
Selepas sholat isya dan makan malam, penghuni rumah terlihat masuk kedalam kamar, begitu pun dengan Alkan dan Cia. Sepasang pengantin baru itu tengah sibuk sendiri, Cia yang sibuk mengaitkan tali br*anya, sedangkan Alkan tengah sibuk mengecek beberapa berkas KUA yang belum selesai.
Cia menghela napas kasar, kala tidak juga kunjung berhasil, padahal biasanya juga dengan mudah dia mengaitkannya.
"Kalau gak bisa, kenapa gak manggil Mas." ucap lembut seseorang dari arah belakang tubuh Cia.
Cia sedikit merinding kala kulit mulus punggungnya, bersentuhan dengan kulit tangan orang itu. Kedua sudut bibir Cia terangkat ke atas, kala merasakan rengkuhan hangat di tubuh half naked nya.
"Mas udah gak tremor lagi, lihat jeroan Cici?" tanya jahil Cia.
Bahkan wanita itu mengulum senyuman, kala melihat wajah sang suami di depan cermin. Alkan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Cia, sedangkan kedua tangannya melingkar posesif di perut rata Cia.
"Mas, cuma membiasakan diri," kilah Alkan.
Senyuman Cia tidak bisa di tahan lagi, wanita itu perlahan melepas belitan tangan sang suami. Lalu berbalik, menghadap sempurna pada Alkan. Kedua tangan Cia, perlahan naik ke atas untuk mengusap lembut wajah Alkan.
"Senyum dong, Cici mau lihat senyuman Mas secara langsung." pinta Cia sederhana.
Alkan mengangkat sebelah alis, mendengar permintaan sang istri. Kenapa Cia tiba tiba meminta dia untuk tersenyum, bukannya selama ini Cia sering melihatnya.
"Ayo, kok malah diem." rengek nya lagi.
Alkan semakin mengulum senyum, kala mendengar rengekan si Cimut. Namun tak urung, Alkan pun tersenyum tulus hingga menampakan lesung pipinya.
__ADS_1
Senyuman Cia semakin lebar, kala apa yang dia inginkan Alkan berikan. Hanya permintaan simpel dan sederhana, Cia tidak pernah meminta dunia pada Alkan, dia hanya meminta senyuman Alkan akan selalu ada untuknya, dimana pun dan kapan pun.
Satu tangan Cia terulur untuk menyentuh lesung pipi milik Alkan, kedua mata abu abu bening Cia menatap tak berkedip, pada Alkan. Dengan jahil, Cia menusuk pelan lubang kecil di pipi suaminya. Sementara Alkan, si Bapak Penghulu tampan itu semakin melebarkan senyum, dia mempertahankan lesung pipinya agar tetap terlihat.
"Mas Al tau gak," ujar pelan Cia.
Namun kedua matanya tetap tertuju pada lesung pipi suaminya. Cia tidak ingin melewatkan pemandangan indah, yang di ciptakan oleh Sang Maha Kuasa. Cia benar benar harus banyak bersyukur, karena Tuhan sudah memberikan jodoh setampan dan sebaik suaminya. Pria baik, sederhana, apa adanya, sholeh, penyayang, bertanggung jawab, tidak plin plan saat mengambil keputusan, bahkan pria ini tidak pernah menaikan suara, sekalipun saat Alkan tengah marah.
"Tau apa, Cimut?" tanya Alkan lembut.
Bahkan satu tangan Alkan terulur, untuk menyingkirkan anak rambut yang menghalangi mata indah sang istri. Sedangkan satu tangannya lagi, sudah bertengger di pinggang polos Cia.
"Sebenarnya, dari dulu berbulan bulan yang lalu, Cici tuh pingin banget nusuk lesung pipinya, Mas. Tapi, karena Cici gak mau menodai tubuh anak perjaka orang, jadi Cici tahan aja sampai hari ini." celoteh Cia tanpa beban, malu atau pun jaga image.
Cia benar benar mengeluarkan seluruh isi hatinya selama ini, tapi memang benar itu yang selama ini dia rasakan, tidak ada dusta di dalamnya.
Bahkan Alkan semakin melebarkan senyum, tawa renyahnya Alkan terdengar merdu di kedua telinga Cia.
Cia membalasnya dengan senyuman, tangan yang sedari tadi berada di lesung pipi Alkan, perlahan turun menuju jakun jantan suaminya. Jakun Alkan terlihat naik turun, kala jari jemari lentik Cia terus saja menyentuhnya lembut. Bahkan dengan susah payah, Alkan menelan saliva kala sentuhan Cia semakin intens.
"Cimut?" panggil Alkan serak.
"Apa, Mas Al?" sahut manja Cia.
__ADS_1
Bahkan dengan nakal Cia mengigit bibir bawahnya, salah satu tangannya sudah menyelusup kedalam kaos oblong yang di pakai sang suami.
"A-ayo pakai baju dulu, nanti kamu masuk angin." kilah Alkan.
Si Bapak Penghulu terlihat tengah mengalihkan situasi, namun Cia tidak peduli. Wanita berpenampilan setengah naked itu, semakin liar meraba tubuh Alkan dari balik kaos.
"Mas?" panggil Cia.
"A-apa?" sahut Alkan terbata.
Bukannya menjawab, Cia malah semakin merapatkan tubuhnya pada Alkan.
"Mas Al, gak mau bunuh setan gitu? ini kan malam jum'at. Kita bunuh setan yuk, pakai Singkong Thailand." bisik pelan Cia, tepat di depan bibir suaminya.
**YANG NGAJAK BUNUH SETAN
HOLLA MET PAGI RPRIBADEH
GIMANA KABAR KALIAN HARI INI, SEHAT?
KALAU OTHOR MASIH REBAHAN DI KASUR
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH**