Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Tidak lagi Salah Paham


__ADS_3

Sebelum pelajaran Bu Risky di mulai, aku merasa ponsel ku bergetar, aku meletakkan tas ku dia atas meja. Berpura-pura mengambil buku paket dan mengeluarkan nya dari dalam tas, lalu aku membuka pesan yang masuk dari 'Somebody' yang kutahu itu adalah nomer pak Yoga.


'Aih, nama nya pun belum gue genti!' gumam ku dalam hati.


Meski hubungan ku dengan pak Yoga sekarang status nya sudah berubah, dari yang awalnya sekedar guru dan murid kini hubungan kami sudah resmi pacaran. Tapi aku bahkan lupa untuk mengganti nama kontak pak Yoga di ponsel ku.


*Temui aku sekarang di belakang rumah pak Anteng!*


Begitulah isi pesannya, dan benar-benar dengan tanda seru di akhir kalimatnya. Aku mematikan ponselku. Dan menyimpannya kembali ke dalam tas. Aku mengeluarkan buku catatan matematika dan meletakkan kembali tas ku di dalam laci meja.


'Aduh, pakai alasan apa ya keluar dari kelas?' tanya ku dalam hati.


Ting


Tiba-tiba muncul ide yang menurut ku sangat brilian di kepala ku yang biasanya agak lemot kalau mencari solusi dari tiap masalah ku.


Aku memegang perut ku dan menambahkan ekspresi seperti sedang menahan ingin buang air ke toilet. Aku sengaja menyenggol lengan Dewi agar dia menyadari ekspresi yang aku tunjukkan.


"Eh, lu kenapa Ras? lu mules ya?" tanya Dewi yang sedikit menjaga jaraknya dariku.


Sepertinya cara ini berhasil, aku yakin sebentar lagi Dewi akan membuat keributan karena takut aku buang angin di dekatnya.


"Ih, muka lu kenapa? jangan bilang lu mau ken*tut ya?" tanya Dewi yang makin terlihat heboh.


Aku hanya tersenyum tipis, dengan kerutan di dahi ku. Sungguh aku ingin tertawa melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Dewi, dan aku sendiri tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi ku saat ini. Aku yakin kalau ada cermin dan aku bisa melihat wajah ku sendiri, aku pasti akan terkekeh hingga terbahak-bahak melihat betapa bodohnya ekspresi ku saat ini.


Dewi bahkan mendorong ku.


"Sono sono buruan ke toilet lu!" ucapnya sedikit mendorong ku menjauh.


"Dewi!" panggil Bu Risky yang mulai menyadari keributan yang kami buat. Lebih tepatnya yang aku buat.


"Kalau kamu masih ingin ngobrol dan ribut, silahkan keluar dari kelas saya!" seru Bu Risky.


"Maaf Bu, ini si Rasti perutnya mules tapi gak mau ke toilet. Kan saya gak mau dia sampai buang angin disini!" jelas Dewi yang langsung berdiri.


Dan semua mata kini tertuju padaku.


'Uh, gini banget sih cuma pengen ketemu pak Yoga doang, untung ganteng pacar gue, kalo gak ogah gue di lihatin kayak gini sama yang lain!' batin ku.


Bu Risky terlihat menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Rasti, kamu keluar, cepat pergi ke toilet. Jangan mengganggu kenyamanan siswa yang lain!" ujar Bu Risky dengan raut wajah tak suka.


Aku langsung berdiri dan melangkah dengan cepat.


"Permisi Bu!" ucap ku meminta ijin pada Bu Risky dan segera berjalan menuju ke arah toilet agar terlihat lebih natural, dan sandiwara ku tadi berjalan dengan baik.


Setelah melihat sekeliling dan merasa situasi sudah aman, aku mulai berjalan ke arah yang sebaliknya. Namun aku memutar ke arah UKS, agar tidak ada yang melihat ku.


Aku sengaja berjalan dengan langkah biasa, agar tidak mencurigakan, dan tanpa terasa aku sudah sampai di taman belakang. Di depan rumah pak Anteng.


