
Cia menghela napas kasar, entah kenapa jantungnya pun saat ini berdetak lebih kencang. Padahal Cia masih berkaca di depan cermin, belum bertemu dengan Bundanya Alkan.
Entah apa jadinya, kalau Cia sudah bertemu dengan calon ibu mertuanya.
"Calon Ibu Mertua?" gumam Cia
Senyumnya perlahan mengembang, gadis bergaun panjang itu harus siap jiwa dan raga. Jangan sampai dia meninggalkan kesan buruk nanti, bahkan pakaian yang cukup tertutup sudah Cia pakai. Walaupun, Cia tidak sampai memakai gamis dan hijab, setidaknya pakaian ini sudah sopan.
"Sudah siap? Alkan udah nunggu lama tuh," ujar Lovyna.
Wanita paruh baya, yang terlihat masih terlihat sangat cantik itu, mengintip Cia dari balik pintu.
"Udah Mam, ayo!" ucap Cia yakin.
Gadis bergaun panjang itu, segera berbalik dan meraih lengan sang Mami. Sepanjang langkahnya, senyuman dikedua sudut bibir tipis itu, tidak pernah surut.
Apa lagi, saat sang Mami terus saja menggodanya. Rasa gugup didalam hati, perlahan mulai bisa di ajak kompromi olehnya.
Kedua wanita beda usia itu, perlahan menuruni anak tangga, hingga tidak lama mereka berdua akhirnya sampai, di ruangan yang menjadi tempat interogasi Alkan tadi.
Kedua sudut bibir Cia semakin tertarik, kala melihat Alkan menatap tak berkedip padanya, kala tatapan mereka bertemu. Namun, seperdetik kemudian, Alkan segera mengalihkan pandangan kearah lain.
Senyuman gadis yang ada dihadapannya saat ini, tidak baik untuk kesehatan jantung serta hatinya. Apa lagi, saat melihat penampilan Cia saat ini, begitu rapi dan tertutup, Alkan suka itu.
__ADS_1
Walau pun belum sempurna, tapi Alkan berjanji akan menjadikan Cia sebagai muslimah yang baik, menjadi istri dunia dan akhiratnya, setelah mereka menikah nanti.
"Saya pamit, untuk membawa Cici." izin Alkan pada Nagara dan Lovy, selaku kedua orang tua Cia.
🕊
🕊
🕊
Selama perjalanan, kedua manusia beda gender itu terus saja terdiam. Alkan terlihat fokus menyetir, sementara Cia lebih memilih untuk menatap diam diam, si Pak Penghulu tampan yang tengah menyopirinya.
"Lama lama saya meleleh, kalau kamu memandang terus seperti itu, Cimut." akhirnya setelah sekian banyak detik dan menit yang terbuang, salah satu dari mereka berbicara juga.
Namun saat otak warasnya kembali, Cia kembali menoleh pada Alkan, tadi pria itu memanggilnya apa? Cimut? apa itu Cimut? apa semacam nama makanan baru, atau masih satu keturunan dengan si cimol.
"Cimut?" beo Cia.
Kedua mata beningnya mengerejab, gadis itu terus saja menatap Alkan tanpa jemu, dan menuntut penjelasan si Pak Penghulu
Alkan menoleh sekejab pada Cia, setelah itu dia kembali memfokuskan pandangannya kearah jalanan. Senyuman manis Alkan terbit, bahkan sampai memperlihatkan lesung pipi miliknya.
"Iya Cimut, Cici Imut," ujar santai si Bapak Penghulu.
__ADS_1
Namun sepertinya tidak santai untuk ketenangan hati Cia, gadis cantik itu terlihat seperti tengah kehilangan sesuatu, terdiam seperti patung namun kedua matanya mengerejab.
Perlahan senyuman lebar Cia terbit, bahkan gadis itu hampir memeluk Alkan, karena kelepasan. Namun sekuat tenaga Cia mempertahankan diri, agar jangan sampai menodai tubuh suci itu, sebelum mereka halal nanti.
Walaupun sebenarnya, Cia ingin memeluk, mendekap, merengkuh, mengecupi seluruh permukaan wajah Alkan. Tapi, tenang, sabar, tahan, jangan bersikap murahan di depan pria mahal ini.
Cia harus elegan, karena menjadi Nyonya Alkan itu tidak mudah, jadi jangan sampai si Bapak Penghulu pujaannya ini ilfil, sebelum mereka resmi.
"Aku suka panggilannya, Cimut? kayaknya masih bersaudara sama Cimol ya, Mas?" ucap Cia gemas.
Ucapan Cia sukses membuat tawa Alkan menggema didalam mobil, padahal ucapan Cia terkesan receh sekali, tapi mampu membuat Alkan nyaman dan tertawa lebar. Bahkan Cia sampai speechless melihat tawa renyah Alkan, yang tidak pernah dia lihat dan dengar selama ini.
'Tampan sekali ya Tuhan, jangan pingsan, jangan pingsan.' gumam hati Cia.
**GUSTIIII AKUUU GAK KUAAATTTT
HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
GIMANA KABAR KALIAN HARI INI
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUUAAACCHHH**