Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Keluh Kesah Yoseph


__ADS_3

Author POV


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di rumah Yoga Adrian. Pria muda itu sedang bersiap-siap untuk pergi berlibur di hari Minggu bersama kekasih pujaan hatinya. Semalam kakak nya Yoseph datang ke rumah, jadi dia tidak sempat mengabari Rasti.


Kakak nya itu sedang dalam masalah, karena istrinya dan ibunya bertengkar lagi. Sedangkan kondisi Sofie ternyata sedang mengandung anak mereka. Jadi Yoseph sangat bingung berada di rumah dan mencoba untuk meminta pendapat pada adiknya Yoga.


Alhasil, Yoseph meminta saran pada Yoga. Bagaimana kalau dia tinggal di rumah mereka sendiri. Toh sebenarnya sebelum menikahi Sofie, Yoseph memang sudah membeli sebuah rumah sebagai hadiah pernikahan untuk Sofie.


Flashback on


Yoga baru saja akan makan malam ketika sang kakak datang dan terlihat sangat berantakan, kemejanya lusuh dan tidak rapi sama sekali. Tidak masuk ke dalam celananya. Dan dasinya juga sudah sangat longgar.


Yoga yang baru saja membuka pintu dan melihat kakaknya dalam kondisi seperti itu langsung memegang lengan Yoseph dan menyuruhnya untuk duduk.


Setelah Yoseph duduk, Yoga berjalan cepat menuju ke dapur dan mengambil minuman dingin untuk Yoseph.


"Kakak, ini minumlah dulu!" ucap Yoga meletakkan gelas yang sudah berisi minuman dingin itu di atas meja di depan Yoseph.


Yoseph yang sedari tadi terus memegangi kepalanya yang berdenyut akhirnya mengambil minuman itu dan meminumnya sampai habis setengah. Pria itu kemudian meletakkan kembali gelas yang tadi dia pegang ke tempatnya yaitu ke atas meja di depannya.


Yoga lalu duduk di sebelah kakaknya dan mulai bertanya.


"Sebenarnya ada apa kak? apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Yoga menawarkan apakah ada yang bisa dia lakukan untuk kakak nya yang terlihat sangat frustasi itu.


Yoseph menoleh ke arah Yoga dan raut lelah terlihat di wajah pria yang hanya beda usia empat tahun dari Yoga itu.


"Aku sedang berada dalam situasi yang sulit Yoga. Kemarin setelah mengantar Sofie ke rumah sakit karena dia pingsan. Aku baru tahu kalau dia ternyata telah hamil!" jelas Yoseph dan membuat Yoga mengernyit heran.

__ADS_1


"Hamil?" tanya Yoga bingung.


Yoseph mengangguk kan kepalanya.


"Benar, kakak ipar mu itu sudah hamil enam minggu, kami memang baru menikah dua minggu lebih, tapi kami memang sudah, ck.. kamu tahulah!" jelas Yoseph.


Dan ketika mendengar penjelasan dari kakaknya itu, akhirnya Yoga pun mengangguk kan kepalanya tanda dia paham.


"Karena kondisinya sedang hamil, dan dokter mengatakan kandungan nya sangat lemah. Jadi aku pikir akan lebih baik kalau kami memperbaiki hubungan kami yang sedikit renggang, demi anak kami!" lanjut Yoseph lagi.


Yoga masih menganggukkan kepalanya lagi. Dia juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Yoseph, kakak nya itu. Masalah dengan Rasti pun sudah tidak bisa di perbaiki lagi. Tapi jika Sofie tidak mengganggu Rasti dan keluarganya lagi, Yoga pun tidak akan pernah ikut campur lagi dan bersikap kasar lagi pada Sofie.


"Sofie juga sudah berjanji padaku untuk tidak mengganggu hubungan mu dengan Rasti lagi. Dan dia sudah menyetujui hal itu." seru Yoseph lagi.


Yoga kembali memperhatikan dengan seksama setelah memikirkan beberapa hal yang tadi di ucapkan oleh Yoseph.


