Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Ujian Harian.


__ADS_3

Satu jam berlalu, aku malah jadi tidak fokus karena note yang ada di bawah lembar soal milikku. Padahal pak Yoga benar-benar memberikan soal ujian sesuai dengan materi yang di ajarkan kemarin saat aku les privat di rumahnya. Tapi aku malah tidak fokus, entah berapa banyak aku mengganti lembar jawaban, aku merasa tulisan di lembar soal ku ini jadi jungkir balik. Perasaan aku sudah menulis jawaban dengan tepat, tapi setelah ku baca lagi, kenapa aku merasa jawaban soal nomer sembilan ku tulis sebagai jawaban di nomer enam.


Aku mengacak rambut ku sendiri karena aku benar-benar merasa sangat frustasi.


"Ini kenapa sih, otak gue?" gumam ku benar-benar merasa frustasi. Karena waktu ujian yang hanya tinggal setengah jam lagi.


"Lu kenapa Ras?" tanya Dewi yang mungkin terganggu dengan apa yang ku lakukan.


"Gue puyeng Wi, ni soal kenapa jungkir balik semua sih di mata gue!" jawab ku mengeluh padanya.


Dewi malah terkekeh.


"Ha ha ha, kocak lu Ras. Tumben amat lu puyeng, biasanya juga lu jawab A semua tuh pilihan ganda, terus lu jawab pakai lirik lagu tuh essay nya!" ucap Dewi dan sialnya apa yang dia katakan itu memang benar.


Aku memang akan selalu menjawab dengan lirik lagu pada soal essay dan selalu menyilang kunci jawaban A pada pilihan ganda. Itu semua aku lakukan karena aku merasa, pasti ada yang benar kan jika aku menyilang A saja. Tapi itu untuk nilai di bawah rata-rata. Kali ini aku ingin mendapatkan nilai delapan.


"Nih, mau lihat jawaban gue gak?" tawar Dewi padaku.


Aku mengernyitkan dahi ku, dia itu malah akan lebih parah menjawabnya dari pada aku. Dia kan menjawab dengan cap go ci, haduh aku bahkan tidak pernah dengar dan lihat dia dapat nilai lebih dari enam.


"Makasih ya Wi, lu tuh emang sahabat gue paling baik. Tapi gak usah deh! gak papa kok, gue bakal paksa otak imut gue ini buat mikir lebih keras lagi!" jawab ku dengan suara yang ku buat sangat lembut.


"Ya udah!" sahutnya singkat.


Dan seperti nya pak Yoga menyadari kecemasan ku. Meskipun aku tak menoleh ke arahnya sama sekali saat mengerjakan soal.


"Akan bapak tambahkan waktunya, 30 menit lagi. Baca soalnya perlahan, dan setelah menjawab usahakan membacanya sekali lagi ya, pastikan kalian semua berhati-hati saat menjawab pertanyaan nya!" seru pak Yoga yang tak bergerak dari kursinya.


Aku jadi menatap ke arah nya, dan mata ku bertemu pandang dengannya.


Deg... deg... deg...


'Ih, apaan sih! jantung gue nih kenapa sih? jangan gini dong jantung! pliss, jangan baper. Tuh cowok yang ada di depan itu, yang lagi senyum sama lu itu, bentar lagi jadi suami orang! pliss jangan baper!' batin ku lalu memalingkan wajah ku dari pak Yoga yang masih menatap ku.

__ADS_1


Aku kembali menghela nafas ku panjang, dan mengatur detak jantung ku.


"Gue pasti bisa!" gumam ku dan mulai membaca soal di depan ku dengan teliti.


"Ras, gue heran deh! ini tuh cuma ujian harian, tapi gue lihat, lu tuh parno nya udah kayak mau perang tahu gak, kayak ujian ini tuh menentukan hidup dan mati lu gitu?" tanya Dewi membuat ku memalingkan pandangan ku dari kertas ujian ke arahnya.


"Wi, sekali-kali gue pengen juga kali dapet nilai bagus, gue pengen gitu uang jajan gue di tambah, biar gak makan soto sama gorengan doang gue di kantin!" jawab ku asal padanya.


