus di salahkan.


"Jadi lu mau nyalahin gue gitu? mau bilang gara-gara informasi gue, lu berempat gagal ngerjain itu perempuan resek binti rempong itu?" tanya Friska dengan nada mengejek.


Dia lebih besar dari sebelumnya dia bahkan maju beberapa langkah mendekati pria berbaju preman yang tadi mengatakan alasan kenapa dia tidak bisa mengikuti Rasti yang sudah pergi berboncengan motor dengan Panji.

__ADS_1


Friska bahkan menunjuk-nunjuk wajah preman itu.


"Gue bakal kasih kesempatan ke lu semua sekali lagi! Tapi kalau besok lu masih gagal untuk ngerjain cewek kurang asem, dan nggak buat dia menyesal karena udah terlahir didunia ini buat ngelawan gue, maka gue bakalan laporin lu semua ke bokap gue! kalau kalian berempat itu nggak becus kerja jadi kalian mendingan dipecat aja nggak usah lagi jadi anak buah bokap gue, ngerti!!" bentak Friska setelah berbicara panjang lebar kepada keempat preman itu.


Meski mereka terlihat menganggukan kepala paham akan tetapi dalam hati mereka sangat kesal pada gadis di depannya itu.


Setelah melampiaskan kekesalannya kepada anak buah ayahnya yang tidak becus bekerja, Friska dan teman-temannya pun keluar dari gudang menuju ke arah mobil Friska.


"Lu yakin tuh keempat preman anak buah bokap lu itu bisa nyulik Rasti dan bawa dia ke gudang tempat kita mau ngerjain dia?" tanya Dino yang sedari tadi ikut mengoceh.


"Yakin lah, gue yakin tadi itu si Rasti itu cuma beruntung aja. Dan elu...!" ucap Friska sambil menunjuk ke arah Vita salah satu teman wanitanya.


"Besok gimana pun caranya, Lu harus bisa nyegah Panji supaya dia nggak pulang bareng Rasti, gue yakin rencana gue ini bakalan berhasil, si Rasti itu harus tahu akibat dari berurusan dengan Friska Baroto!" ucapnya dengan sangat sombong dan dengan senyuman yang sangat mengerikan.


Friska sempat bingung karena mendengar Dinda, menyebutkan tentang motor balap.


"Motor gede kali! motor balap apaan sih!" ucap Dino dengan gerakan tangan khas nya dan ekspresi wajah yang menggelikan sebenarnya kalau dilihat.


"Iya, maksud gue itu! gimana tuh?" tanya Vita lagi.


"Ck... itu tugas lu Gun, lu harus bikin supaya motor yang dipakai sama kakaknya si Rasti itu pecah ban atau apalah, supaya dia nggak sampai ke gerbang sekolahan tepat waktu!" ucap Friska pada Gugun salah satu dari temannya yang berdiri di belakang nya yang berwajah garang.

__ADS_1


Gugun hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun. Setelah mendiskusikan semua rencana mereka, mereka pun akhirnya masuk ke dalam mobil jalan menuju ke sebuah tempat hiburan. Itulah yang selalu mereka kerjakan setelah pulang sekolah jangan hari libur. Nilai bagus mereka hanya didapatkan dari mencontek, dan selama ini semua itu berjalan mulus-mulus saja.


Hanya ketika Rasti satu kelas dengan mereka perbuatan mereka itu ketahuan. Karena itulah Friska dan teman-temannya sangat dendam pada Rasti. Apalagi karena laporan yang diadukan Rasti, apakah Friska dan teman-temannya didiskualifikasi dari ujian bahasa Inggris. Dan sudah pasti mereka harus mengulang untuk ujian itu, jika tidak nilai mereka akan merah dan mereka terancam tidak akan naik kelas.


Sementara itu di rumah Rasti, di dalam kamarnya gadis itu sedang tiduran di atas tempat tidur uang nyaman sambil memeluk bantalnya, melihat ke arah langit-langit kamarnya yang sudah dia ganti dengan wallpaper lain, dia sudah melepaskan wallpaper wajah ibunya itu dan menyimpannya.


Dia sedang bicara dengan seseorang di telepon.


"Jadi jangan cemas, aku benar-benar tidak apa-apa!" ucap Rasti pada seseorang yang terdengar cemas di seberang sana.


"Besok jangan keluar dari sekolah dulu, pulang saja dengan ku. Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dengan cepat!" ujar Yoga terdengar sangat cemas.


Benar sekali, yang berbicara dengan Rasti adalah Yoga. Dia baru tahu hal ini saat dia menghubungi Rasti tadi.


"Baiklah, aku akan menunggu di kelas kalau begitu!" jawab Rasti yang mengalah.


"Baiklah, aku tidak menyangka kalau Friska dan teman-temannya bisa berbuat seperti itu, kalau saja tidak sedang ujian, aku punya rencana bagus untuk menjebak mereka, tapi karena masih ujian. Aku tidak mau mengambil resiko untuk mu dan nilai mu Rasti!" jelas Yoga.


Rasti hanya senyum-senyum sendiri mendengar apa yang dikatakan oleh Yoga. Dia sangat senang, Yoga begitu perhatian dan perduli padanya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2