
Selama seharian ini pak Yoga terus berada di rumah sakit, tadi dia sempat tidur sebentar setelah makan siang. Dan dia bahkan tidur sambil duduk di kursi dengan memeluk lenganku. Aku senang dia begitu perhatian dan perduli padaku, meski di sisi lain aku merasa sangat tidak enak pada keluarga nya.
Masalahnya adalah hari ini adalah hari pernikahan kakak kandung satu-satunya pak Yoga. Dan dari apa yang telah aku dengar dari pak Yoga, dari yang selama ini di ceritakan nya padaku. Kakak nya itu sangat menyayangi pak Yoga, mereka berdua saling menjaga dan melindungi. Selalu berusaha untuk selalu ada setiap momen terpenting mereka, dalam suka ataupun duka.
Meski pak Yoga terlihat biasa saja dan seolah tak perduli, tapi aku bisa merasakan kalau sebenarnya dia sangat sedih telah membuat Yoseph kecewa dengan tidak bisa mendampingi nya di hari bahagia Yoseph. Aku yakin hal yang sama juga dirasakan oleh Yoseph, kakak pak Yoga. Dia pasti juga merasa kehilangan saat ini. Aku sampai berfikir seandainya aku tidak hadir dalam kehidupan pak Yoga, seandainya aku tidak bertemu dengan ibu pak Yoga sebelum hari pernikahan terjadi, semua pasti tidak akan seperti ini.
Tapi untuk apa aku berandai-andai seperti itu, semua sudah terjadi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa memaksa pak Yoga untuk datang ke sana, dia sudah berbuat sejauh itu demi aku. Tidak mungkin aku membuat apa yang dia lakukan terasa sia-sia baginya.
Hari sudah mulai malam, dan pak Yoga baru saja selesai mandi. Dia tadi membeli kaos dan celana di toko dekat rumah sakit. Aku sudah bilang agar dia mandi di rumahnya dan istirahat saja, tapi dia menolak. Dia bilang tidak ingin lama-lama meninggalkan aku.
"Aku akan mengatakan pada orang tua mu tentang hubungan kita!" ucapnya tiba-tiba setelah kembali duduk di sebelahku, setelah keluar dari kamar mandi.
Aku tertegun, ayah bahkan melarang ku dekat dengan teman pria. Panji saja kalau mau mengajak ku jalan atau mentraktirku makan biasanya kalau ayah tidak ada dan kerja keluar kota. Ini pak Yoga mau bilang kalau aku pacaran dengannya pada ayah.
"Jangan kak, ayah ku melarang ku pacaran sampai aku lulus!" ucap ku segera setelah aku tersadar.
Pak Yoga menggenggam erat tangan ku dan menatap ku dengan lembut.
"Hubungan kita ini sudah serius Rasti, Tirta juga sudah tahu..."
Sebelum pak Yoga bisa menyelesaikan perkataannya, aku segera menarik tangan ku dan menggelengkan kepalaku dengan cepat. Pak Yoga tidak akan mengerti, tapi ayah ku itu sangat mengerikan kalau sudah marah.
__ADS_1
"Tirta tidak akan bilang pada ayah, dia pasti menjaga rahasia ini. Aku juga akan bilang pada bibi untuk tidak mengatakan apapun pada ayah tentang kejadian kemarin. Kak Yoga, tolonglah jangan lakukan itu, ayah ku bisa sangat marah padaku!" pintaku setelah menjelaskan panjang lebar pada Pak Yoga.
Pak Yoga terdiam, dia terlihat kecewa dengan apa yang aku katakan. Tapi aku juga tidak mau sampai masalah ini semakin buruk, belum lagi kalau ayah sampai tahu apa yang di katakan dan di lakukan ibunya pak Yoga padaku. Dia akan sangat marah pada keluarga pak Yoga, bukan hanya itu. Pak Yoga pasti juga akan menjadi sasaran kemarahan ayah.
