Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Tidak Peka


__ADS_3

"Kamu istirahat ya, Mas tahu kalau kamu sudah capek." bujuk Alkan.


Pria berlesung pipi itu melepaskan sepatu flat yang di pakai oleh Cia, Alkan segera menuntun Cia turun dari atas pelaminan. Meninggalkan Crystal dan Galaska di sana, Alkan sudah meminta izin pada mereka berdua untuk membawa Cia ke kamar.


Karena gaun yang Cia pakai cukup menyusahkan, Yasmine dengan sigap membantu mengangkatnya. Sedangkan Alkan menuntun istrinya perlahan, Alkan takut kalau Cia akan tersandung sesuatu.


"Makasih Yas," ucap tulus Cia.


"Sama sama Kak Cici, aku kebawa dulu ya. Dahh, selamat istirahat bumil." balas Yasmine ceria.


Gadis itu benar benar sangat pintar dalam menyembunyikan perasaannya saat ini, itu berhasil membuat Cia serta yang lainnya tidak tahu kalau apa yang saat ini tengah Yasmine rasakan.


"Berapa hari lagi Yasmine nikah?" tanya Cia pada suaminya.


"Sekitar 4 hari lagi, semua persyaratan pernikahan mereka sudah lengkap. Sepertinya calon suami bulenya Yasmine punya orang dalam saat mengurus semua persyaratan nikahnya. Karena menurut Mas, kalau salah satu calon pengantinnya warga asing, akan cukup memakan banyak waktu mengurus semuanya." penjelasan Alkan.


Cia menatap tak berkedip pada suaminya, memang benar apa yang di katakan Alkan. Si model songong itu bukan warga negara Indonesia, Elvier adalah warga negara Uni Emirates Arab, di Dubai lebih tepatnya.


Sang Model yang memiliki harga sewa jasa super mahal itu hanya menumpang napas,makan, mandi serta tidur di negara ini, dan Cia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Yasmine serta calon suaminya, semoga mereka berdua bahagia.


🕊


🕊


🕊

__ADS_1


Cia terus saja menatap perut polosnya di cermin, senyuman wanita itu terus saja mengembang. Saat ini dia hanya memakai bra dan hotpants setengah paha, sedangkan Alkan masih membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.35 malam, lumayan cukup larut untuk Cia.


Clek


Cia menoleh saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, kedua matanya tidak berkedip kala melihat tampilan Alkan saat ini. Pria berlesung pipi itu hanya memakai handuk biru yang melingkar di pinggang, sembari menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.


Perlahan Alkan mengikis jarak pada Cia, kedua mata dark coklatnya menatap penampilan istrinya saat ini.


"Kenapa gak pakai baju? nanti kamu masuk angin." tutur lembut Alkan.


Saking lembutnya membuat Cia tidak dapat mengedipkan kedua mata, kenapa Tuhan begitu baik saat menciptakan suaminya. Apa mungkin saat para malaikat membagikan wajah tampan serta sifat lembut atas perintah Tuhan, Alkan maju paling depan.


Apa para penghuni surga akan setampan suaminya, atau bahkan lebih dari ini. Tanpa sadar senyuman Cia terbit, satu tangannya terulur menyentuh rahang berisi Alkan.


Alkan membalas tatapan Cia tidak kalah lembut, bahkan lesung pipi pria itu semakin terlihat kala Alkan semakin melebarkan senyumannya.


"Mas?" panggil Cia pelan.


"Hm,"


Cia tidak membalas, kedua matanya masih sibuk menyelami netra lembut nan indah sang suami. Bahkan sadar atau tidak jari jemari lentiknya terus saja menyusuri setiap lekuk tubuh Alkan, mulai dari dada hingga perut berotot sang suami yang sudah mulai memudar, karena ulahnya.


"Mas gak ada niat buat jenguk mereka," ujar Cia manja.


Dia membawa salah satu tangan Alkan menuju perutnya, tanpa sedikit pun mengalihkan tatapannya.

__ADS_1


"Kamu capek, Sayang." sahut Alkan penuh pengertian.


"Istirahat ya, ayo Mas pijat kakinya. Pasti kaki kamu pegal, karena terus berdiri tadi." lanjutnya.


Dengan lembut Alkan menuntun Cia menuju tempat tidur, secara perlahan Alkan membawa salah satu kaki sang istri ke atas pangkuannya. Perlahan pria berlesung pipi itu memijat kaki Cia, sedangkan wanita yang tengah hamil muda itu belum bereaksi.


"Cici mau tidur," ujarnya tiba tiba.


Wanita itu menyingkirkan kedua tangan Alkan di kakinya, bahkan Cia segera menarik selimut agar menutupi tubuhnya hingga dada.


Alkan tersenyum geli melihat Cia merajuk, bahkan si Bapak Penghulu berlesung pipi terlihat menggelengkan kepalanya pelan.


"Istirahat ya, Mas mau pakai baju dulu."


Cup


Satu kecupan Alkan berikan di dahi Cia, setelah itu Alkan segera bangkit lalu berjalan menuju walk in closet.


Sementara Cia meringis gemas ke arah punggung lebar nan kokoh suaminya, bukan hanya kecupan yang dia inginkan, tapi lebih dari itu.


"Tau ah, semua cowok memang gak pernah peka!" gumam kesal Cia.



AKU JUGA MARAJOOOKK MAS

__ADS_1


__ADS_2