Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Membersihkan Rumah Bersama


__ADS_3

Pak Yoga terus sepertinya semakin tertarik dengan permainan yang aku perkenalkan padanya.


"Kurasa aku akan mengunduhnya di ponsel ku, tapi kamu jangan sering-sering main. Ingat besok kamu sudah ujian. Apa kamu sudah belajar?" tanya nya dengan wajah serius ambil mengembalikan ponsel ku pada ku.


Kurasa dia sudah mulai menyerah karena sejak tadi dia selalu kalah dariku. Aku menyimpan kembali ponsel ku, dan menggelengkan kepalaku.


"Aku baru saja selesai makan siang, dan saat aku akan belajar aku memeriksa ponsel ku terlebih dahulu, tapi setelah tidak bisa menghubungi mu, aku malah tidak jadi belajar dan kemari!" jawab ku.


Aku sengaja skip bagian aku ke rumah Panji, aku tidak mau pak Yoga jadi kesal dan suasana hatinya bertambah buruk saja.


Pak Yoga mengusap kepala ku perlahan,


"Mungkin kita bisa belajar setelah pasangan itu pergi dari sini!" ujar pak Yoga.


Aku sedikit ragu akan hal itu.


"Kaka Yoga bilang mereka sudah seperti itu hampir satu jam, apa mungkin mereka akan berhenti sebentar lagi?" tanya ku tak percaya.


Pak Yoga mengangkat bahunya sekilas, dan itu sudah cukup membuatku ikut merasa yakin kalau kami masih akan di garasi ini lebih lama lagi.


Aku kembali memainkan game lain di ponsel ku, awalnya pak Yoga hanya melihat aku bermain game, tapi lama-lama dia malah tertidur dan bersandar di bahuku. Sedikit berat sih, tapi mau bagaimana lagi.


Beberapa menit kemudian, aku mulai merasa kalau suasana semakin hening dan senyap. Kurasa dua orang yang tengah bertengkar di ruang tamu pak Yoga sudah mulai lelah, aku juga tidak bisa mengintip apa yang terjadi. Karena aku tak bisa bangun dari posisi ku, nanti aku akan membangunkan pak Yoga yang tertidur dan mendengkur dengan halus. Kurasa dia sangat lelah, aku tidak mau dia terkejut.


Masih dalam suasana yang cukup sepi, aku mendengar suara mesin mobil yang dinyalakan dan terdengar kalau mobil itu meninggalkan depan gerbang. Tapi aku tidak tahu, mobil siapa itu, apakah itu mobil kak Yoseph atau mobil wanita kejam itu.


Aku menggelengkan kepala ku, tidak mau ikut campur pada urusan mereka. Aku kembali fokus pada layar ponsel ku, tapi tiba-tiba pintu garasi yang awalnya hanya terbuka sekitar sepuluh centimeter, kini terbuka lebar seperti ada yang membukanya.


Dan benar saja, ketika aku melihat ke arah pintu, kak Yoseph sedang berdiri di sana dengan ekspresi wajah terkejut.


"Rasti!" sapa nya padaku.


Aku hanya tersenyum canggung dan mengangguk kan kepalaku perlahan.


"Siang kak!" ucap ku sambil melambaikan tangan ku menyapa kak Yoseph.

__ADS_1


Kak Yoseph lalu mendekati ku dan juga kak Yoga, dia memperhatikan kak Yoga yang tengah tertidur.


"Sejak kapan dia tidur?" tanya Kak Yoseph sambil berjongkok di depan kak Yoga.


"Baru beberapa menit yang lalu!" jawab ku secara singkat padat dan aku yakin jelas.


Kak Yoseph terlihat menundukkan kepalanya sebentar lalu mengalihkan pandangannya dari kak Yoseph ke arah ku.


"Kamu juga sudah lama ya berada disini? apa kamu juga mendengar pertengkaran ku dengan..."


Kak Yoseph tidak melanjutkan kalimatnya ketika melihat aku menunjukkan handset yang masih terpasang di telinga ku.


"Kak Yoga dan aku memakai ini, kami bermain game!" jelas ku padanya meskipun sebenarnya juga tidak semua yang aku katakan benar, karena sebelum memakai handset dan bermain game, aku sempat mendengar sedikit pertengkaran mereka.


Tapi kak Yoseph langsung mengangguk paham, dia kemudian melihat ke arah kak Yoga lagi lalu kembali ke arah ku.


"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu Rasti, tapi sebaiknya tidak disini. Aku akan bangunkan Yoga ya, apa kamu keberatan?" tanya kak Yoseph.


Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat. Kalau dalam arti yang sesungguhnya aku memang merasa keberatan, kak Yoga ini memang sedikit berat, dan bahu ku kurasa juga sudah mulai kebas.


Perlahan kak Yoga bangun dan mengangkat kepalanya, huh rasanya aku sangat lega. Bahuku seperti terbebas dari ribuan kilo beban di atasnya. Ternyata kata pepatah itu tidak selamanya benar ya, kalau ada yang bilang 'seberat apapun beban derita, asal disisi mu maka semua itu tidak akan terasa' itu semua tidak benar. Rasanya tetap kebas.


"Kakak... apa istrimu sudah pulang?" tanya kak Yoga langsung to the point.


Kak Yoseph mengangguk dengan cepat.


"Iya dia sudah pulang. Ayo masuk, maaf ya kamu pasti tidak nyaman berada disini!" ucap kak Yoseph yang terlihat jelas di wajahnya kalau dia merasa bersalah dan tidak enak hati pada adiknya.


Kak Yoga malah tersenyum dan menggeleng.


"Siapa bilang, aku bersama Rasti. Tidak ada tempat yang lebih nyaman selain di sisinya". sahut kak Yoga.


Blush


Aku rasa saat ini wajah ku pasti sudah merona, bisa sekali kak Yoga bicara. Sejak kapan dia bisa menggombal seperti itu.

__ADS_1


Kak Yoseph terkekeh pelan.


"Baiklah, ayo masuk!" ajak kak Yoseph.


Kak Yoga membantu ku bangun setelah terlebih dulu dia berdiri. Dia menggandeng tangan ku dan mengajak ku masuk ke dalam rumahnya.


Aku berdiri di dekat sofa ruang tamu, aku lihat banyak sekali benda berserakan, piring, gelas di meja makan berantakan dan beberapa ada yang pecah di lantai.


"Ini...!" aku menjeda kalimat ku.


"Maaf ya Yoga, aku akan ganti semua kerusakan yang di buat oleh Sofie!" jelas kak Yoseph membuat ku mengerti apa yang sudah menyebabkan ruang tamu dan ruang makan kak Yoga seperti kapal pecah.


Aku langsung melepaskan tas selempang yang aku pakai, lalu meletakkan nya di atas sofa.


"Aku akan bereskan!" ucap ku lalu berjalan ke arah belakang. Tepatnya di teras belakang rumah kak Yoga, aku tahu kak Yoga meletakkan sapi dan peralatan bersih-bersih di sana.


Aku menyapu barang yang berserakan di lantai, kak Yoga membereskan meja makan dan aku lihat kak Yoseph membereskan meja dan sofa di ruang tamu.


'Wah, ternyata tenaga perempuan itu sangat kuat ya, dia bisa marah dalam waktu yang lama bahkan bisa membanting begitu banyak barang!' gumam ku dalam hati.


Setelah hampir setengah jam, ruang tamu dan ruang makan kak Yoga kembali bersih dan lebih rapi dari sebelumnya.


Kami bertiga duduk di sofa ruang tamu, kak Yoga duduk di sebelah ku.


"Bagaimana kalau aku buatkan jus, aku tadi sempat membeli beberapa buah setelah mengantar ku pulang!" kata kak Yoga.


Aku mengangguk cepat, aku memang sangat haus.


"Sebentar ya!" ucapnya lalu segera pergi ke dapur.


"Rasti!" panggil kak Yoseph membuat ku langsung menoleh ke arahnya yang sedang menunjukkan wajah serius.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2