"Tapi Rasti, satu tahun itu sangat lama. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti. Akan lebih baik kita jujur pada kedua orang tua mu dan...!"
Aku tahu akan percuma jika hanya bicara, aku segera meraih salah satu tangan pak Yoga dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku mohon kak, kak Yoga tidak mengenal ayah ku. Kalau dia marah padamu maka hubungan kita bahkan bisa saja...!" aku menghentikan ucapan ku karena aku pun tak mau mengatakan kalimat itu.
Mungkin sebelum mendengar cerita dari Tirta semalam, aku masih bisa membela pak Yoga di depan ayah jika ayah tidak menyetujui hubungan ku dengan pak Yoga. Aku akan membantah ayah dan memperjuangkan cintaku bersama pak Yoga. Seperti biasanya dulu.
Tapi setelah mendengar cerita Tirta tentang betapa ayah ku memperjuangkan nyawa ku bahkan mempertaruhkan banyak hal untuk mendapatkan hak asuh ku. Sejak saat itulah aku berjanji pada diriku sendiri, kalau aku tidak akan pernah lagi menentang apapun yang dikatakan oleh ayah ku mulai saat ini dan kedepannya.
Kak Yoga tidak langsung menjawab, dia terdiam sejenak. Tapi kemudian dia tersenyum. Pak Yoga mengusap kepala ku dengan lembut dengan tangannya yang satu lagi yang tidak aku genggam.
"Baiklah, aku akan menuruti keinginan mu. Tapi jika suatu saat ada situasi dimana aku harus mengungkapkan hubungan kita ini, maka kamu tidak akan marah kan?" tanya nya.
Aku yang awalnya senang karena dia setuju untuk backstreet dari ayah ku, setelah mendengar kata terakhir kalimatnya, aku sedikit bingung. Tapi untuk sekarang aku rasa aku hanya bisa setuju saja, agar tidak memperpanjang masalah ini. Aku mengangguk cepat, dan ikut tersenyum.
Ceklek
__ADS_1
Suara pintu terbuka, membuat ku dan juga pak Yoga melihat ke arah pintu bersamaan.
"Tirta!" sapa pak Yoga yang tidak juga melepaskan tangan ku.
Tirta segera mengangguk membalas sapaan pak Yoga, lalu dia berjalan cepat ke arah kami. Aku lihat dia membawa sebuah rantang makanan.
"Rasti, bagaimana keadaan mu?" tanya nya sambil mengusap lengan ku.
Aku mengangguk dan tersenyum.
"Sudah lebih baik kak!" jawab ku dan dia langsung tersenyum ketika aku menyapanya dengan kata 'kak'.
"Oh ya pak Yoga, ini aku bawakan makanan. Bibi yang memasakkan ini untuk kita. Ayo kita makan malam dulu!" ucap Tirta begitu sopan pada pada pak Yoga.
Melihat pemandangan ini, aku mulai yakin kalau memang Tirta dan pak Yoga memang baik-baik saja, mereka tidak bertengkar dan sudah menyelesaikan kesalahpahaman antara mereka.
Pak Yoga dan Tirta makan bersama, aku sudah makan malam dengan makanan rumah sakit tadi karena aku harus minum obat. Aku hanya menemani dan mengamati mereka saja dari ranjang pasien ku.
Aku lihat mereka sesekali berbincang-bincang. Sambil makan dengan lahap, sesekali mereka juga terkekeh. Aku senang hubungan Tirta dan pak Yoga sangat baik seperti itu.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah selesai makan malam. Tirta membereskan peralatan nya dan di bantu oleh pak Yoga. Mereka sudah seperti kakak dan adik saja. Rasanya sangat senang dan damai melihat mereka akur seperti itu, semoga tidak hanya untuk saat ini. Tapi juga ke depannya bisa terus seperti ini.
__ADS_1
***
Bersambung...