
Author POV
Tirta benar-benar mengikuti mobil Yusita dari belakang, dia begitu fokus mengikuti mobil itu meskipun lajunya tidak terlalu kencang. Dia tidak ingin kehilangan jejak mobil Yusita.
Tirta merasa sangat bersalah, karena apa yang dia lakukan justru membuat kulit Yusita menjadi ruam kemerahan. Bahkan di dahi, pelipis dan di sekitar hidung dan bibir Yusita. Maksud Tirta memang baik tapi dia sama sekali tidak tahu kalau apa yang dia lakukan malah memperburuk keadaan Yusita. Dia tidak akan merasa tenang sebelum memastikan Yusita benar-benar punya obat alergi yang akan menyembuhkan ruam pada kulitnya. Jika tidak, maka Tirta akan membawanya ke rumah sakit.
Sementara Yusita yang berada di dalam mobil malah terlihat senang dan senyum-senyum sendiri sejak tadi sambil memperhatikan Tirta yang mengendarai motor di belakangnya, Yusita sering menoleh ke belakang dan tersenyum setelah melakukan itu.
"Ternyata selain wajahnya rupawan, kak Tirta itu baik banget ya!" gumam Yusita pelan memuji kebaikan Tirta.
Tapi kemudian dia terdiam dan teringat apa yang sering di ceritakan oleh Rasti tentang Tirta.
"Tapi kenapa Rasti selalu bilang kalau kak Tirta dan ibunya itu tidak baik dan selalu membuatnya kesal. Jadi yang mana yang harus ku percaya, apa yang aku dengar? atau apa yang aku alami sendiri?" gumam Yusita lagi bertanya pada dirinya sendiri.
Supir Yusita juga tahu kalau Tirta akan mengikuti nya, jadi dia juga sengaja memperlambat laju mobilnya.
Beberapa menit kemudian Yusita, sampai di rumahnya. Setelah mengantarkan Yusita, supirnya lalu pergi.
Tirta yang melihat itu terkejut. Dia melepas helm nya dan turun dari motor lalu menghampiri Yusita yang sudah berdiri di depan terasnya.
"Kenapa supir kamu malah pergi, memang ada siapa lagi di rumah?" tanya Tirta cepat.
Dia menanyakan itu karena khawatir tidak ada yang menemani Yusita di rumah padahal dia sedang tidak sehat.
"Memang begitu kak, pak supir akan langsung ke toko kalau sudah mengantarkan aku pulang!" jawab Yusita pada Tirta.
"Tapi di rumah ada orang lain kan, asisten rumah tangga atau saudara kamu misalnya?" tanya Tirta memastikan.
'Ih kak Tirta perhatian banget sih, baper nih gue!' batin Yusita.
"Saya anak tunggal, tidak punya saudara. Tapi di rumah ada bibi kok kak. Terimakasih sudah mengantarkan saya. Saya masuk dulu ya kak!" ucap Yusita.
Tapi sebelum Yusita masuk, Tirta menahan tangan Yusita. Tirta segera melepaskan tangannya dari Yusita ketika melihat gadis itu memandang ke arah tangan mereka.
'Dia pegang tangan gue, astaga! gue gak lagi mimpi kan ini, meleleh nih gue!' batin Yusita lagi.
"Maaf, saya tidak bermaksud...!" Tirta terlihat gugup.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kak, saya masuk dulu ya!" ucap Yusita lagi.
"Boleh saya minta nomer kamu Yusita, saya hanya mau memastikan kalau benar-benar tidak apa-apa. Kamu benar punya obat alergi itu, atau kita lebih baik ke rumah sakit saja?" tanya Tirta pada Yusita.
"Beneran punya obat nya kok kak, emang dari kecil suka alergian, sama buku kucing, sama herbal. Gak tahu juga kenapa bisa gitu, tapi biasanya setelah minum obat, terus tidur sebentar juga alerginya hilang!" jelas Yusita dan penjelasan Yusita itu membuat Tirta menghela nafasnya lega.
"Begitu ya, biasanya kamu tidur berapa jam. Nanti kalau kamu sudah bangun, saya akan video call kamu untuk memastikan alergi kamu hilang!" seru Tirta.
"Sini ponsel kak Tirta!" pinta Yusita.
Tirta lalu memberikan ponselnya, dan Yusita menyimpan nomer ponsel nya ke dalam ponsel Tirta. Setelah itu dia menghubungi nomernya sendiri. Setelah terdengar dering dari dalam tas nya, Yusita mematikan panggilan itu dan memberikan ponsel Tirta kembali padanya.
"Nanti kalau saya sudah baikan, saya telpon kakak saja!" seru Yusita.
Tirta langsung mengangguk paham.
"Baiklah kalau begitu minumlah obat dan istirahat, aku pulang dulu ya." ucap Tirta pamit pada Yusita.
"Hati-hati kak!" seru Yusita dan Tirta pun tersenyum sebelum mengenakan helm nya dan pergi dari rumah Yusita.
Yusita menyatukan kedua telapak tangannya dan meletakkan nya di bawah pipi kirinya.
Yusita lalu masuk ke dalam rumahnya, dan segera mencari obat alerginya. Setelah mendapatkan nya dia segera meminumnya dan segera tidur agar kondisinya lebih baik.
***
Sementara itu di sebuah rumah bercat putih dan gaya rumah klasik.
Seorang wanita sedang membereskan lemarinya, seperti nya di akan membuang barang-barang yang sudah tidak di pakainya lagi.
"Mau kamu buang semua? gak mau kamu kasih ke siapa gitu, pelayan di rumah kita atau...!"
Brakk
Ucapan wanita paruh baya itu terhenti sebelum selesai karena yang dia ajak bicara sudah terlebih dahulu membanting benda-benda di atas meja riasnya.
"Memang nya aku sebaik itu, sejak kapan kalian mengajarkan aku untuk bertingkah sebaik itu? kalian bahkan memintaku menikah dengan orang yang tidak aku cintai, kalian bahkan menyuruhku menyerahkan diriku padanya agar dia tidak bisa mengelak, aku tidak mencintainya Bu, aku tidak mencintai Yoseph hiks hiks hiks... " teriak Sofie mengeluarkan semua keluh kesahnya dengan sangat emosional. Sampai dia terjatuh ke lantai.
__ADS_1
Wanita itu menangis, dia menangisi keadaan nya dan ketidakberdayaan nya yang harus meninggalkan orang yang dia cintai demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan.
Wanita paruh baya yang adalah ibu dari Sofie itu bangun dari duduknya dan menghampiri Sofie. Ranti ikut berjongkok di depan Sofie dan menepuk bahunya pelan.
"Semua sudah terjadi nak, dan saat itu kita semua tahu kalau hanya kamu yang bisa menyelamatkan ayah mu, masa depan adik mu dan keluarga kita!" jelas Ranti.
"Orang yang kamu cintai itu bahkan tidak pernah perduli pada keadaan kita, kamu sudah katakan padanya berulang kali untuk berhenti menjadi guru dan mengurus perusahaan ayahnya tapi dia tidak mau, dan saat kamu membutuhkan dia, dimana dia? dia hanya sibuk mengejar mimpinya dan tidak memperdulikan kamu dan keluarga mu yang bahkan berada di antara hidup dan mati!" jelas Ranti lagi.
Sofie menangis sejadi-jadinya dan memeluk ibunya.
"Tapi aku tidak mencintai Yoseph Bu, aku hanya mencintai Yoga, Hanya dia Bu! aku tidak bisa terus berpura-pura. Rasanya sangat menyakitkan Bu hiks hiks!" keluh Sofie pada ibunya.
Ranti hanya bisa memeluk Sofie dan mengusap punggung nya dengan lembut. Dia juga sedih melihat putri nya seperti itu. Tapi memang saat itu tidak ada jalan lain. Suaminya Dedy yang juga adalah ayah dari Sofie tertipu bisnis ratusan juta rupiah, saat itu Yoga sedang kuliah di luar negeri. Sofie memang belum pernah bertemu dengan keluarga Yoga, dan kebetulan saat pertama kali bertemu dengan Yoseph di sebuah acara amal, Yoseph langsung jatuh hati pada Sofie dan secara langsung mengatakan nya.
Saat itu adik Sofie bahkan tersandung kasus tak kalah pelik, dia di jebak oleh temannya dan dituduh memakai obat-obatan terlarang. Saat itu Yoseph datang dan menawarkan bantuannya, tapi dengan syarat Sofie harus menjadi miliknya.
Sofie bersikeras tidak mau, tapi keluarganya dan juga dirinya tak punya jalan lain.
"Kalau saja pacar mu itu dulu lebih pengertian padamu, kita tidak perlu sampai harus melukainya juga kan?" tanya Ranti yang juga ikut menangisi nasib anaknya.
"Dia sangat membenci ku Bu!" keluh Sofie lagi.
"Biarkan saja, biarkan saja seperti itu. Semua sudah terjadi nak, tidak ada gunanya lagi menangis, dengar Sofie. Kamu berhak dan pantas untuk bahagia, dan tidak ada yang bisa mewujudkan semua itu melebihi Yoseph! kamu mengerti!" seru Ranti dan kembali memeluk Sofie.
'Aku tidak akan bahagia Bu, jika pria itu bukan Yoga aku tidak akan pernah bahagia!' batin Sofie.
Awalnya Sofie bisa bersikap wajar dan biasa saja, tapi setelah mendengar cerita dari Yoseph kalau Yoga sudah punya pacar. Hatinya tidak terima, dia ingin memastikan apakah itu benar, dan ketika dia dan juga Yoseph menemui Yoga dan Yoga mengatakan kalau semua itu benar, Sofie merasa tidak terima.
Dia tidak suka ada yang mencintai Yoga selain dirinya, dia tidak terima ada yang bahagia bersama dengan Tiga sementara dirinya harus menderita.
Dia bahkan merasa kalau disini, dialah yang menjadi korban atas segalanya. Ketidakberdayaan keluarganya, obsesi Yoseph padanya dan impian Yoga hingga membuatnya menjadi yang kedua dan bukan yang utama bagi Yoga.
'Aku tidak terima, aku tidak terima kalian semua bahagia dan hanya aku yang menderita!' batin Sofie
Author POV end
***
__ADS_1
Bersambung...