
Di dalam ruang rawat.
"Dan apa kamu tahu apa yang paling membuat teman sekelas ku semakin di bully. Dia bahkan tak bicara dengan membolak-balik kan kata!" seru dokter Andika sambil menggelengkan kepalanya.
Aku hanya tersenyum melihat ekspresi dokter Andika dan apa yang dia katakan. Aku juga tahu dia menceritakan tentang masa-masa kuliahnya padaku karena ingin menghilangkan kecemasan ku terhadap apa yang kupikirkan tentang apa yang sedang dilakukan Tirta dan juga pak Yoga di luar sana.
Sudah cukup lama pak Yoga dan Tirta berada di luar, entah dimana. Karena kalau hanya bicara di luar ruangan, tentu akan terdengar oleh ku bukan? tapi ini tidak. Itu artinya mereka pasti bicara di suatu tempat, dan Tirta yang sedang emosi membuatku makin gelisah.
Aku takut kalau dia berbuat kasar pada pak Yoga. Karena sebenarnya yang salah itu bukan pak Yoga. Tapi kesalahpahaman antara aku dan juga Tante Asti. Namun sekarang aku tahu kalau dokter Dona juga tidak bersalah, dia tidak mengatakan apapun tentang masa lalu ku pada Tante Asti.
Pemikiran Tante Asti itu pasti karena hasutan wanita yang bernama Sofie itu, tapi jika itu benar kenapa juga dia begitu ingin aku berpisah dengan pak Yoga. Apakah perempuan itu masih mencintai pak Yoga.
'Apakah mungkin wanita benar-benar masih mencintai kak Yoga?' tanya ku dalam hati.
"Hei, kamu tidak mau tahu apa kata yang dia ucapkan?" tanya dokter Andika yang membuatku tersadar dari lamunan dan pemikiran ku.
Aku terkesiap dan seperti nya dokter Andika menyadari sikap ku itu. Dokter Andika menghela nafasnya panjang.
"Apa yang sedang kaku pikirkan?" tanya dokter Andika.
Aku menatap dokter berkacamata di depan ku ini, dia masih muda dan cukup tampan. Kalau di ibaratkan dia mirip dengan artis sinetron di televisi itu, mirip dengan Caesar Hito tapi versi berkacamata. Dokter Andika ini begitu baik, dia begitu perduli dan perhatian pada ku dan juga kak Tirta. Padahal kan dia baru saja mengenal kami.
Aku hanya ikut tersenyum saat dia juga mengulas senyum di wajahnya itu.
"Tidak ada dokter, hanya saja Senin aku sudah harus ujian. Aku hanya berharap agar hari Senin aku sudah sehat dan bisa ikut ujian kenaikan kelas!" jawab ku pada dokter Andika.
Tidak semua yang aku katakan itu benar, tapi apa yang aku katakan itu juga bukan sebuah kebohongan. Aku memang cemas juga dengan ujian ku hari Senin nanti. Sedangkan saat ini seluruh tubuh ku rasanya sakit dan nyeri sekali, seperti habis dipukuli saja.
__ADS_1
Dokter Andika menepuk pelan bahu ku, dia mengusapnya perlahan. Mataku jadi menoleh ke arah tangan dokter Andika yang ada di pundak ku.
"Kamu harus yakin pada dirimu sendiri, kamu harus meyakinkan dirimu kalau kamu pasti bisa sembuh, hari Senin kamu akan bisa ikut ujian, berilah motivasi bagi dirimu sendiri. Karena apa?" tanya nya sambil menjeda apa yang ingin dia katakan padaku.
Aku menggeleng pelan, aku tidak tahu jawaban dari pertanyaan nya itu. Otak ku kan loading nya lama, mana bisa menjawab pertanyaan yang di ajukan secara spontan semacam itu.
