Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Curhatan Panji


__ADS_3

Author POV


Yoga melajukan kendaraannya menembus keramaian jalanan ibu kota. Sesekali dia menoleh ke arah Panji yang masih sesekali juga memegang kepalanya.


"Apa kamu masih bisa bertahan?" tanya Yoga yang mulai mencemaskan keadaan Panji.


Di tanya seperti itu, Panji malah terkekeh.


"Astaga pak, kita sedang di luar sekolah! apa harus bapak juga menggunakan bahasa baku seperti itu?" tanya Panji balik.


Yoga sedikit mengerutkan keningnya, di tanya malah balik nanya. Yoga merasa pemuda di sebelah nya ini pasti sudah terkena geger otak ringan.


"Hanya memastikan kamu tidak pingsan!" jelas Yoga kemudian.


"Saya gak akan pingsan pak, saya gak selemah itu. Kalau saya lemah saya gak akan bisa melindungi orang yang saya sayangi!" ucap Panji secara diplomatis.


Yoga tersenyum kecil, kali ini dia setuju dengan apa yang di katakan oleh Panji. Sebagai seorang pria, tentu saja harus kuat, agar bisa melindungi diri sendiri dan orang yang dia sayangi. Yoga jadi teringat pada Rasti lagi, gadis itulah yang saat ini paling dia sayangi setelah ibunya. Rasti membuatnya melupakan saat-saat kelam dalam kehidupan asmaranya.


Saat Yoga pindah ke perumahan, hatinya masih hancur karena pengkhianatan kekasih yang sangat dia cintai. Bahkan sebanyak apapun gadis yah sudah di kenalkan oleh ibunya padanya. Tak dapat membuat hatinya berpaling dari masa lalunya. Namun ketika bertemu dengan Rasti, pelukan tidak sengaja Rasti padanya malah membuat hatinya kembali berdegup kencang, membuat dirinya merasa sangat tertarik pada Rasti dan dengan mudah bisa menyukai nya dalam waktu singkat.


Yoga tersenyum mengingat semua kejadian yang dia alami bersama Rasti. Dan ketika Yoga tersenyum itu, Panji melihatnya. Di jadi penasaran apa yang membuat Yoga begitu bahagia, dia pun menduga kalau Yoga pasti sedang ingat pada pacarnya.


"Bapak sudah punya calon istri?" tanya Panji.


Dan pertanyaan dari Panji itu telah sukses membuat Yoga menjadi terkejut. Bagaimana tidak, menurut Yoga, Panji itu masih terlalu belia kalau menanyakan masalah itu. Tapi melihat dari situasi nya sekarang kalau mereka sedang di luar sekolah, artinya bisa jadi Panji merasa ini adalah pembicaraan sesama pria. Jadi menurut Yoga tidak masalah jika dia pun menjawab pertanyaan Panji tersebut.


"Iya, saya sudah punya calon istri!" jawab Yoga santai.


Panji jadi makin penasaran, orang yang sepintar, sekaya, dan setampan pak Yoga itu menurut nya calon istri nya juga pasti sangat mempesona. Panji memperbaiki posisi duduknya menyerong sedikit ke arah pak Yoga.

__ADS_1


"Wah pak! bagi sedikit solusinya dong pak!" pinta Panji pada Yoga.


Yoga masih belum mengerti apa maksud dari perkataan Panji itu.


"Solusi, solusi untuk apa?" tanya Yoga memastikan apa yang dimaksud oleh Panji.


"Solusi buat menaklukkan wanita yang cuek dan belum pernah pacaran!" jelas Panji.


Yoga masih terdiam dan hanya menolehkan wajahnya sekilas melihat ke arah Panji lalu kembali lagi fokus ke arah depan untuk mengemudi. Dan seperti nya Panji juga sadar kalau apa yang dia katakan tadi memang belum di mengerti oleh pak Yoga. Dia sadar kalau apa yang dia katakan tadi sedikit tidak jelas.


"Jadi gini lho pak! saya kan udah ngedeketin seorang cewek nih, tapi cewek itu tak peka tuh kalau saya deketin dia. Saya sampai kehabisan ide!" ucap nya mengeluhkan masalah percintaan nya pada seorang pria yang adalah gurunya sendiri.


Yoga hanya mengangguk perlahan.