"Makin aku bicara lama pada ibu, Sofie makin menunjukkan kalau dia merasa tidak nyaman dan terus memegangi perutnya. Aku langsung ingat pada pesan dokter yang telah mengatakan kalau kehamilan Sofie sangat rentan dan itu membuatku sangat tidak nyaman berada di rumah aku tidak tahu harus membela siapa, Yoga!" keluh Yoseph lagi pada Yoga.


"Aku sudah bicara pada istriku dan kalau memutuskan untuk pindah ke rumah kami sendiri. Dia bahkan sangat senang mendengar hal itu, aku juga sudah bicara pada ayah untuk meminta pendapatnya. Dan Ayah menyarankan agar aku bicara padamu, kalau misalnya aku pergi dari rumah setidaknya kamu bisa pulang kan, Yoga?" tanya Yoseph dengan tatapan mata dan ekspresi wajah yang penuh harap kepada adik kandungnya itu.


Tapi sebelum Yoseph bisa melanjutkan apa yang ingin dia katakan Yoga langsung menyala.


"Maaf kakak, sejak awal kan aku memang tidak bisa tinggal di rumah itu. Bukan apa-apa, aku benar-benar ingin mandiri dan benar-benar ingin hidup tenang. Ayah dan ibu memang sangat perhatian dan sangat baik, tapi kakak juga tahu kan, kalau Ibu sangat menentang hubunganku dengan Rasti. Dan aku tidak bisa seperti itu kak!" jelas Yoga.


Yoseph mengangguk paham.


"Jadi menurutmu bagaimana?" tanya Yoseph.

__ADS_1


"Kakak dan kakak ipar memang seharusnya tinggal di rumah sendiri dan hidup mandiri membangun rumah tangga kalian dengan tenang dan dengan keinginan kalian sendiri!" jelas Yoga.


"Tapi, kakak juga harus selalu ingat untuk menghubungi ayah dan ibu. Aku tidak mengatakan kalau apa yang aku lakukan ini adalah benar. Tapi aku selalu mengusahakan setiap hari menghubungi Ibu dan juga Ayah menanyakan kabar mereka atau sekedar bertanya sedang apa mereka, dan satu atau dua minggu sekali aku juga mengajak Ibu dan ayah makan siang di luar!" jelas Yoga.


Yoseph mengangguk kan kepala nya paham.


"Jadi begitu, aku rasa aku juga akan seperti itu saja. Baiklah aku akan bicara pada ayah. Rasanya persoalan yang terjadi di keluarga kita tidak ada sudah sudahnya ya Yoga?" tanya Yoseph.


Yoga menepuk bahu kakaknya itu perlahan beberapa kali.


"Maaf kakak, saat-saat seperti ini aku tidak bisa membantumu karena aku memang tidak mengerti sama sekali tentang perusahaan!" jelas Yoga.


"Aku tahu Yoga, tidak ada yang berhak memaksakan kehendak kepada orang lain. Dan sebagai manusia yang merdeka kamu berhak menentukan pilihan ingin menjadi apa dan ingin berprofesi seperti apa, dan guru menurutku adalah profesi yang sangat mulia!" ucap Yoseph.


Mereka pun berbincang-bincang selama beberapa lama, hingga tanpa sadar kalau ternyata larut malam pun tiba. Dan mereka bahkan tidak akan menyadari hal itu kalau istrinya Yoseph belum menelpon beberapa kali.


"Terimakasih sudah mau mendengarkan keluh kesahku, aku tidak tahu lagi harus bicara pada siapa kalau bukan padamu. Kamu tahu tidak orang yang paling aku percaya di dunia ini hanyalah kamu, adikku!" ucap Yoseph tulus dari dasar hatinya.


Setelah kepergian Yoseph, Yoga kembali ke kamarnya dan meraih ponselnya yang berada di atas meja. Tapi di ponselnya sudah menunjukkan kalau waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Dan itu sudah sangat larut untuk seorang anak SMA seperti Rasti masih tetap terjaga. Jadi Yoga memutuskan untuk menghubungi Rasti keesokan harinya, dan dia pun lalu istirahat.


Flashback off


Tapi setelah berusaha beberapa kali untuk menghubungi nomor Rasti, Yoga tak juga mendapatkan jawaban.


"Nomornya aktif, tapi kenapa tidak dijawab?" tanya Yoga sambil bergumam.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2