Dewi kembali mengangguk paham. Dan aku kembali berdecak kesal, saat aku ingin fokus, ada saja yang mengganggu konsentrasi ku.


Aku mengerjakan sebisa ku, aku sudah mulai pasrah. Apalagi saat pak Yoga berdiri dan mengatakan,


"Oke semuanya, waktu kalian lima belas menit lagi! periksa lagi yang sudah selesai, dan yang belum selesai, lebih fokus lagi!" seru nya pada kami semua.


Aku masih belum menjawab tiga soal lagi.


'Heran deh, ini soal cuma 30. Waktunya dua jam, kenapa gue ngerasa soalnya jadi 300 sih!' kesal ku dalam hati.


"Oke, waktu habis! Marco, bantu kumpulkan semua lembar jawaban teman-teman mu. Lembar soal boleh kalian simpan!" seru pak Yoga.


Dan apa yang di katakan oleh pak Yoga barusan itu, membuat ku gelagapan. Alhasil sebelum Marco sampai aku menulis jawaban essay terakhir dengan asal dengan jawaban 'Gak tahu, i give up!' dan menyerahkan lembar jawaban ku pada Marco.


"Wih, kemajuan nih bukan lirik lagu essay nya!" seru Marco melihat sekilas lembar jawaban ku.


Aku menatap sinis ke arahnya sambil menjulurkan lidah ku. Dan dia malah terkekeh karena aku melewek padanya.


Aku melihat ke arah pak Yoga, dia seperti nya merasa tidak senang saat aku begitu akrab pada Marco.


'Ih, gue mikir apa sih! ya kali dia gak seneng. Sumpah Rasti, otak lu makin lama makin eror nih. Sadar diri aja, pak Yoga itu cuma mau bantu lu doang, karena prestasi lu yang selama hampir dua tahun ini gak ada bagus-bagus nya!' batin ku.


"Terimakasih semuanya, selamat siang!" ujar pak Yoga lalu keluar begitu saja dari dalam kelas.


Aku menghela nafas lega, apapun hasilnya setidaknya kali ini aku sudah berusaha, aku melipat tangan ku diatas meja dan menjatuhkan kepala ku di atasnya.

__ADS_1


"Huh, selesai juga!" gumam ku sambil memejamkan mataku sekilas.


Nina menoleh ke belakang, sepertinya Bu Risky guru pelajaran matematika belum datang.


"Eh, lu kenapa Ras?" tanya Nina sambil melepas kacamata bacanya.


Dewi menjawab Nina, sebelum aku mulai membuka mulut ku.


"Lu tahu gak, dari tadi tuh si Rasti gupek sendiri tahu gak? udah kayak ujian ini penentuan hidup dan mati aja gitu!" sindir Dewi padaku.


Aku mengangkat kepala ku.


"Gue tuh juga mau punya nilai bagus sekali-kali kayak Yusita, Marco, Dodo noh. Masa' iya mereka terus ranking satu, dua, tiga. Emang gak ada gitu yang mau nyempil di tengah mereka?" tanya ku pada kedua teman ku yang sedari tadi hanya menertawakan ku.


"Lu muat kalau nyempil Ras, kalau gue sih pasrah aja. Gak bakal muat soalnya!" jawab Nina begitu saja.


Nina malah membicarakan tubuh kami seperti nya, aku yang kurus ini mungkin dengan mudah nyempil di antara tiga teratas di kelas ini. Padahal kan maksud ku bukan itu.


Ting!


Tiba-tiba ada pesan masuk ke ponselku. Karena Bu Risky belum datang, aku membuka pesan itu.


*Pulang sekolah tunggu saya di kelas kamu*


Aku langsung membelalakkan mata ku, ini pesan dari pak Yoga karena namanya Somebody, aku belum mengubah namanya. Tapi kupikir itu tidak buruk.


'Maksud nya gimana ya? apa jangan-jangan gue dapet delapan. Yes!' batin ku senang.


"Kenapa lu?" tanya Dewi lagi. Dia sungguh peka.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2