Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Terus Terang pada Ibu


__ADS_3

Sudah hampir dua jam aku mengerjakan dua puluh contoh soal matematika yang di buat oleh kak Yoga, dan yang aku kerjakan bahkan belum ada lima belas soal.


"Kak, ini susah! aku tidak bisa!" ucap ku jujur.


Mungkin bagi oak Yoga ataupun Marco ataupun Dodo dan juga Yusita yang memang sudah menganggap rumus matematika itu seperti rumus membuat teh manis, yang hanya perlu gula, teh dan air panas pasti sangat mudah menyelesaikan soal-soal ini.


Tapi bagiku yang merasa kalau rumus matematika itu sama dengan membuat bebek betutu, jangan tanya aku bagaimana menjabarkan apa saja bahan yang di perlukan.


Tapi meskipun berkali-kali aku mengeluh, kak Yoga tidak sekalipun menunjukkan sikap jengah atau bosan. Dia bahkan terus membantu ku, memberikan cara yang lain kalau dengan cara awal aku tidak mengerti, tapi dia tidak memberikan rumus lain. Rumus itu mutlak dalam matematika.


Setelah di jelaskan oleh kak Yoga, aku mulai bisa mengikutinya. Satu persatu soal sudah aku kerjakan, dan tanpa sadar hari sudah semakin sore.


"Kak, sudah sore! aku pulang dulu ya!" ucap ku sambil membereskan barang-barang ku.


"Tapi baru contoh soal matematika saja yang kamu kerjakan, bahasa Inggris nya belum!" sela kak Yoga.


Sebenarnya dia benar juga, tapi bagaimana lagi.


"Ayah dan ibu ada di rumah kak, aku tidak bisa pulang terlambat, aku akan bawa saja soalnya, dan akan aku kerjakan di rumah ya!" ucap ku sambil memasukkan selembar kertas berukuran F4 ke dalam tas ku tentu saja setelah aku lipat seukuran tas selempang ku.


Aku berdiri dan kak Yoga juga ikut berdiri, dia terlihat tidak senang.


"Rasanya baru sebentar bersama dengan mu disini!" lirih kak Yoga.


Aku jadi tidak enak hati padanya.


"Besok kan kita ketemu di sekolah, aku pulang dulu ya!" ucap ku lalu berjalan ke arah pintu.


Kak Yoga menahan tangan ku.


"Aku antar!" ucapnya dan langsung ku balas dengan anggukan.


Beberapa saat kemudian, kami berdua sudah berada di dalam mobil kak Yoga. Aku dan kak Yoga banyak mengobrol membahas soal matematika tadi.


"Yang penting kamu ingat rumusnya, maka semuanya akan menjadi lebih mudah!" serunya.

__ADS_1


"Siap bos!" sahut ku memberi hormat padanya dengan meletakkan tangan ku di pelipis, seperti saat menghormat pada bendera merah putih yang akan di naikan ke tiang tertinggi tiang bendera saat upacara hari Senin atau pas tujuh belas Agustus'an.


Kak Yoga hanya terkekeh melihat tingkah ku, tanpa terasa aku pun sudah sampai di depan gang. Aku sengaja meminta kak Yoga berhenti di depan gang dan tidak di rumah.


"Terimakasih kak, sudah mengantarkan aku pulang dan mengajari aku!" ucap ku tersenyum.


Kak Yoga mengangguk.


"Sama-sama, tapi selain belajar kamu juga harus perhatikan istirahat. Jangan begadang!" ucapnya.


Aku mengangguk paham, dan membuka handel pintu. Aku keluar dari dalam mobil dan langsung pergi meninggalkan kak Yoga menuju ke rumah ku.


Saat aku berbalik, Kak Yoga sudah melajukan mobilnya. Aku cukup senang hati ini. Keluargaku pulang, hubungan kami membaik, aku juga sudah belajar dan di beti contoh soal. Sepertinya ini hari terbaik ku.