Aku menghentikan langkahku, tapi aku tidak melihat pak Yoga dimana pun sejauh mata ku memandang dan menyasar tempat ini.


"Astaga!" keluh ku sambil menepuk jidat ku sendiri.

__ADS_1


"Tadi kan dia bilang di belakang rumah pak Anteng, hadeuh... gini nih kalau IQ lemot!" gumam ku menyalahkan betapa lambannya otak ku berfikir sambil berjalan ke arah belakang rumah pak Anteng.


Dan benar saja aku melihat pak Yoga disana, saat aku datang dia langsung menoleh, seolah tahu benar kalau itu aku.


Dia yang tadinya duduk di kursi yang ada di belakang bersama istri pak Anteng berdiri dan menghampiri ku. Aku tersenyum pada istri pak Anteng yang juga tersenyum padaku.


"Sudah datang Rasti nya, ibu tinggal ke dalam dulu ya!" ucap Bu Fatimah dengan sangat ramah.


Aku mengernyitkan dahi ku.


'Apa dia mengatakan hubungan kami pada Bu Fatimah? itu tidak mungkin kan?' tanya ku dalam hati.


"Duduk lah!" ucapnya yang kembali ikut duduk setelah aku menghampiri nya dan duduk di sebelah nya.


Beberapa detik berlalu, pak yoga hanya diam dan juga tidak melihat ke arah ku. Aku ingin sekali bertanya kenapa sikapnya begitu dingin, tapi aku juga tidak ingin bertengkar di belakang rumah Bu Fatimah. Dan masa' sih kami harus bertengkar, kan kami baru saja jadian. Masa' secepat ini bertengkar.


Aku terus memikirkan banyak hal, karena pak Yoga tak kunjung mau bicara.


"Semalam Marco ke rumah kamu kan?" tanya pak Yoga yang akhirnya mulai bersuara.


Aku menghela nafas lega karena dia tidak langsung marah.


"Iya kak, kan aku sudah bilang semalam waktu aku telepon kamu!" jawab ku menjelaskan.


"Benar-benar kerja kelompok? atau dia juga menyatakan perasaan nya padamu?" tanya nya lagi.


Aku tahu sekarang masalahnya, rupanya pak Yoga benar-benar sudah mendengar berita hoax yang datangnya dari Nina dan si Marco itu sendiri.


Aku langsung refleks menoleh ke arahnya dan menatap tajam ke arahnya juga.


"Maksud nya, maksud nya gimana?" tanya ku yang mulai kesal.


"Kalau kamu lebih percaya pada berita hoax dan ucapan orang lain ya sudah, lebih baik aku kembali ke kelas saja!" ucap ku kesal dan aku segera berdiri dari posisi duduk ku.


Namun ketika aku akan melangkah kan kakiku, tiba-tiba tangan ku ditarik olehnya.


"Aku bukan tidak percaya, aku hanya ingin dengar dari mulut mu sendiri. Apapun yang kamu katakan aku akan percaya!" ucap nya yang semakin lama semakin melembut.


Aku berbalik dan melihat ke arah wajahnya yang terlihat sedih.


"Aku minta maaf ya, tadi aku kesal. Habisnya kamu dari pagi bersikap dingin padaku, aku kan...!" aku tidak melanjutkan perkataan ku kerena pak Yoga menyentuh pipi ku dengan lembut.


Aku menelan saliva ku dengan susah payah, dan aku merasa jantungku berdetak sangat kencang.


"Ini semua salah ku seharusnya aku yang minta maaf padamu! aku terlalu cemburu... masalahnya kalian datang bersama, kamu terlambat padahal tadi jelas-jelas aku lihat kakak mu mengantarkan mu di depan gerbang, kamu bilang kamu dari perpustakaan, tapi tadi Bu Tari bilang dia melihat Marco menarik tangan mu dan membawa mu ke UKS. Aku kira kamu...!"


Pak Yoga mengehentikan perkataan nya, dan menarik tangannya dari wajah ku.


