Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Salah Paham


__ADS_3

Aku sudah berada di koridor menuju ke kelas ku, anak-anak kelas dua belas sepertinya sudah mulai libur. Sejak kemarin aku tidak melihat mereka lagi. Mungkin karena mereka sudah ujian kelulusan. Mereka mendapatkan libur yang lebih cepat daripada kami kelas sepuluh dan sebelas yang baru mulai Senin depan ujian kenaikan kelas.


Aku menoleh ke arah lapangan basket yang berada tak jauh dari tempat ku berjalan. Aku melihat si Panji sedang ada disana.


"Ck... masih pagi udah main basket. Huh, alamat bau badan gak sih itu!" gumam ku sendiri sambil terus berjalan.


Namun langkah ku terhenti, ketika aku melihat sesuatu yang membuat ku sedikit terkejut. Aku melihat Bu Noni guru kesenian yang memang adalah guru termuda di sekolah ini sedang bicara sangat akrab dengan lelaki yang aku juga kenal baik siapa dia.


Aku bersembunyi di balik tembok, berusaha mendengarkan apa yang sedang mereka berdua bicarakan.


"Jadi begitu pak Yoga ceritanya, saya harap pak Yoga mau membantu saya ya!" ucap Bu Noni dengan lembut.


"Maaf Bu Noni, tapi saya benar-benar tidak bisa membantu ibu. Siang ini saya sudah buat janji dengan seseorang, dan saya tidak bisa membatalkan janji tersebut!" jawab pak Yoga.


"Sebegitu penting kah, orang itu untuk pak Yoga?" tanya Bu Noni yang terdengar sedih.


"Dia sangat penting, bahkan dia yang terpenting!" jawab pak Yoga.


Deg!


Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari hatiku, siapa yang akan ditemui oleh pak Yoga. Apakah orang itu sepenting yang aku kira. Laki-laki atau perempuan ya? aku jadi sangat penasaran.


Tapi ketika aku melihat ke arah pak Yoga dan Bu Noni sedang mengobrol tadi, ternyata pak Yoga sudah tidak ada disana.


'Hah, gue kebanyakan ngelamun nih. Sampai pak Yoga pergi gue gak tahu!' batin ku kesal.


Bu Noni masih berdiri di tempatnya, aku lihat Bu Noni terlihat sedih.


'Apa Bu Noni juga menyukai pak Yoga. Huh, banyak sekali sih yang suka sama pak Yoga!' keluh ku dalam hati lagi.


Saat aku sedang serius memperhatikan ekspresi Bu Noni yang terlihat sedih, seseorang menepuk bahu ku dari samping.


"Heh, ngapain lu?" tanya seorang siswa yang aku kenal betul siapa dia. Tentu saja sangat familiar, dia bahkan semalam kerja kelompok bersama ku.


"Ih, sok akrab lu!" protes ku sambil menepis tangan Marco dari bahu ku.

__ADS_1


"Elah, pakai berlagak lupa ingatan lu. Semalem kan lu abis gue apelin!" ucapnya sembarangan.


"Hah, kalian jadian?" teriak Nina yang baru saja datang dan saat ini berada tepat di belakang Marco.


Aku membulatkan mataku, lalu spontan memukul lengan Marco.


Plak


"Aduh!" pekik Marco sambil mengusap lengannya yang sudah aku pukul dengan seluruh tenaga dalam ku.


"Galak amat sih sama pacar sendiri!" ucapnya membuatku bertambah kesal.


"Marco, sekali lagi lu ngomong yang gak gak gue cabein tuh mulut ya!" gertak ku pada Marco.


"Cie Rasti punya pacar, wah ini hot news nih, gue kasih tahu anak-anak dulu ya!" ucap Nina yang ternyata masih belum mengerti dengan sikap ku yang terus menunjukkan ucapan Marco itu tidak benar.


"Eh Nina, dasar dudul...!" seru ku lalu mencoba mengejar Nina yang berlari menuju ke dalam kelas.


