Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Penyiksaan


__ADS_3

"Cimut?" panggilan lembut itu membuat Cia mengangkat wajahnya.


Bahkan wanita berkaos abu abu itu terlihat bersandar lemas di dinding kamar mandi, Cia benar benar tidak kuat dengan makhluk ciptaan Tuhan, yang ada di hadapannya saat ini.


Apa lagi saat melihat Alkan berbalik, mendekat ke arahnya, dengan tubuh polos, basah dan itu membuat Cia tidak ingin mengalihkan pandangan dari Alkan.


Grep!


Cia semakin meleleh di tempat, saat Alkan memeluk tubuhnya erat. Bahkan Cia bisa merasakan kalau sang suami memberikan hisapan pelan di ceruk lehernya.


"Dingin," gumam pelan Alkan.


Kedua tangannya memeluk erat tubuh sang istri, bahkan rasanya pelukan ini tidak cukup hangat untuknya.


Cia pun kembali tersadar mendengar gumaman Alkan, dengan cepat wanita itu memakaikan kimono handuk pada tubuh suaminya.


"Ayo keluar dulu." ajak Cia.


Bahkan saat mereka keluar pun, Alkan masih memeluk tubuhnya dengan erat. Cia sedikit kesusahan saat melangkah, karena berusaha sekuat mungkin agar bisa menopang tubuh suaminya.

__ADS_1


"Mas Al duduk dulu ya, Cici mau ngambil baju," ujar Cia memelas.


Bagaimana tidak melas, saat ini si singkong thailand kesukaannya sudah siap di nikmati, tapi Cia tidak tega saat melihat pemiliknya.


"Gak usah, Mas mau peluk." gumam pelan Alkan.


Pria berlesung pipi itu membawa Cia kedalam dekapannya, bahkan dengan cepat Alkan meraih selimut untuk membungkus tubuh keduanya. Cia yang tidak bisa berkutik hanya bisa pasrah, bahkan wanita itu menikmati suasana ini.


Entah sadar atau tidak, Cia perlahan membuka kaos setengah basah yang dia pakai, lalu melemparkannya sembarangan arah. Cia bahkan membuka br*a, dan hanya menyisakan celana rumahan selutut nya.


Saat kulit polosnya bersentuhan dengan tubuh Alkan, Cia bisa merasakan betapa dingin tubuh suaminya itu. Sang Nyonya Alkan semakin merapatkan tubuhnya, bahkan kini sepertinya Cia sudah tidak memakai apa pun, di balik selimut tebal yang tengah membungkus tubuhnya dan sang suami.


Kedua sejoli itu saling memeluk di balik selimut, memberikan rasa dan nyaman hangat satu sama lain. Alkan bahkan semakin mengeratkan dekapannya pada Cia, rasa hangat yang di keluarkan oleh tubuh sang istri, membuat Alkan perlahan menghangat.


Sementara Cia, wanita itu mati matian menggigit bibirnya, saat merasakan sesuatu yang hidup dan bergerak dia area pahanya. Benda dingin itu terasa semakin membesar, kala suhu tubuh si pemilik mulai menghangat.


"Mas Al, jangan gerak terus." keluh Cia.


"Hm," Alkan menanggapinya dengan deheman.

__ADS_1


Kedua matanya enggan sekali untuk terbuka, pria berlesung pipi itu terlalu menikmati kehangatan tubuh sang istri, hingga tidak menyadari betapa tersiksanya Cia saat ini.


Rasanya kedua tangan Cia sudah gatal, ingin menepuk benda yang terus saja menggesek paha mulusnya. Karena Alkan tidak mau diam, otomatis si singkong Thailand pun ikut bergerak dan bertambah ukurannya.


"Mas," rengek Cia.


Dia benar benar serba salah sekarang, ingin meraihnya namun tidak bisa, tapi kalau tidak di raih pasti semakin menyiksanya.


"Mas, ngantuk Sayang," gumam Alkan pelan.


Si Bapak Penghulu semakin mengeratkan dekapannya, dan itu sukses membuat Cia semakin mengigit gemas selimut yang tengah membungkus tubuh polosnya.


'Udah di siksa begini ujung ujungnya di tinggal molor.' pekik hati Cia.



SABAR CIπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_1


SI PELAKU😍😍😍😍


__ADS_2