"Karena tidak ada pemberi motivasi terbaik selain datang dari dirimu sendiri. Kalau kamu ingin pulih ajak seluruh anggota tubuhmu bekerja sama, buat suasana hatimu membaik. Jangan paksa otak ku untuk memikirkan hal yang hanya akan membuatmu sedih dan terluka, dan yang paling penting adalah tersenyum. Cobalah!" jelas nya panjang lebar.
Aku mendengarkannya dengan baik, aku memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut dokter Andika. Aku rasa dia benar, aku bisa menangkap apa yang ingin dia sampaikan padaku. Intinya, aku sendiri harus bahagia, dengan bahagia semua akan membaik.
Aku tersenyum, dan rasanya memang benar. Beberapa nyeri dan sakit langsung menghilang.
"Terimakasih dokter, anda baik sekali!" ucap ku tulus. Aku berkata jujur, dokter Andika memang sangat baik.
"Benarkah? aku rasa tidak juga!" ucapnya dan apa yang dia katakan barusan membuat ku memiringkan kepala ku heran.
"Oh maksudnya itu!" ucap ku sambil membulatkan mulut ku membentuk sebuah huruf O.
"Iya, jadi Rasti apakah kamu mau berteman dengan ku?" tanya dokter Andika sambil mengulurkan tangannya di depan ku.
Aku melihat ke arah dokter Andika lalu melihat kembali ke arah tangannya. Aku tersenyum dan menjabat tangan dokter Andika. Tidak buruk juga kan kalau berteman dengan orang baik seperti dia.
"Tentu saja dokter, aku beruntung punya teman yang sangat baik seperti mu!" ucap ku pada dokter Andika.
Ceklek
Suara pintu terbuka, dan aku segera menarik tangan ku dari tangan dokter Andika. Sepertinya dokter Andika terkesiap karena aku melakukan itu, tapi aku sungguh tak ingin membuat orang lain salah paham akan hal ini.
__ADS_1
Awalnya aku mengira yang datang adalah Tirta dan pak Yoga. Tapi ternyata seorang wanita cantik dengan Snelli putih yang sama seperti yang di pakai oleh dokter Andika.
"Selamat pagi!" sapa nya dengan sopan sambil berjalan ke arah ku dan juga dokter Andika.
"Selamat pagi!" jawab ku tapi aku heran kenapa dokter Andika tidak menjawab sapaan dari dokter wanita itu.
Aku melihat ke arah dokter Andika yang malah terlihat membuang wajahnya dari dokter cantik yang baru saja masuk ke ruang rawat ku ini.
"Bagaimana keadaan mu? apa masih ada yang sakit?" tanya dokter yang aku baca nametag nya bertuliskan dokter Intan.
Aku baru saja akan menjawab pertanyaan dokter Intan, tapi baru mau membuka mulut. Dokter Andika sudah lebih dulu menyela.
"Dia sudah membaik, dan aku rasa dokter Devi pasti sangat sibuk dengan pasien VIP itu kan. Biarkan aku saja yang merawat Rasti!" ucap Dokter Andika sambil berdiri dari duduknya.
Tiba-tiba saja aku merasa suasana di sekitar ku menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Aku sampai merinding melihat tatapan dokter Andika pada dokter Intan.
'Sebenarnya ada apasih sama mereka? kayak sepasang kekasih lagi marahan!' batin ku.
Aku bisa mengira seperti itu karena memang tatapan dokter Intan itu tidak seperti sedang kesal, meskipun wajah mereka sama-sama terlihat dingin.
Dokter Intan menghela nafasnya dan memilih untuk kembali tersenyum dan melihat ke arah ku.
"Jadi nama mu Rasti, kamu sungguh beruntung ya, dokter Andika mau merawat mu! baiklah aku tidak akan berbasa-basi lagi, dokter Andika. Kepala rumah sakit memanggil anda ke ruangan nya sekarang!" ucapnya dengan nada kesal dan setelah mengatakan itu tanpa menunggu jawaban dari dokter Andika. Dokter Intan langsung berbalik dan keluar dari ruang rawat ku.
***
Bersambung...
__ADS_1