Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Bercerita pada Tirta


__ADS_3

Setelah makan siang aku memaksa agar Panji segera pulang ke rumahnya. Jika dia terus berada di sini maka semua cemilanku akan habis. Dan ibu Rita bahkan tidak bisa beristirahat karena dia terus saja mengajak Ibu Rita mengobrol.


"Udah sana pulang!" ucapku seraya mendorong Panji agar keluar dari rumah.


Meskipun pemuda itu terus saja protes aku tidak peduli dan tetap mendorongnya sampai di depan pintu.


"Wah, tega bener lu sama gue ya Ras. Ini nih yang namanya habis manis sepah dibuang, gue berasa jadi tebu tau nggak? pas butuh aja gue disayang-sayang pas lu udah nggak perlu gue lagi gue disuruh pulang!" ucap Panji dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat.


Tadinya aku merasa kesal tapi setelah melihat wajahnya itu aku jadi terkekeh sendiri.


"Gue mau belajar Panjul, lu juga harus belajar kan buat ujian besok udah sono pulang!" seru ku pada Panji dan hendak menutup pintu rumahku karena Panji sudah keluar sepenuhnya.


Tapi baru saja aku mau menutup satu pintu, ada suara motor yang aku kenali masuk ke dalam gerbang. Dan benar saja ternyata yang datang adalah Kak Tirta. Karena Kak Tirta pulang maka aku mengurungkan niatku untuk menutup pintu.


Panji yang juga masih berdiri di depan pintu pun menyapa Kak Tirta, dia mulai bersikap sok akrab kepada kakak tiriku itu.


"Siang kak, baru pulang?" tanya Panji mengapa kakak Tirta dengan sopan.


Kak Tirta yang baru saja turun dari motornya terlihat terburu-buru menghampiriku.


"Gimana ceritanya lu bisa pulang sama Panji?" tanya kak Tirta sambil melihat ke arahku dan kearah Panji secara bergantian.


Baru sejak aku ingin membuka mulutku untuk menjawab pertanyaan Kak Tirta tapi si Panjul itu terlebih dahulu menyela.


"Tadi itu gue baru aja nyelamatin adek lu dari para penjahat Kak, nggak tanggung-tanggung 10 orang preman preman pasar!" ucapnya seolah-olah dia telah menjadi pahlawan.


Dia memang benar kalau tadi tidak ada dia mungkin aku juga bingung harus bagaimana. Tapi tidak semua yang dia katakan itu benar, preman-preman tadi tidak sebanyak itu.


Raut wajah Kak Tirta mendadak menjadi cemas.


"Lu gak papa Ras?" tanya Kak Tirta yang terlihat panik dia bahkan memegang kedua lenganku dan memeriksa bagaimana kondisi ku.

__ADS_1


Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat berkali-kali.


"Gak papa kak, bener kata Panji. Untung aja ada Panji yang kebetulan udah stay di atas motor, preman-preman itu mau ngedeket langsung deh gue bonceng itu motor Panji terus minta dia supaya cepat jalan!" jelas ku.


"Tuh kan kak, keren kan gue!" Panji sungguh membuat ku ingin menoyor kepalanya yang besar itu, eh salah besar kepala itu.


Tirta menghadap ke arah Panji dan mengucapkan terima kasih kepadanya.


"Makasih ya, lu udah nolongin adik gue. Tapi lu keren juga loh, 10 orang preman pasar dan lu gak jiper?" tanya Tirta yang menganggap omongan Panji barusan itu adalah benar.


Wajah Panji terlihat sombong dan aku tidak ingin membiarkan hal itu terjadi.


"Gak ada kak, cuman empat orang doang!" ralat ku.


"Ck... masa sih Ras, perasaan tadi itu 10 orang dia yang gua lihat!" Panji masih berusaha untuk membuat di depan Kak Tirta.


"Emang kenapa bisa kayak gitu? lu abis berantem atau gimana?" tanya Tirta yang akhirnya menemui kejanggalan terhadap peristiwa ini dia bertanya kepadaku sambil mengusap kepalaku dengan lembut.


Tadinya saat kau Tirta masuk ke dalam rumah dan ingin menutup pintu si Panji itu masih mau masuk lagi ke dalam, tapi dia kalah cepat karena kalau kita sudah menutup pintunya. Aku sampai terkekeh melihat kelakuan Tirta dengan Panji.


