
"Mas Al?" panggil Cia.
Kedua sudut bibirnya tertarik keatas secara sempurna, kala melihat sang suami tengah mengobrol santai di halaman kantor KUA.
"Cici, Bunda?" gumam Alkan pelan.
Si Bapak Penghulu berpamitan pada rekannya, dia segera menghampiri sang istri dan Bunda Marwah, yang semakin mendekat padanya.
"Mas Al, udah istirahat?" tanya Cia to the poin.
Wanita berpakaian santai dan tertutup itu segera meraih tangan kanan Alkan, lalu mengecupnya lembut. Setelah Alkan menyalami takzim sang Bunda, bahkan tanpa ragu lagi, Alkan memberikan satu kecupan singkat di pucuk kepala Cia.
"Kalian naik apa?" tanya Alkan lembut.
Tatapan terus saja terarah pada wajah Cia yang sedikit memerah, Alkan yakin kalau sang istri tengah mencoba menyesuaikan diri menaiki angkutan kota, bukan taksi yang berAC.
"Angkot," sahut santai Cia.
Tidak ada wajah kesal atau pun keterpaksaan, wajah cantik itu terus saja menampilkan aura bahagia. Walaupun tadi, Cia dan Bunda Marwah harus berdesakan di dalam angkutan kota.
Alkan menatap bersalah pada kedua wanita, yang paling berharga di dalam hidupnya ini.
'Apa aku urungkan saja membeli lahan itu?' bisik pelan Alkan dalam hati.
Pikirannya terus saja melayang, entah apa yang ada di dalam otak Alkan saat ini. Si Bapak Penghulu terlihat sibuk dengan dunianya sendiri, saat Cia memanggil pun Alkan tidak menyahut.
"Mas? Mas Al?" panggil Cia, wanita itu bahkan menggoyangkan lengan Alkan lumayan keras.
Alkan terlihat gelagapan sendiri, namun setelah itu dengan pandai Alkan memasang wajah tenang.
__ADS_1
"Mas Al, kenapa melamun?" tanya Cia penasaran.
Bahkan Bunda Marwah pun ikut menatap heran pada sang putra, Alkan terlihat tengah memikirkan sesuatu.
"Tidak apa apa, ayo kedalam. Mas sudah lapar, di dalam juga ada Jihan istrinya Fathur." ajak Alkan lembut.
Pria berlesung pipi itu, menggiring kedua malaikat tak bersayapnya dari belakang. Kedua sudut bibir Alkan terus saja terangkat, kala melihat kedekatan Cia dan sang Bunda.
Sang Bunda yang dulu menentang hubungannya dengan Cia, justru sekarang begitu menyayangi Cia dari pada putranya sendiri.
π
π
π
"Wah ada Bunda Mar disini, apa kabar Bunda? Bunda sehat kan? maaf Fathur jarang main, maklum lah si bumil suka rada menggeram kalau Fathur kel-," ucapan pria berkemeja maroon itu terhenti, kala melihat tatapan tajam sang istri.
"Aamiin," Fathur dan yang lain mengamini.
"Oh iya, kenalin ini Cia. Mantu Bunda, kalau Alkan belum ngenalin mantu Bunda, biar Bunda yang ngenalin." ucap Bunda Marwah lagi.
Salah satu tangannya merangkul pundak Cia, wanita paruh baya itu tersenyum bahagia saat mengenalkan Cia pada rekan kerja sang putra.
"Mas Alkan belum ngenalin sih, Bun. Tapi dia ngomong kok kalau udah nikah. Saya gak nyangka kalau penganten barunya langsung kesini, ngantar makanan lagi." goda salah satu rekan kerja Alkan, yang usianya dua tahun lebih muda dari si Bapak Penghulu.
Bunda Marwah tersenyum tipis mendengarnya, sementara Alkan dan Cia lebih banyak diam. Mereka berdua tidak bersuara, namun gerakan tubuh dan mata keduanya tidak bisa berbohong, kalau saat ini diantara keduanya tengah melakukan kontak batin, bukan fisik atau pun suara.
"Mukanya kayak campuran bule ya, cantik banget." celetuk Jihan.
__ADS_1
Bumil satu itu terus saja menatap kagum, pada wajah polos mulus tanpa make up milik Cia. Bahkan pori pori kulit pun tidak terlihat sama sekali, wanita hamil itu berpikir, perawatan apa yang sudah di lakukan oleh istri dari rekan kerja suaminya ini.
Bahkan hanya memakai kemeja panjang serta celana bahan longgar, auranya masih saja mempesona, tanpa bermake up lagi.
"Papi saya memang berdarah Spanyol, Kak." sahut Cia tenang.
Bahkan si Nyonya Alkan terus saja menampilkan senyum ramahnya. Salah satu tangan Cia, terus saja menggenggam tangan Alkan yang terbebas.
"Pantesan, cantik banget. Anak kita bisa kayak gini gak ya mukanya, kalau Jihan menatap Dek Cia setiap hari." celetuk si bumil lagi.
Kini ucapannya mampu membuat sang suami menelungkubkan wajah di meja, Fathur sudah pasrah, bahkan sepanjang malam si calon Ayah itu terus saja bergadang, demi menemani si ibu hamil menonton drama Turki.
Dan kini saat melihat wajah istri rekannya, Jihan ingin wajah anaknya mirip seperti Cia.
"Ripuh Siti." keluh Fathur frustasi.
**KUMISNYA TOLONG ATUH MAS, JANGAN BIKIN SAYA RIPUH TIAP HARIπππ
AKU JUGA RIPUH LIHAT KAMU MASπππ
HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
GIMANA KABAR KALIAN HARI INI? SEHAT?
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH**