
Yoga Adrian POV
Saat ini aku sedang mengendarai mobil ku menuju ke rumah untuk pulang, seperti permintaan rasti, dia ingin aku istirahat. Dan aku hanya bisa mengikuti kemauannya itu, karena dia juga terlihat cemas melihat keadaan ku kemarin.
Sebenarnya sangat tidak tenang meninggalkan Rasti yang masih di rawat di rumah sakit. Meskipun dokter mengatakan kalau dia sudah membaik dan besok pagi pun sudah boleh pulang, tapi tetap saja aku merasa sangat cemas pada keadaannya.
Terlebih lagi apa yang ku dengar dari Tirta tentang semua kejadian di masa lalu Rasti. Sepanjang perjalanan ke rumah aku terus memikirkan hal itu. Bagaimana seorang ibu kandung begitu kejam pada darah dagingnya sendiri. Seandainya saja saat itu Rasti tidak bertemu dengan Tirta dan ibunya, entah apa yang akan terjadi pada Rasti di pantai saat itu.
Aku terus menghela nafas ku, Rasti telah begitu banyak mengalami kemalangan di masa lalunya. Aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan membuat Rasti merasa sedih atau sakit lagi.
Tapi aku juga berfikir kalau apa yang dipikirkan oleh ibuku itu juga sangat salah. Dia pasti salah paham pada perkataan dokter Dona. Dan aku rasa akar dari semua masalah ini adalah wanita bermuka dua itu.
"Ck... rasanya sangat kesal harus memanggil nya kakak ipar, wanita jahat itu selalu melakukan sesuatu yang membuat orang lain sakit hati!" gumam ku sambil fokus pada jalanan yang cukup ramai malam ini.
Beberapa saat kemudian aku sudah tiba di komplek perumahan tempat ku tunggal. Saat mendekati pagar rumah, aku lihat sebuah mobil terparkir persis di depan gerbang. Aku kenal sekali dengan mobil itu. Aku menepikan mobilku cukup jauh dari mobil itu. Saat aku turun dari mobil, benar saja kak Yoseph sudah ada di depan pintu, dia bahkan duduk di teras dengan memegang kepalanya yang dia tundukkan ke arah bawah.
Dengan cepat aku menghampiri nya,
"Kakak, apa yang kamu lakukan disini?" tanya ku heran. Tentu saja aku heran, seharusnya kan ini malam pengantin nya dengan perempuan licik itu. Kenapa malah dia meninggalkan istrinya dan pergi kemari.
Kak Yoseph langsung bangun dan menghampiri ku, wajahnya terlihat sangat lelah.
"Bagaimana keadaan Rasti, Yoga? apa dia baik-baik saja? aku harap dia baik-baik saja?" tanya kak Yoseph.
Kakak ku ini memang orang yang sangat baik. Aku tidak perlu meragukan hal itu. Aku langsung mengangguk dua kali.
"Iya, dia baik-baik saja. Keadaan nya sudah membaik, terimakasih sudah peduli pada Rasti kak!" jawab ku
Kak Yoseph terlihat menghela nafas lega. Seperti nya dia ikut senang karena kondisi Rasti tidak perlu di cemaskan lagi. Kak Yoseph menepuk bahuku pelan dan berkata,
__ADS_1
"Aku minta maaf atas apa yang dilakukan oleh ibu dan Sofie!" ucap mu tulus.
Kak Yoseph malah meminta maaf dan bersikap seolah-olah dirinya lah yang bersalah atas semua kejadian ini. Padahal aku tahu, dia bahkan tidak tahu apapun sebelum aku datang ke rumah waktu itu.
"Kenapa kakak minta maaf, semua ini bukan salah kakak!" jawab ku.
"Tetap saja Yoga, semua ini juga adalah salah ku. Kesalahan ku karena tidak bisa mengenali sifat Sofie yang sebenarnya sebelum pernikahan kami, karena itu ibu jadi begitu membenci Rasti. Sepertinya aku memang tidak mengenali istriku sendiri!" keluh kak Yoseph. Dia benar-benar terlihat sangat sedih.
'Bagaimana kamu yang baru mengenalnya beberapa bulan tahu sifat aslinya, aku saja yang sudah menjalin hubungan dulu dengannya selama bertahun-tahun tidak tahu rupa aslinya!' batin ku.
"Sudahlah kak, lupakan saja itu. Rasti sudah membaik. Kakak tidak perlu merasa bersalah seperti ini. Rasti itu gadis yang baik, dia bahkan sama sekali tidak kesal ataupun marah pada ibu!" jelas ku panjang lebar agar kak Yoseph tidak lagi merasa sedih.
"Tapi apakah setelah ini kamu benar-benar tidak akan pulang?" tanya kak Yoseph.
Aku menghela nafas ku panjang.
"Aku minta maaf kak, tapi sepertinya aku tidak akan bisa tinggal dengan orang-orang yang tidak menerima Rasti!" ucap ku tegas.
"Baiklah, tapi apakah malam ini aku boleh menginap disini. Aku lelah sekali!" katanya.
"Tentu saja!" sahut ku singkat.
Aku mengajak kak Yoseph masuk ke dalam rumah. Kelihatannya dia sangat lelah, aku juga yakin dia memang sangat lelah. Hari ini adalah hari pernikahan nya, dia pasti berdiri berjam-jam untuk menerima ucapan selamat dari para tamu.
Kak Yoseph duduk di sofa, dan aku membuatkannya secangkir teh manis hangat. Kak Yoseph tidak suka kopi. Dia punya asam lambung yang parah, jadi dia tidak bisa mengkonsumsi caffein.
"Bagaimana dengan acara mu, apa semua lancar?" tanya ku sambil meletakkan cangkir teh di atas meja di depan kak Yoseph.
Kak Yoseph yang menyandarkan kepalanya di sandaran sofa segera mengangkat kepalanya, dia membenarkan posisinya dan meraih cangkir teh itu.
__ADS_1
"Semua lancar, tapi seperti biasanya. Ibu mertua ku itu selalu berusaha menarik perhatian media. Aku tidak tahu kenapa aku bisa begitu menyukai Sofie, seperti ingin mendapatkan nya, tapi setelah menikahinya aku merasa kalau dia sebenarnya tidak benar-benar mencintai ku, entahlah Yoga!" keluhnya lagi.
Sebenarnya ingin sekali mengatakan pada kak Yoseph tentang keluarga itu dan juga Sofie. Tapi sepertinya cepat atau lambat dia juga akan menyadarinya sendiri. Keluarga materialistis itu dalam waktu cepat pasti akan membuka rupa asli mereka sendiri.
"Aku awalnya merasa kalau keluarga itu sangat kasihan, terutama Sofie. Dia harus bekerja keras, siang dan malam menjadi model dan artis untuk membantu keluarga mereka yang berada di ambang kehancuran, tapi semakin aku membantu seperti nya mereka semakin menekan dan... ck... seharusnya aku tidak mengatakan ini padamu Yoga!" ucapnya lagi sepertinya dia merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa kak, kamu bisa mengatakan apapun padaku. Aku jamin tidak akan keluar dari rumah ini apapun yang kamu katakan, karena aku pandai menyimpan rahasia!" sahut ku.
Kak Yoseph terkekeh kecil.
"Tapi ada satu hal yang ingin aku ketahui, tapi jika kamu tidak keberatan?" tanya nya.
Aku mengernyitkan kening
"Tentang apa?" tanya ku singkat.
"Apa masa lalu Rasti benar-benar seperti apa yang di katakan oleh ibu, Yoga sebelumnya aku minta maaf, aku juga tidak akan mempermasalahkan tentang masa lalu Rasti, tapi aku hanya ingin tahu, itu jika kamu tidak keberatan!" ucapnya lagi.
"Tidak kak, masa lalu Rasti memang sangat menyedihkan. Tapi bukan seperti yang di ketahui oleh ibu atau seperti yang istrimu itu katakan. Rasti bahkan tidak pernah di sentuh oleh pria lain..!"
"Jadi maksud mu, kamu benar-benar sudah menyentuhnya?" tanya kak Yoseph.
"Ck.. belum kak. Dia masih sekolah, aku tidak akan melakukan hal yang akan membuatnya kesulitan!" jelas ku.
"Aku bangga padamu, tapi apa kamu yakin bisa menunggunya selama itu? bukankah dia baru akan lulus say tahun lebih lagi. Dan selanjutnya dia pasti akan kuliah kan, dan itu membutuhkan waktu tiga sampai lima tahun. Apakah kamu bisa bersabar selama itu?" tanya kak Yoseph.
Aku tahu apa yang di cemaskan oleh kak Yoseph. Usia ku memang sudah tidak muda lagi, tapi menunggu Sofie dulu aku bertahan sampai empat tahun, aku yakin aku bisa menunggu Rasti. Pasti bisa.
Yoga Adrian POV end
__ADS_1
***
Bersambung