"Kamu kira aku berbohong?" tanya ku yang mulai mengerti arah pembicaraan nya.


Pak Yoga mengangguk perlahan.


"Lalu, kenapa kamu tidak marah sekarang? dan malah bicara baik-baik padaku?" tanya ku sedikit kesal lagi.


Aku tidak habis pikir saja, apa yang membuatnya masih berfikir untuk bersikap baik padaku kalau dia mengira aku berbohong padanya.

__ADS_1


"Aku bertemu pak Tatang saat di ruang guru, dia mengatakan apakah Marco dan kami terlambat. Pak Tatang tidak sengaja melihat jadwal ku!" jelasnya.


Pak Yoga kembali menatap ku dengan lembut dan menggenggam tangan ku.


"Aku janji aku tidak akan pernah marah tanpa mendengar penjelasan darimu. Maafkan aku ya!" ucapnya lalu mengecup ujung jemariku yang dia genggam.


Zrtt


Rasanya seperti tersengat aliran listrik ber arus rendah. Nafas ku bahan menderu hanya karena pak Yoga melakukan hal itu.


Tapi tiba-tiba aku ingat tentang ucapan nya tadi pagi pada Bu Tari. Kalau dia akan menemui seseorang yang sangat penting di hidupnya, aku mendadak jadi kesal lagi. Aku menarik tangan ku dengan cepat, dan seperti nya itu membuat pak Yoga terkejut.


"Ada apa?" tanya nya bingung.


Aku berbalik, melipat kedua tangan ku di depan dadaku.


"Sekarang giliran mu menjelaskan!" ucap ku lalu berbalik melihat pak Yoga yang mengerutkan keningnya melihat ke arah ku.


"Kamu mau bertemu siapa siang ini?" tanya ku langsung pada intinya saja.


Tapi reaksi yang di tunjukkan oleh pak yoga ternyata diluar ekspektasi ku. Dia tidak menunjukkan raut wajah seperti seseorang yang telah tertangkap basah berbohong, dia malah terkekeh pelan.


"Kamu dengar dari siapa aku mau bertemu seseorang yang sangat penting siang ini?" tanya nya padaku.


"Em.. aku dengar dari...!" aku malah jadi bingung mau jawab apa. Tidak mungkin aku bilang aku menguping pembicaraan nya dengan Bu Tari kan.


"Pokoknya aku tahu, ayo jawab!" ucapku dengan nada tegas tanpa menurunkan tangan ku dari posisinya.


Pak Yoga mendekati ku, dan meraih tangan ku.


"Ingat tidak aku mengajakmu untuk datang ke pernikahan kak Yoseph bersama ku?" tanya nya .


Aku masih diam, aku ingat sih. Tapi apa hubungannya.


"Siang ini kita akan bertemu ibu ku di butik. Kita akan feeting baju couple untuk kita!" ucapnya.


Blush


Aku langsung menundukkan wajah ku, aku sungguh sangat malu. Dia pernah mengatakan hal itu padaku, kenapa malah aku lupa dan berfikir yang tidak-tidak tentang nya akan menemui seseorang yang sangat penting, tentu saja penting. Karena yang akan dia temui adalah ibunya.


"Maaf!" ucap ku pelan.


Pak Yoga hanya tersenyum lalu memegang kedua lengan ku.


"Nanti siang kita pulang bersama ya, aku akan minta ijin pada kakak mu!" ucapnya dengan senyuman teduhnya.


Aku langsung mengangguk.


"Ya sudah, kembali ke kelas. Tidak mungkin kan ke toilet saja selama ini!" ucap pak Yoga dan membuat mulut ku menganga.


"Hah, darimana kamu tahu itulah alasan yang aku pakai agar bisa keluar kelas?" tanya ku takjub.


"Memangnya alasan apa lagi yang akan terpikirkan oleh gadis ku ini?" tanya nya balik padaku.


Aku jadi bingung mau ketawa atau menangis ya, karena aku juga tidak yakin apa yang dikatakan kekasih ku ini ejekan atau pujian.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2