Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Terlalu Bocil untuk Pacaran


__ADS_3

Teman-teman ku sudah pulang, Marco awalnya bersikeras untuk menginap, alasannya adalah agar bisa mengawasi botol infus ku, bergantian dengan kak Tirta. Tapi baru saja dia mengatakan itu, seorang perawat masuk dan melepas selang infus dari tangan ku. Katanya aku sudah tidak memerlukan infus lagi, karena aku sudah banyak makan dan juga minum.


Dan hal itu membuat Marco harus pulang. Kak Tirta juga tidak mengijinkan nya untuk berlama-lama di ruang rawat. Tapi dasar Marco, saat kak Tirta bilang jam besuk sudah habis, dia bilang kalau keluarga boleh dong menginap. Dan ucapan Marco itu membuat kak Tirta harus menggulung lengan bajunya dan mengepalkan tangannya. Baru Marco keluar dari ruang rawat ku.


"Kak Tirta tidur saja, gue masih mau nonton televisi!" ucap ku pada kak Tirta yang sedari tadi terus berada di sebelah ku.


Dia bahkan terlihat sudah menguap beberapa kali.


"Gue akan nemenin elu. Lu benar-benar gak ingin memberi kabar pada ayah Rudi?" tanya Tirta.


"Tidak kak, akan panjang urusannya. Kakak juga jangan beritahu ayah dan ibu ya. Mereka akan khawatir." jelas ku dan Tirta terlihat mengangguk setuju.


"Oh ya, apa yang kakak bicarakan dengan pak Yoga?" tanya ku penasaran.


"Heh, urusan laki-laki. Lu juga kenapa gak bilang sama kakak kalau kalian itu sebenarnya pacaran?" tanya Tirta dengan nada protes.


"Kan takut dimarahin sama ayah. Hubungan kita juga belum sebaik ini kan? takut aja kakak ngadu sama ayah. Habis deh uang jajan!" jawab ku asal.


"Dasar bocil, udah berani pacaran tapi masih takut di potong uang jajan. Gimana sih?" tanya kak Tirta kesal.


"Yey, tadinya gue juga gak mau kali pacaran. Tapi mau gimana lagi. Dia nya mepet terus, mana sikapnya lembut, baik dan perhatian banget. Melting lah gue!" ucapku mulai bisa sangat akrab pada Tirta.


"Udah ngapain aja lu sama dia?" tanya Tirta tiba-tiba membuatku langsung terdiam.


Aku tidak mungkin kan mengatakan kalau sudah dua kali di cium oleh pak Yoga. Kalau Tirta suatu saat kesel sama aku, dia bisa saja kan mengatakan itu semua pada ayah. Dan kalau ayah sampai tahu, bisa di cekik aku nanti.


"Ngapain aja? maksudnya?" tanya ku pura-pura polos.


Tidak tahu Tirta akan percaya atau tidak, tapi aku harap sih dia akan percaya.


"Ngapain aja, udah nonton berdua, atau kalian udah ngedate?" tanya nya lebih spesifik lagi.


Ternyata memang aku yang terlalu berfikir berlebihan, padahal kan pertanyaan nya hanya seperti itu saja. Kenapa malah aku mengira yang tidak-tidak.


"Belom pernah, ngedate itu makan malam berdua gitu ya?" tanya ku yang memang tidak tahu maksud Tirta.

__ADS_1


Tirta malah menepuk jidatnya sendiri.


"Tuh kan bocil, nge date aja gak tahu, udah berani pacaran!" keluh Tirta lagi.


"Ya namanya juga udah cinta, mau gimana lagi?" tanya ku pada Tirta.


"Eh kak Tirta udah punya pacar?" tanya ku penasaran.


Selama ini kan memang aku tidak terlalu dekat dengan Tirta, jadi aku tidak tahu apakah ada perempuan yang sedang dekat dengannya atau tidak. Selama ini dia juga tidak pernah memperdulikan siapa saja teman-teman Tirta, meski mereka juga ada beberapa yang suka datang ke rumah, Rasti tidak pernah mau menyapa bahkan menunjukan dirinya pada teman-teman Tirta itu.


"Gak ada, gak mau pacaran dulu. Mau kuliah yang bener, abis itu kerja, terus jadi orang sukses!" jelas Tirta.


Aku sampai tertegun, ternyata tujuan hidup Tirta itu begitu sederhana. Cita-cita nya hanya ingin menjadi orang sukses.


***


Keesokan harinya


Aku dan Tirta sedang bersiap-siap untuk pulang. Pak Yoga juga sudah datang pagi-pagi sekali untuk menjemput ku.


Aku rasa Tirta langsung setuju karena memang dia kan membawa sepeda motor nya. Aku turun dari ranjang rumah sakit, admistrasi juga sudah di selesaikan oleh pak Yoga. Dia yang memaksa, padahal tadinya Tirta yang mau mengurus itu.


Pak Yoga menuntun ku dengan lembut. Rasanya senang sekali bisa berjalan beriringan dengan dua orang lelaki yang sangat perduli padaku.


Kami berpisah dengan Tirta di area parkir. Kami akan bertemu di rumah. Pak Yoga membukakan pintu mobil untuk ku, lalu setelah itu dia masuk dan duduk di kursi kemudi. Pak Yoga juga memasangkan sabuk pengaman untuk ku. Sambil memasang sabuk pengaman dia tersenyum menatapku.


"Aku mencintai mu!" bahkan dia masih sempat-sempatnya mengatakan kalimat itu padaku.


Aku hanya tersenyum menanggapinya, aku sampai speechless dibuatnya. Selalu ada saja sikap pak Yoga yang membuat ku merasa kalau dia begitu mencintai ku dan menyukai ku.


Setelah kalimat yang membuat hatiku meleleh itu, pak Yoga lalu menghidupkan mesin mobilnya dan kami pun berlalu meninggalkan area rumah sakit.


Aku jadi ingat kalau kemarin itu adalah hari pernikahan kak Yoseph. Jadi aku berinisiatif untuk bertanya apakah pak Yoga sudah memberi ucapan selamat itu pada kakaknya. Kalaupun dia tidak bisa hadir, seharusnya setelah acara selesai dia bisa menghubungi kakaknya itu dan mengucapkan selamat kepada nya kan.


"Em, kak!" panggil ku pada pak Yoga.

__ADS_1


Pak Yoga langsung menoleh sekilas.


"Iya, kenapa sayang?" tanya nya dengan suara khasnya. Sangat lembut dan terdengar begitu merdu di telingaku.


"Apa kakak sudah menghubungi kak Yoseph dan mengucapkan selamat padanya?" tanya ku berhati-hati.


Tapi tidak seperti dugaan ku yang mengira pak Yoga akan merasa tidak senang dengan pertanyaan ku, dia malah tersenyum begitu aku berhenti bertanya.


"Sudah kok, semalam kak Yoseph menginap di rumah!" jawab pak Yoga dengan santai dan sedikit mengulas senyuman di wajahnya.


Aku sedikit terkejut mendengar itu, bukankah seharusnya kalau setelah menikah itu mereka akan... Aku juga tidak tahu, tapi bukankah memang begitu seharusnya.


"Dia menginap di rumah mu, dan meninggal kan isterinya di malam pernikahan mereka?" tanya ku heran.


Pak Yoga malah terkekeh.


"Hei gadis kecil, sepertinya kamu begitu perduli pada malam pernikahan orang lain?" tanya pak Yoga yang sepertinya salah mengerti apa maksud dari ucapan ku.


Aku dengan cepat melambaikan tangan ku berulangkali.


"Bukan begitu, hanya saja. Bukankah mereka seharusnya melakukan itu, apa namanya yang kayak di lagu-lagu itu loh, ah iya... belah duren!" jelas ku.


Citttt


Pak Yoga tiba-tiba saja menginjak pedal rem nya mendadak. Membuat ku terkejut.


"Rasti, jangan katakan itu lagi ya. Apalagi di depan laki-laki lain!" ucapnya dengan wajah serius.


"Kenapa kak? aku hanya dengar itu di sebuah lagu!" jelas ku lagi.


"Kalau begitu jangan dengarkan lagu itu lagi!" tegas pak Yoga dan langsung kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah ku.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2