"Kamu kehabisan ide, karena kamu sudah pakai ide itu ke banyak wanita?" tanya Yoga yang juga mengetahui tentang sepak terjang Panji di sekolah.


Yoga juga pernah mendengar dari Rasti kalau Panji itu playboy paling paling playboy di sekolahnya. Belum ada yang ngalahin track record nya Panji sebagai seorang playboy di sekolah itu.


Panji terlihat menghela nafasnya berat.


"Sebenarnya saya hanya sedang menunggu nya saja. Sangat sulit menjalin hubungan melebihi teman dengannya, saya ingin dia cemburu, rapi dari sekian banyak gadis yang bersama saya. Tidak ada satu pun yang bisa membuat nya cemburu!" keluh Panji.


Yoga mulai berfikir, kalau gadis yang sangat disukai Panji itu pasti gadis yang istimewa. Tapi dengan cepat dia menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran yang tidak-tidak. Bagaimana mungkin dia memuji gadis lain selain Rasti, kekasihnya sendiri.


"Apa kamu sudah mengungkapkan perasaan mu padanya?" tanya pak Yoga.


Kini pak Yoga juga sudah mulai menganggap kalau Panji itu teman. Jadi dia berusaha untuk membantu masalah hati yang dihadapi oleh Panji.


Panji mengangguk kan kepalanya.

__ADS_1


"Sudah, tapi dia tidak pernah menganggap saya serius!" keluh Panji lagi.


"Mungkin karena track record kamu, coba lah untuk menjadi pemuda baik beberapa waktu ini. Tapi jangan terlalu lama juga, nanti dia bisa di ambil orang!" ucap Yoga mencoba untuk mencairkan suasana yang sudah tampak tegang.


Panji terkekeh, dia juga tidak menyangka kalau pak Yoga bisa bercanda seperti itu dengan nya. Selama ini pak Yoga memang di kenal dengan image guru yang ramah dan baik, tapi Panji tidak menyangka bahkan dia bisa sampai curhat pada pria di sampingnya itu.


"Saya harap sih tidak pak, karena dia itu terlalu cuek. Jika saya saja yang mendekatinya dan mengenalnya bertahun-tahun setiap menyatakan perasaan hanya di anggap main-main lalu bagaimana dengan pria asing yang kemungkinan saja baru dia kenal, dia tidak akan mudah jatuh hati seperti nya. Ada sesuatu yang terjadi di masa lalunya dan...!" Panji lalu menyudahi kalimatnya.


Meskipun dia sudah mengatakan tentang perasaan nya dan keluh kesahnya pada pak Yoga. Bukan berarti dia bisa menceritakan masa lalu gadis yang dia sukai juga pada pak Yoga.


Pak Yoga sendiri paham kenapa Panji berhenti bicara.


"Tidak apa-apa, memang tidak baik membicarakan tentang orang lain, pada orang lain juga. Oh ya, kita sudah sampai. Sebaiknya beri kabar pada keluarga mu!" ucap pak Yoga yang memarkirkan mobilnya di tempat parkir sebuah klinik.


Yoga membantu Panji turun dari dalam mobil lalu memapahnya ke ruang dokter. Dokter yang berjaga langsung memeriksa kondisi Panji.


"Jadi bagaimana kondisi nya dok?" tanya Yoga pada dokter yang nickname nya tertulis nama Yuki.


"Pasien sedikit trauma, butuh istirahat dulu. Saya akan menginfus pasien, dan menyuntikkan obat penghilang rasa sakit yang bisa membuatnya istirahat beberapa jam. Dia sangat membutuhkan itu. Setelah dia sadar, baru saya akan memeriksa lebih lanjut!" jelas dokter Yuki.


"Apa parah dok?" tanya Yoga memastikan keadaan Panji.


"Seperti nya tidak, semoga saja saya benar. Tapi untuk memastikan kita harus menunggunya sadar dulu!" jawab dokter itu.


Dan ketika Yoga melihat ke arah Panji yang terbaring di ranjang pasien. Ternyata dia memang sudah tidur, padahal baru beberapa detik yang lalu Yoga masih melihatnya terbangun.


"Baiklah, saya permisi dulu!" ucap dokter Yuki yang keluar dari ruang rawat Panji menuju ke ruangan lain untuk memeriksa kondisi pasien yang lain lagi.


Author POV end

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2