Namun baru saja aku mensyukuri hari terbaik ku, aku mendengar keributan saat tiba di depan gerbang, aku juga melihat sebuah mobil yang tadi ku lihat di rumah kak Yoga.


Aku membelalakkan mataku, ketika aku mengingat mobil siapa itu.


"Perempuan itu!" gumam ku dan langsung masuk ke dalam rumah.


Aku langsung berlari ke arah ibu Rita dan berada di depannya, menghalangi Sofie yang menunjuk-nunjuk pada ibu Rita.


"Ngapain kamu kesini?" tanya ku kesal pada perempuan yang tidak ada capeknya marah-marah dan membuat onar ini.


Dia nampak semakin marah saat melihat ku.


"Oh, ini dia biang masalahnya! puas kamu sudah membuat seorang ibu di benci anaknya hah!" bentak nya sambil melotot dan menunjuk-nunjuk ke arah ku.


"Dengar ya, anak gadis mu ini sudah membuat seorang anak laki-laki marah dan angkat kaki dari rumahnya sendiri, sekarang ibu mertua ku sakit. Dan jika terjadi sesuatu padanya maka kamu lah yang bertanggung jawab!" ucap nya dengan nada mengancam.


Ibu Rita memegang lengan ku dengan erat, dan berada di sampingku.


"Kamu tidak berhak bicara seperti pada putriku, aku sudah bilang aku yang mendidik putriku, aku yakin dengan didikan ku. Silahkan keluar atau aku akan panggil satpam untuk menyeret mu keluar, bibi panggil satpam komplek!" seru ibu Rita dan bibi pun dengan sigap berlari keluar.


Meski masih sangat emosi seperti nya tatapan tajam Sofie masih kalah dengan tatapan tajam ibu Rita, Aura ibu Rita benar-benar seperti membuat Sofie merasa takut.

__ADS_1


"Ck... lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian!" gertak Sofie namun dengan langkah cepat dia meninggalkan rumah kami.


Ibu Rita terlihat menghela nafas lega dan langsung terduduk lemas di sofa ruang tamu.


"Dasar perempuan aneh, datang-datang marah-marah tidak jelas!" keluh ibu Rita.


Aku ke dapur dan mengambilkan segelas air minum untuk ibu Rita.


"Ini Bu!" ucapku sambil memberikan gelas itu pada ibu Rita yang terlihat syock.


Ibu meminumnya dan meletakkan gelas itu ke atas meja.


"Rasti duduk lah!" pinta ibu Rita sambil menepuk sisi sebelahnya duduk.


Aku langsung menuruti permintaan ibu Rita dan langsung duduk di sisinya.


"Rasti percaya pada ibu kan? ibu juga percaya apa yang dikatakan oleh perempuan itu tidak benar, ibu yakin pasti tidak benar. Ibu kenal Rasti sejak kecil, ibu tahu Rasti tidak akan melakukan hal yang akan membuat seorang anak membenci ibunya sendiri kan?" tanya ibu Rita.


Aku menghela nafas ku pelan.


"Tapi...!" aku bingung harus bicara dari mana.


Ibu Rita menepuk tangan ku lembut.


"Rasti punya pacar?" tanya ibu Rita lembut.


Aku hanya mengangguk pelan. Sebenarnya aku tidak mau kalau sampai ayah dan ibu tahu, tapi karena Sofie itu sudah bertemu dengan ibu. Aku rasa sudah tidak ada yang bisa di sembunyikan lagi.


"Maaf ibu, aku tahu ayah melarang ku untuk pacaran sampai aku lulus. Tapi aku dan kak Yoga saling menyukai...!"


"Jadi namanya Yoga, terdengar familiar?" tanya ibu Rita menyela ucapan ku.


"Dia guru Rasti di sekolah Bu!" jawab ku dengan suara sangat pelan.


***

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2