
Cia tersenyum lebar di depan cermin, sore ini dia dan Alkan akan keluar. Pria berlesung pipi itu mengajaknya jalan jalan sore, sembari mencicipi berbagai kuliner di sepenjang jalan yang akan mereka datangi nanti.
Hari ini Cia, Alkan, dan Bunda Marwah masih berada di kediaman Nagara. Mami Lovyna belum mengizinkan mereka pulang, terutama Bunda Marwah yang masih berada di dalam pengawasan Dokter Hanna.
Dengan balutan kaos oblong, celana jeans kulot serta jaket milik Alkan, Cia terlihat seperti gadis remaja. Jaket yang selalu Cia dekap setiap malam, sebelum mereka berdua resmi menjadi suami istri.
"Sudah siap?" tanya Alkan, tepat berada di belakang tubuh Cia.
Pria berlesung pipi itu hanya menggunakan hoodie abu abu dan celana jeans panjang, terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Cia bahkan tidak berkedip kala menatap sang suami, apa lagi saat melihat Alkan melemparkan senyum padanya.
Sepanjang sore ini mereka akan menghabiskan waktu berdua, melupakan masalah obat Bunda Marwah sejenak, apa lagi Nagara sudah bergerak menanganinya. Jadi Cia dan Alkan tinggal menunggu hasil akhirnya, tanpa harus turun tangan sendiri.
Sekarang waktunya mereka berkencan, apa lagi malam ini adalah malam minggu, Alkan dan Cia akan berpacaran mode halal.
"Udah, Mas Al gak usah ganteng ganteng mukanya, bisa gak sih," ujar Cia asal.
Alkan semakin melebarkan senyumannya kala mendengar ucapan sang istri, si Cimut nya benar benar membuatnya serba salah. Wajahnya sudah pemberian Tuhan, lalu dia harus melakukan apa.
"Kamu juga jangan cantik seperti ini, bisa gak." balas Alkan tidak mau kalah.
Salah satu tangan pria itu terulur untuk mengikat rambut panjang Cia, Alkan mengumpulkan rambut istrinya menjadi satu, lalu mengikatnya.
Cia mengulum senyum kala mendengar Alkan membalas ucapannya, baru pertama kali ini suaminya mengatakan kalau dia cantik, dan itu berhasil membuatnya melting.
"Udah ah, ayo nanti sempolnya keburu abis." kilah Cia salah tingkah.
Wanita berkucir kuda itu menarik lengan Alkan, mereka berdua segera keluar dari kamar.
__ADS_1
🕊
🕊
🕊
"Kalian mau kemana?" tanya Bunda Marwah.
Dahi wanita paruh baya itu berkerut melihat penampilan putra dan menantunya.
"Kita mau nyari sempol, Bunda." sahut Cia.
Si Nyonya Alkan segera menghampiri ibu mertuanya, kedua sudut bibir Cia terus saja tertarik keatas.
"Nanti Cici beliin buat Bunda sama Mami, kita berangkat dulu ya Bun." ucap Cia lagi.
"Bunda pesan yang pedas ya," ujar Bunda Marwah.
"Mami juga ya, Ci." sahut Mami Lovy dari arah belakang.
Cia menganggukkan kepala pelan, setelah itu Cia kembali menarik lengan Alkan menuju pintu utama.
Cia berbinar kala dia akan menaiki motor trail milik suaminya, kali ini tidak perlu ada boneka diantara mereka berdua. Tidak ada lagi pelakor berkedok penghalang, Cia bisa memepetkan tubuhnya serapat mungkin pada Alkan.
"Cici udah siap!" ucap Cia penuh semangat.
Alkan hanya tersenyum kecil di balik helm full face nya, apa lagi saat melihat Cia memakai helm full face milik kakak iparnya, hanya terlihat kedua mata indah milik sang istri.
__ADS_1
"Pegangan." titah Alkan.
Grep!
Dengan erat Cia memeluk tubuh sang suami, bahkan Alkan sedikit kesulitan bernapas kala Cia mendekapnya erat.
"Cimut, jangan kenceng kenceng meluknya, Mas gak bisa napas." keluh Alkan.
Cia sedikit mengendurkan dekapannya, namun wanita itu tidak ingin berjauhan sedikit pun dengan Alkan.
"Udah, ini gak kenceng lagi, ayo jalan!" titah sang Nyonya Alkan.
Alkan menggelengkan kepala, senyuman di bibirnya tidak pernah luntur. Apa lagi saat Alkan mendengar samar samar Cia terus saja menggerutu. Alkan mulai terbiasa dengan gerutu'an wanitanya, dan itu sudah menjadi simponie indah di kedua telinga Alkan.
**AKU KENCENGIN NIH
HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
GIMANA KABAR KALIAN HARI INI
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART
MUUUAAACCHHH**
__ADS_1