Namun aku tak dapat mengejar Nina yang larinya lamban itu karena seseorang menahan ku dengan memegang kuat pergelangan tangan ku.


Aku berusaha melepaskan tangan Marco, tapi tak bisa. Kenapa juga dia harus menahan ku seperti ini.


"Eit jangan pergi dulu. Mana tugas kita, udah lu cetak kan. Sini biar gue kliping di perpustakaan. Nanti tinggal lintang nyari kacang telur nya!" serunya tanpa melepaskan tangan ku.


"Nanti juga bisa kan Marco, lepasin gue dulu. Nina tuh salah paham, dan anak-anak yang lain bisa salah paham juga. Ngerti gak sih lu?" tanya ku kesal.


Tapi tetap saja apapun yang aku katakan, Marco tidak melepaskan tangannya dariku. Dia ini memang keras kepala sekali.


"Oke oke, lepasin tangan lu! gue ambil tugas proposal dari dalem tas gue!" ucap ku.


Dan ternyata dia melepaskan tangannya dariku.


'Huh, repot nih. Anak-anak pasti salah paham!' batin ku mengeluh.


Sambil terus mengeluh, aku pun mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tas ku.

__ADS_1


"Punya gue juga kan?" tanya ku pada Marco sambil memberikan beberapa lembar kertas itu. Lebih tepatnya bukan hanya beberapa lembar, tapi puluhan lembar.


"Ya kalau sama punya lu, lu harus ikut gue lah ke perpus!" ujarnya membuatku melotot lagi padanya.


"Gimana ceritanya?" tanya ku memprotes nya lagi.


"Ini udah jam berapa, mana bisa lima belas menit gue nge jilid dua proposal. Udah ikut gue, kita buat bareng biar cepat!" ucapnya lalu menarik tangan ku seenaknya saja dan mengarahkan kami berdua ke arah perpustakaan.


"Eh, kenapa itu Rasti di tarik-tarik begitu?" tanya Bu Noni karena kami melewati nya.


"Ini Bu, dia sakit perut mau saya bawa ke UKS!" jawab Marco dan kami pun berlalu.


Aku baru saja akan membuka mulut ku untuk mengklarifikasi ucapan Marco, tapi Bu Noni sudah lebih dulu berbalik dan pergi.


"Lu tuh apaan sih, katanya mau ke perpus. Kenapa malah lu bilang kita mau ke UKS?" tanya ku kesal sambil menghentakkan tangan ku dengan kuat agar terlepas dari genggaman Marco. Dan itu berhasil


"Lah, daripada gue bilang kita mau ke KUA? mendingan ke UKS kan?" tanya nya dengan enteng.


"Sinting lu!" geram ku pada Marco lalu berjalan mendahului nya menuju ke perpustakaan.


Kami berdua sudah ada di perpustakaan, di sini memang di sediakan sebuah ruangan dimana kami bisa mempermudah menyelesaikan segala pekerjaan atau tugas dari sekolah. Ada ruangan fotocopy yang berada di area perpustakaan, namun tidak menyatu dengan perpustakaan. Terpisahkan satu ruangan. Ada juga berbagai alat dan bahan yang bisa di pakai untuk membuat kliping, di kelola oleh koperasi sekolah. Dan harganya jauh lebih ekonomis daripada di tempat fotocopy di luar sekolah.


"Nih punya lu!" ucap Marco memberikan aku kertas Manila dan plastik jilid berwarna hitam.


"Astaga Marco, horor banget ya hidup lu. Gak mau gue warna hitam. Cariin gue warna putih!" seru ku sambil merapikan halaman tugas kami.


"Ogah gue warna putih, biru aja!" bantah nya.


"Emang harus sama apa? lu terserah mau hitam, mau biru, gue putih pokoknya!" balas ku lagi.


"Ya harus sama lah Rasti, biar kita ketahuan satu kelompok. Gitu aja gak paham! rangking berapa sih lu semester kemarin?" tanya nya seperti menyalakan obor peperangan dengan ku.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2