Kak Tirta memang selalu bisa menjagaku, aku ingat saat Marco juga banyak membual, Kak Tirta juga bisa mengancamnya dan membuat Marco terdiam. Dan sekarang ketika Panji melakukan hal yang sama, kak Tirta bahkan lebih tegas kepadanya. Aku rasa apa yang dikatakan oleh Ibu Rita itu benar, kalau aku tidak perlu takut karena ada kak Tirta yang akan selalu menjaga dan melindungi ku.


Kak Tirta masuk ke ruang keluarga dan duduk di sebelahku.


"Sekarang coba ceritain ada masalah apa kamu di sekolah sampai kamu disamperin sama preman preman pasar kayak gitu?" tanya kak Tirta langsung pada poin utamanya.


"Kakak nggak mau minum dulu gitu?" tanya ku.


Aku bertanya seperti itu karena kah Tirta kan baru saja pulang dari kampus. Dia juga tempat menghampiriku di sekolah Meskipun aku sudah pulang dengan Panji, jadi Quraisy teh segelas minuman dingin akan membuatnya lebih segar.


"Rasti ambilin jus di belakang dulu ya sebentar?" tanya ku pada Kak Tirta menawarkan minuman untuknya.

__ADS_1


Kak Tirta akhirnya mengangguk setuju, dan aku segera berdiri lalu melangkah kearah dapur untuk membuatkan nya segelas jus. Beberapa saat kemudian setelah minumannya jadi aku membawanya keluar dari dapur dan meletakkannya di atas meja di hadapan Kak Tirta.


"Ini kak, minum dulu!" ucap ku lalu kembali duduk di sebelah Kak Tirta.


"Ibu mana?" tanya kak Tirta sambil melihat ke sekeliling mencari keberadaan Ibu Rita.


"Ibu di dalam kamarnya lagi istirahat, tadi tuh dia kecapekan gara-gara buatin makanan buat Panji sama ngedengerin ocehan nya si Panji itu nggak udah udah!" jawab ku panjang lebar.


Dan Kak Tirta hanya mengangguk paham,


"Oh gitu!" jawabnya sambil meminum minuman yang aku buatkan.


"Terus coba ceritain gimana ceritanya kamu bisa diincar sama tuh preman-preman?" banyak Tirta yang kelihatannya begitu penasaran dengan ceritaku.


"Jadi tuh gini ceritanya, gua kan tadi ujian tuh bahasa Inggris, nah pas lagi ujian gue tuh ngelihat ada temen sekelas gue, bukan temen sekelas sih tapi dia itu satu jurusan cuman beda kelas. Kalau pas ujian gini ni dicampur gitu anak-anaknya, nah namanya tuh Friska. Gue kan nggak tahu tuh kalau bokap dia itu kepala preman pasar!" jelas ku tapi sepertinya Kak Tirta bingung dengan penjelasanku.


"Ini gue ya nggak ngerti karena gua baru habis dari panas-panasan, apa emang lu ceritanya belibet?" tanya kak Tirta memasang ekspresi wajah yang bingung.


Aku berpikir sebentar dan mulai bicara lagi.


"Gue lagi ujian bahasa Inggris, gue lihat ada siswi yang ada di kelas yang sama sama gue pas gue ujian bahasa Inggris itu dia nyontek bareng sama temen-temennya, terus gue lapor sama guru pengawas, namanya Friska! abis gua laporin sama guru pengawas dia sama temen-temennya disuruh keluar, didiskualifikasi dari ujian, dia gak terima mungkin. Bokap nya preman pasar! nah mungkin dia udah ngadu sama bokapnya terus bokapnya nyuruh anak buahnya...!" aku terdiam karena aku juga tidak tahu apa tujuan dari preman preman itu tadi mengawasi dan mendekatiku.


"Kak, kira-kira mereka mau ngapain ya? apa mereka mau mukulin gue?" tanya ku pada kak Tirta.


"Mungkin!" jawab ka Tirta enteng.


Aku jadi semakin takut saja, badanku ini sudah kurus tinggal kulit dengan tulang kalau dipukuli mau jadi apa aku.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2