Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Pulang dengan Panji


__ADS_3

Ujian hari pertama telah selesai, aku sudah menyelesaikan ujian bahasa Inggris semampuku. Aku berharap setidaknya nilaiku lebih dari 5. Tapi diluar semua itu sebenarnya ada hal yang lebih aku cemaskan.


Sebelum keluar di dalam kelas tadi, Lutfi sempat menahanku sebentar dan mengatakan sesuatu yang menurutku tidak masuk akal. Dia mengatakan agar aku tidak pulang sendirian, aku masih belum mengerti maksudnya. Tapi ketika aku menanyakan kepadanya apa alasannya memintaku agar tidak pulang sendirian, dia malah mengatakan agar aku menuruti apa yang dia katakan saja tanpa banyak bertanya.


Semakin menjauhi kelas itu, dan semakin sepi suasana di koridor. Membuat bulu kuduk ku berdiri. Tidak memikirkan hal yang macam-macam aku lebih memilih untuk cepat meninggalkan tempat ini.


Saat ini aku sudah berjalan ke luar gerbang, aku menunggu Tirta menjemput ku persis di depan pintu gerbang yang masih terbuka lebar, suasana tempat ini cukup ramai karena banyak siswa siswi yang berlalu-lalang Anda keluar dari gerbang sekolah untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Tapi memang benar, sejak tadi aku merasa ada beberapa orang yang memperhatikanku dari jauh. Segerombolan preman seperti nya sedang berbisik-bisik dan melihatku dari seberang jalan. Suasana makin sepi, tapi Tirta tak kunjung datang untuk jemput aku.


Aku mulai memikirkan apa yang dikatakan oleh temanku Lutfi tadi, kalau aku tidak boleh pulang sendirian.


"Woi...!" teriakan seseorang yang membuatku nyaris terjingkat.


Aku memegang dadaku dan mengelusnya perlahan. Jantung ku nyaris terlontar dari tempatnya sangking terkejutnya. Ternyata orang yang mengagetkanku tadi adalah Panji.


"Ngapain masih berdiri sendirian di sini mana bengong kayak sapi ompong, ngerusak pemandangan tahu nggak!" seru Panji yangb seperti biasanya bukannya memuji tapi dia malah selalu mengata-ngatai aku.


Aku mulai mengalihkan pandanganku dari , Panji ke segerombolan preman yang ada di pinggir jalan itu lagi. Mereka terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah ingin menyebrang jalan. Aku mulai panik, dan tanpa permisi aku pun naik ke boncengan belakang motor Panji.


"Eh, tumben amat nurut kayak anak TK, biasanya gue tawarin pulang bareng sampai mulut gue dower juga lu kagak mau ikut!" ucap Panji.


Aku mulai menepuk-nepuk punggung Panji, agar dia cepat melajukan motornya saat para preman itu mulai menyebrang jalan.


"Udah buruan, nanti gua ceritain di jalan sekarang buruan jalanin motor lu!" seru ku.


Panji tidak banyak bertanya dan langsung menyalakan mesin motornya lalu kami pun melaju menjauh dari para preman yang terlihat berlari mengejar kami.


Panji juga mulai menyadari hal itu, dia beberapa kali menoleh ke arah kaca spion motornya.


"Eh, tuh kenapa orang-orang badan yang gede-gede kayak mau ngenet gue ya?" tanya nya bingung.

__ADS_1


Sepertinya Panji mengira kalau orang-orang itu tengah mengejar Panji, padahal aku sudah merasa aneh sejak tadi karena mereka terus melirik ke arahku saat aku masih berada di depan gerbang sekolahan.


"Kayaknya gak deh Panjul, mereka tuh dari tadi lihatin gue terus!" jelas ku pada Panji.


Panji malah terkekeh.


"Kenapa mereka ngeliatin lu terus, body kayak triplek gitu apa bagusnya dilihatin!" ucap Panji malah seolah-olah menganggap semua ini sebagai lelucon.


Plak


Mendengar Panji mengoceh seperti itu aku jadi kesal. Aku memukul punggung Panji dengan kencang saking kesalnya sampai tanganku terasa panas.


"Ih, lu tuh dari dulu bilang kalau body gua kayak triplek, tapi kenapa lu nembak gue sampai bberapa kali hayo!" balas ku pada Panji.


Panji terdiam, lalu mana beka motornya di tepi jalan.


"Ih Panjul, ngapain berhenti coba entar kalau orang-orang itu ngejar kita lagi gimana?" tanya ku pada Panji.


"Pertanyaan apa? lu enggak kasihan sama otak imut gue hah, gue tuh baru aja ujian 2 mata pelajaran paling susah dalam hidup gue, sekarang lu mau tambahin pertanyaan lagi lu tuh bener-bener ya!" kesal ku pada Panji.


"Gue serius Rasti, gue suka sama lu. Gue harap kita tuh bisa lebih dari sekedar teman!" jelas Panji.


Dan menurut ku Panji mengatakan sesuatu yang tidak tepat pada waktunya. Posisi kami ini sedang dikejar-kejar oleh para preman yang buahnya besar-besar seperti Bang Tigor, dan tanpa mereka seram-seram seperti Limbad. Kenapa juga Panji masih kepikiran buat nyatain perasaannya lagi diam lagi padaku.


Tapi mengeluh pun kurasa tidak ada gunanya, aku hanya bisa mengeluarkan jurus andalan ku yaitu menolak memakai ayahku sebagai alasan utamanya.


"Panjul, lu tahu kan banyak banget cowok yang suka sama gue terus ngedeketin gue...!"


"Mana ada?" tanya Panji menyela apa yang tengah aku katakan.


"Ih, lu gak percaya! terserah sih! tapi lu juga tahu kan kalau bokap gue enggak ngebolehin gue deket sama siapapun sebelum gue lulus sekolah, kalau gue ketahuan pacaran sama bokap gue bisa langsung dikirim pakai roket gue ke bulan, mending kalau ke bulan nah kalau ke planet mars, bisa gosong gue!" jawab ku panjang lebar.

__ADS_1


Panji terdiam sebentar, dialah yang lebih tahu seperti apa tegasnya ayahku. Karena selain kami teman satu sekolah dia juga adalah tetanggaku rumah kami pun dekat. Jadi dia pun mengenal seperti apa sifat ayahku.


Sepertinya dia bisa menerima alasan kenapa aku selalu menolaknya.


"Ck... repot nya gini nih, kalau jatuh cinta sama perempuan yang otaknya minimalis! karena nilainya gak nggak pernah bener makanya dilarang pacaran!" omelnya entah ditujukan kepada siapa.


Tapi karena dia mengatakan perempuan yang otaknya minimalis itu pasti ditujukan kepadaku.


"Ya salah siapa suka sama perempuan yang otaknya minimalis coba?" balas ku bertanya padanya.


Dan seperti nya dia tidak mau lagi berdebat, Dia terlihat menghembuskan nafas kesal tapi kemudian menyalakan lagi mesin motornya dan kami pun melaju ke arah rumah kami.


Selama perjalanan pulang sesekali aku menoleh ke arah belakang, aku khawatir kalau orang-orang berbadan besar itu tadi mengikuti kami dan menemukan di mana rumah kami. Tapi sepertinya itu tidak terjadi.


Panji menghentikan motornya tepat di depan pintu gerbang rumah ku, dan di sana ada ibu ku yang sedang merapikan tanaman hiasnya.


"Rasti, sudah pulang nak! nak Panji mampir minum dulu!" sapa nya sangat sopan.


Sebenarnya ibu Rita itu memang adalah orang yang ramah dan sopan hanya aku selama ini terlalu kesal karena pemikiranku sendiri jadi aku tidak menyadari hal itu.


"Gak usah Bu, Panji bilang tadi dia itu kebelet pipis!" ucap ku pada ibu Rita.


Yang sedang kami bicarakan bukannya cepat pergi malah turun dari motornya.


"Karena gue kebelet pipis jadinya gue numpang pipis di rumah lu ya, Tante Rita Panji masuk ya numpang pipis!" ucapnya meminta izin pada Ibu Rita dan langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh Ibu Rita.


Melewati ku begitu saja Panji bahkan menjulurkan lidahnya mengejekku ketika masuk ke dalam rumah.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2