Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Mengamankan Singkong Thailand dan Pemiliknya


__ADS_3

Cia dan Alkan menatap tak percaya, pada tulisan yang terpampang jelas di depan sebuah klinik kesehatan.


             "KLINIK INI DISITA"


Keduanya saling bertukar pandang, padahal Alkan dan Cia datang ke klinik ini ingin meminta penjelasan terlebih dahulu, sebelum sang Papi bergerak.


Tapi ternyata klinik ini sudah tutup, bahkan di sita. Kenapa di sita? apa pihak kesehatan terkait yang melakukan ini? atau ada pihak lain yang ikut campur.


"Kalau udah kayak gini, terus kita ngapain?" tanya Cia.


Wanita itu celingak celinguk mencari seseorang untuk mereka tanyai. Namun entah kenapa suasana di area itu nampak sepi sekali.


"Kita kerumahnya, Mas mau dengar sendiri apa alasan dia memberikan obat itu pada Bunda," ujar pelan Alkan.


Pria berlesung pipi itu menarik lengan Cia, menuntun sang istri kembali ke arah motor mereka. Cia memajukan bibirnya beberapa centimeter, ada rasa cemburu saat Alkan bersikeras untuk bertemu dengan Elina.


Alkan memakaikan helm full face miliknya pada Cia, kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat bibir istrinya maju beberapa centi meter.


"Oh ya, apa besok kamu mau ikut Mas tugas lapangan? hari senin besok Mas ada tugas menikahkan di kampung kecil. Tapi kalau kamu tidak mau ikut tidak apa apa, lagian jalannya juga jel-,"


"Cici mau ikut, pokoknya mau ikut!" Cia menyela cepat ucapan Alkan.


Kedua matanya yang tidak tertutup helm berbinar, bibir monyong lima centi nya berubah menjadi senyuman lebar.

__ADS_1


"Senyum dong, masa bibirnya terus maju kayak gitu, nanti cantiknya hilang" goda Alkan.


Entah sejak kapan si Bapak Penghulu pintar menggombal, namun sepertinya penyakit gombal Cia sudah mulai menularinya sedikit demi sedikit.


"Cici udah senyum loh, Mas Al aja yang gak lihat. Gara gara helm ini, mana berat lagi! lepas aja ya kepala Cici pusing." keluh Cia.


Kedua tangannya sudah ingin melepas helm, namun di tahan oleh Alkan.


"Pakai, kepala kamu sama helm ini lebih berharga kepala kamu. Nurut, kalau gak nurut sama Mas, nanti Tuhan marah."ucap lembut Alkan.


Bahkan Alkan memukul kecil helm yang Cici pakai, saat sang istri memakainya kembali dengan malas.


"Pegangan, pepetin badannya." titah si Bapak Penghulu.


Dengan semangat 45, Cia melakukan apa yang di perintahkan Alkan. Wanita itu tidak akan menyia nyiakan kesempatan, Cia memeluk tubuh Alkan dengan erat. Hanya saja si helm kamvreto menjadi penghalangnya kali ini, pelakor berkedok helm, Cici benci si helm.


Cia mengerjabkan kedua matanya berkali kali, ada apa dengan suaminya hari ini? bukannya Alkan tidak pernah suka mengumbar kemesraan di muka umum. Walaupun kecupannya masih terhalang helm mahal milik Galaska, karena saat ini Alkan yang tengah memakainya, bukan Cia lagi.


Cia beralasan kalau helm milik sang Abang lebih berat dari dosanya, saat berada di atas kepala. Akhirnya Alkan mengalah, dan memberikan helmnya pada sang istri. Padahal berat helm Alkan dan Galaska sama saja, tapi wanginya itu loh yang bikin beda.


Wangi rambut Alkan masih menempel di sana, dan itu membuat Cia melayang tinggi. Hanya orang orang yang paham dan mengerti saat memakai helm milik sang kekasih.


Laju motor Alkan semakin memelan, saat rumah yang mereka tuju mulai terlihat. Alkan kembali ke area pemukiman tempat tinggal mereka sendiri.

__ADS_1


Dahi keduanya berkerut kala melihat pintu gerbang rumah mewah berlantai dua itu tertutup rapat. Bahkan saat Alkan menekan bell berkali kali pun, tidak ada yang membukakan pintu.


"Kenapa rumahnya kosong? mereka lagi liburan kali, Mas." celetuk Cia.


Wanita itu ikut menatap ke area sekitar, matanya berbinar kala melihat seseorang mendekat ke arah mereka berdua.


"Permisi Ibu, mau tanya. Ini kenapa rumah Dokter Elina sepi ya, orangnya pada kemana?" tanya Cia to the poin.


Bahkan wanita itu memasang senyuman manis seramah mungkin, Cia segera menarik lengan Alkan agar berhenti menekan bell nya.


"Wah saya kurang tau ya Neng, tapi yang saya dengar sore kemarin ada ribut ribut dari rumah ini. Kata tetangganya, Dokter Elina di labrak istri rekan kerjanya. Saya juga gak tau itu benar apa enggak, tapi gosipnya begitu sih. Udah ya Neng, saya mau beli ketoprak dulu, mari." ucap orang itu panjang lebar.


Cia melirik pada Alkan, lalu dengan cepat dia menarik lengan sang suami. Cia harus mengamankan barang berharga miliknya dari para wanita gatal, mengamankan si Singkong Thailand dan pemiliknya.



GATAL? GARUK



**SINI MAS GARUKIN


YUHUUUU JANGAN LUPA SELALU DUKUNGAN LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA

__ADS_1


SEE YOU NEXT TOMORROW


BABAYYYY MUUUAAACCHHH**


__ADS_2