Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Balas Dendam


__ADS_3

Hening


Alkan dan Cia masih terdiam, saat ini keduanya tidak tahu harus berbicara apa. Kejadian malam ini sungguh mengejutkan untuk mereka berdua, walaupun tidak dapat di pungkiri kalau binar bahagia, tengah terpancar dari mata sepasang pengantin baru dadakan itu.


"Gimana keadaan kamu?" Alkan membuka percakapan terlebih dahulu.


Si Bapak Penghulu mengenyahkan rasa canggung serta gugup didalam hatinya, Alkan berusaha tenang agar suasana di dalam kamar ini sedikit mencair.


"Lumayan kaget, tapi enggak apa apa. Sekarang Cici udah bisa napas," ujar Cia asal.


Jujur, Cia tidak bisa bernapas saat ini, kala melihat senyuman tipis Alkan, apa lagi saat tangan si Bapak Penghulu itu, mengelus lembut cincin yang ada di jari manisnya.


Cincin?


Dahi Cia berkerut, dia baru menyadari kalau di jari manis kanannya, sudah ada cincin emas yang begitu sederhana, namun terlihat indah di kedua mata Cia.

__ADS_1


"Maaf, Mas menikahimu dengan cara seperti ini. Mas, juga tidak tahu kalau Bunda akan mela...," ucapan Alkan terhenti, kala Cia memeluknya.


Bahkan tubuh pria berlesung pipi itu sedikit menegang, ini pertama kalinya Alkan di peluk oleh wanita, selain Bunda Marwah.


Bahkan Alkan sangat kesusahan untuk menelan salivanya sendiri, kalau saja Dia dan Cia belum halal, dia yakin saat ini Cia sudah tersungkur di kasur, karena Dia pasti akan reflek mendorongnya.


Namun karena Alkan belum pikun, kalau Dia sudah menikahi gadis yang tengah memeluknya ini, beberapa puluh menit yang lalu, jadi Alkan membiarkannya.


"Mas Al tau, kalau saat ini Cici pingin pingsan lagi. Tapi Cici tahan, biar bisa meluk Mas Al lama. Soalnya kalau Cici pingsan lagi, gak bakalan terasa meluknya." gumam pelan Cia.


Alkan menunduk, kala merasakan sesuatu membasahi kemeja yang Dia pakai. Bahkan Alkan bisa melihat kalau saat ini, Cia tengah menangis pelan di dalam sembari memeluknya.


Alkan segera meraih kedua bahu gadis itu, kedua mata dark coklat Alkan menatap lembut pada wajah Cia, yang sudah di banjiri air mata.


"Kenapa nangis?" tanya Alkan lembut.

__ADS_1


Kedua ibu jari Alkan, menyeka air mata Cia yang terus saja turun tanpa di perintah. Alkan belum mengerti sepenuhnya, apa yang tengah di rasakan oleh sang istri saat ini. Kenapa Cia menangis? apa gadis ini merasa sedih karena di nikahi secara dadakan, bahkan sangat sangat sederhana.


"Sebenarnya dari dulu Cici pingin meluk Mas Al kayak gini, tapi karena gak boleh, jadi Cici harus nahan sampai sakit perut. Apa lagi pas kita naik motor, padahal waktu itu pan*tat Cici udah ujung jok, tapi Cici gak berani meluk. Terus gara si gendut yang misahin kita, Cici cuma bisa pegang ujung jaket Mas Al. Jadi sekarang Cici mau balas dendam." ucap Cia panjang lebar.


Bahkan Alkan tersenyum geli mendengar ucapan terakhir Cia,'balas dendam?' balas dendam seperti apa? apa dengan cara memeluknya seperti ini, bisa di sebut dengan balas dendam.


"Balas dendam apa? memangnya Mas punya salah apa sama kamu, Cimut?" tanya geli Alkan.


Entah sadar atau tidak, salah satu tangan Alkan membelai lembut rambut panjang Cia. Karena saat Cia pingsan tadi, Mace Reina segera membuka hijab yang di pakai olehnya, setelah Cia berada di kamar.


"Bukan Mas Al yang salah, tapi keadaan. Jadi mulai saat ini sampai seterusnya, Cici bakalan balas dendam sama keadaan." ucap Cia yakin.


Gadis itu bahkan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Alkan. Keduanya kembali larut dalam keheningan, dan tanpa Alkan sadari perlahan kedua mata Cia tertutup, hingga tertidur sembari memeluknya.


__ADS_1


NYAI BALAS DENDAM😂😂😂


__ADS_2