
Yoga sedikit berfikir untuk mengatakan alasan nya pada Rasti, dia sebenarnya agak ragu untuk bertanya.
"Memangnya hanya kumis atau jenggot saja yang bisa di cukur?" tanya Yoga balik.
Rasti yang saat ini malah mengerutkan keningnya.
"Memangnya ada lagi, apa?" tanya Rasti bingung.
Tapi ketika mendengar pertanyaan Rasti itu, pikiran Yoga malah traveling sendiri. Kenapa dia tidak kepikiran tempat lain yang kira-kira bisa di cukur.
"Apa kak?" tanya Rasti yang memang penasaran hingga dirinya akhirnya terus mendesak Yoga.
"Bulu ketek!" jawab Yoga begitu saja.
"Pufftt!" seorang wanita muda pelanggan mini market yang kebetulan lewat pun tak dapat menahan tawanya karena ucapan Yoga barusan.
Rasti bahkan sudah terbahak karenanya.
"Ha ha ha... Jadi ketiak kakak tuh buluan, ih!" ucap Rasti menertawakan Yoga sambil menggidikkan bahu nya sekilas.
Yoga yang di ejek seperti itu tidak marah sama sekali, dia malah tersenyum dan mendekati Rasti.
"Kenapa bergidik seperti itu?" tanya Yoga dengan alis yang sudah terangkat sebelah.
"Ih pakai ditanya lagi, ya geli lah pasti. Iya kan?" tanya Rasti polos.
Pikiran Yoga sudah traveling kemana-mana, padahal yang Rasti pikirkan adalah jika itu akan membuatnya geli, membuat Yoga sendiri sebagai pemiliknya geli. Padahal Ketiaknya juga tidak berbulu sebenarnya.
"Kamu tidak cari camilan yang lain?" tanya Yoga mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan dengan Rasti.
"Aku tidak bawa uang lebih, ini saja satu kilo aku lihat harganya tujuh puluh lima ribu, uang ku hanya seratus ribu karena si Marco belum memberikan...!"
Ucapan Rasti terhenti ketika Yoga merangkulnya dari belakang.
"Kak, ini di tempat umum!" ucap Rasti yang sedikit merasa risih pada perlakukan Yoga.
Yoga yang memeluk Rasti dari belakang, meletakkan dagunya di puncak kepala Rasti.
__ADS_1
"Coba katakan? apa gunanya aku menemani disini?" tanya Yoga secara diplomatis.
Rasti diam sebentar sebelum kemudian menjawab pertanyaan Yoga itu.
"Seperti kata mu, menemani ku lah!" jawab Rasti sesuai dengan apa yang dia pikirkan.
Yoga hanya bisa tersenyum, mungkin itulah alasan kenapa dia begitu menyukai Rasti. Kalau gadis lain pasti tidak akan melewatkan kesempatan menggunakan kartu kredit Yoga, bahkan Sofie pun dulu melakukan hal yang sama. Tapi jawaban polos dari Rasti itu membuat Yoga tersenyum bahagia.
Yoga melepaskan Rasti dan membawa Rasti berbalik agar menghadap ke arahnya.
"Baiklah, selain menemani mu! bolehkah jika aku mentraktir mu?" tanya Yoga dengan bahasa yang mudah di mengerti oleh Rasti.
Yoga bicara langsung pada bahasa yang biasa di gunakan oleh Rasti, kalau dia pakai bahasa baku atau bahkan bahasa kiasan. Yoga takut Rasti tidak mengerti maksudnya lagi.
Mata Rasti berbinar.
"Mentraktir ku, ini juga?" tanya Rasti sambil mengangkat bungkusan kacang telur seberat satu kilo di tangannya.
Yoga tersenyum dan dengan cepat menganggukkan kepalanya di hadapan Rasti.
"Yey, Asik!" teriak Rasti senang sambil mengangkat salah satu tangannya ke atas.
"Boleh ambil apa saja?" tanya Rasti sekali lagi dan sekali lagi juga Yoga mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum.
Yoga hanya memperhatikan dan sesekali melihat Rasti yang terlihat serius berjalan ke sana ke sini memilih makanan apa yang mau dia beli. Beberapa saat kemudian, Rasti dan troli keranjang yang di dorong nya sudah berhenti di depan Yoga.
Yoga melihat isi keranjang yang menurutnya sangat sedikit itu. Hanya berisi satu kilo kacang telur dan lima bungkus permen Dengan rasa berbeda tapi dengan merek yang sama.
"Permen?" tanya Yoga bingung.
Rasti mengangguk dengan cepat.
"Iya, sudah ini sudah banyak. Ayo!" jawab Rasti lalu mengajak Yoga ke kasir.
Tapi baru saja akan maju, Yoga menahan troli yang di dorong oleh Rasti.
"Sayang, walaupun kamu makan banyak permen. Itu tidak akan membuatmu... Ck..!" Yoga menjeda ucapannya.
__ADS_1
"Berikan padaku!" seru Yoga sambil meraih troli itu dan mengambilnya dari Rasti. Yoga mendorong troli itu dan memasukkan beberapa cookies, Snack, dan juga roti kemasan ke dalamnya.
Rasti yang mengikuti langkah Yoga sampai membulatkan matanya takjub.
'Wah, kalau begini sih yang jajan ku bisa utuh. Banyak sekali, aku bisa bawa makanan ini ke sekolah untuk sebulan!' kekeh Rasti dalam hati
Dia sangat senang karena Yoga hampir memenuhi troli itu dengan banyak makanan ringan dan camilan kesukaan nya.
Setelah troli itu penuh, Yoga baru membawa troli itu ke kasir. Banyak sekali wanita wanita yang kebetulan lewat disana melirik ke arah mereka, ada juga yang tersenyum dan seperti mencari perhatian dari Yoga.
Melihat sikap wanita-wanita itu, Rasti langsung menggandeng lengan Yoga dengan cepat membuat Tiga yang masih mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam troli dan meletakkan nya di meja kasir menoleh ke arah nya dan bertanya.
"Ada apa sayang?" tanya Yoga.
"Lihat tuh, mereka sedang senyum padamu!" ucap Rasti ketus sambil menunjuk dengan dagunya ke arah dua wanita yang sejak tadi hanya berdiri di dekat rak yang berisi banyak jenis tissue tapi tak mengambil satu pun dari sana. Jadi Rasti bisa menyimpulkan mereka sedang mencari perhatian Yoga.
Yoga melihat sekilas ke arah dua wanita itu, kemudian kembali dengan apa yang dia kerjakan, yaitu mengeluarkan camilan untuk Rasti yang bahkan beberapa nya sudah di muat dalam dua kantung plastik besar oleh si kasir.
"Abaikan saja!" ucap Yoga santai.
Rasti sedikit terkejut dengan jawaban Yoga, tapi dia tidak bisa melakukan itu. Rasti terus menggandeng lengan Yoga sampai Yoga selesai membayar.
Setelah itu mereka pun kembali ke dalam mobil.
"Sekarang kita akan beli burger!" ucap Yoga.
"Tapi kak, itu tadi sudah sangat banyak. Nanti gaji mu bisa habis. Bagaimana kamu akan bayar cicilan mobil dan rumah mu?" tanya Rasti pada Yoga sedikit cemas.
Tapi saat Rasti merasa cemas pada keuangan Yoga, orang yang di cemaskan malah terkekeh mendengar Rasti begitu memperdulikan cicilan yang tidak ada.
"Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Rasti bingung.
"Apa kamu mengira calon imam mu ini masih punya banyak cicilan?" tanya Yoga pada rasi dan segera di balas anggukan kepala oleh Rasti.
"Sayang, kamu tenang saja. Walaupun aku setiap hari membelanjakan mu sebanyak ini, aku yakin masih bisa membangunkan rumah masa depan kita sesuai dengan keinginan mu!" ucap Yoga.
Rasti terdiam, dia tersenyum begitu bahagia, sejenak dia benar-benar dibuat merasa begitu di hargai dan di manjakan. Tapi dia kembali teringat pada kenyataan yang sempat dia alami tadi, ibu dari kekasihnya itu tidak menyukainya. Dan itu membuat senyum Rasti hilang lagi.
__ADS_1
***
Bersambung...