Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Dituruti


__ADS_3

Minggu pagi Cia sibuk di dapur, dia dan Bunda Marwah tengah menyiapkan sarapan. Tidak ada yang spesial, hanya menu sarapan seperti biasanya.


Waktu baru menunjukan pukul 06.45 pagi, di saat kedua wanita beda usia itu sibuk di dapur, Alkan malah terlihat tengah menatap penuh harap pada pohon belimbing wuluh yang ada di kebun tetangganya.


Sepulang dari lari pagi Alkan tidak langsung pulang ke rumah, si Bapak Penghulu berhenti sejenak saat melewati kebun Pak Anwar, kala kedua mata dark coklatnya tidak sengaja melihat buah super asam itu.


Glek


Alkan menelan salivanya susah payah, rasa asam buah itu sudah dia rasakan di tenggorokannya. Walaupun belum secara langsung menikmatinya, entah kenapa di kedua mata Alkan belimbing wuluh itu begitu menggiurkan.


"Loh, Mas Alkan kenapa berhenti di jalan?" tanya seseorang membuat Alkan sedikit terkejut.


Rupanya sang pemilik kebun, Alkan bahkan tidak menyadari kalau Pak Anwar ada di kebunnya. Karena terlalu fokus menatap ke arah pohon belimbing wuluh, konsentrasi Alkan sedikit terganggu.


"Saya kebetulan lewat Pak, mau pulang. Oh iya Pak, apa saya boleh meminta buah itu?" ucap Alkan tanpa basa basi.


Dia tidak akan membuang kesempatan lagi, kalau kemarin kedondong tidak bisa Alkan nikmati, pokoknya buah asam yang satu ini harus bisa di rasakan, bagaimana pun caranya.


"Oh boleh Mas, ayo silahkan ambil saja." izin Pak Anwar.


Dan tentu itu membuat Alkan tersenyum senang, tanpa membuang waktu lagi si Bapak Penghulu segera masuk ke area kebun ubi rambat Pak Anwar.


🕊


🕊


🕊


Cia terus saja melirik ke arah pintu, dia menanti Alkan sedari tadi. Sudah jam 7 lewat suaminya belum pulang juga.


Alkan bilang hanya akan berlari tidak jauh dari rumah mereka, tapi kenapa belum pulang. Kemana si Bapak Penghulu itu? bukannya mereka akan pergi ke area persawahan pukul 10 pagi nanti.

__ADS_1


"Mas Al, kemana sih? joging nya lama banget." keluh Cia.


Bahkan sarapan yang dia buat pagi ini sudah tertata rapi di meja makan, sementara Cia tengah khawatir karena Alkan belum pulang, Bunda Marwah malah di buat sibuk sendiri di halaman samping. Wanita paruh baya itu terdengar mengomel karena seledri dan bawang daunnya di makan oleh ulat serta semut merah.


"Assalamualaikum," seruan salam terdengar, membuat Cia segera bergegas menuju ruang tamu.


"Waalaikumsallam," sahut Cia.


Wanita yang saat ini tengah memakai berdaster pendek sedikit mengernyitkan dahi, kala melihat Alkan membawa sesuatu. Bahkan pria berlesung pipi itu tengah memakan benda hijau dengan nikmatnya.


"Kok lama banget sih joging nya, Mas Al makan apa? belum sarapan, jangan makan yang aneh aneh deh nanti sakit perut." cegah Cia.


Satu tangannya terulur untuk meraih benda hijau yang tengah di makan oleh suaminya, Alkan sedikit tidak rela saat Cia berhasil merebutnya, Cia terlihat menatap penasaran pada benda hijau yang ada di tangannya.


"Ini apa?" tanya Cia.


Dengan ragu wanita itu ikut mencicipi, seketika tubuh Cia bergidik kala merasakan rasa asam luar biasa di seluruh area mulutnya.


"A-aseemm," pekik Cia.


"Mas Al, ngapain makan buah aneh ini pagi pagi! mana asem lagi rasanya, buang! nanti bisa sakit perut. Mas kan belum sarapan, nanti bisa kena asam lambung." omel Cia.


Wanita itu persis sekali seperti seorang ibu yang tengah memarahi anaknya yang baru saja pulang bermain, sedangkan Alkan hanya menatap sendu pada buah asam yang ada di tangan Cia.


"Ini ada apa sih? kenapa ribut pagi pagi?" Bunda Marwah yang baru saja datang, segera mengomel kala melihat anak dan menantunya terlihat sedang tidak akur.


"Mas Al, makan buah asem ini Bun. Padahal belum sarapan, nanti kalau sakit perut gimana?" adu Cia.


Bahkan sang menantu keluarga Syarief, segera merampas satu kantung kresek buah asam itu dari tangan Alkan. Lalu memberikannya pada Bunda Marwah, sementara Alkan hanya bisa menatap murung pada Cia.


"Makan apa sih?" tanya Bunda Marwah, sembari membuka kantung kreseknya.

__ADS_1


"Loh ini belimbing wuluh, kenapa kamu makan buah asem ini pagi pag-," ucapan Bunda Marwah terhenti, membuat Alkan dan Cia saling tatap satu sama lain.


Apa lagi saat melihat sang Bunda tiba tiba tersenyum sendiri, Cia bahkan segera mendekat pada suaminya.


"Kamu gak merasakan hal aneh akhir akhir ini, Nak?" tanya Bunda Marwah pada Cia.


Bahkan kedua matanya terlihat berbinar, namun binarnya memudar kala melihat Cia menggeleng.


"Enggak Bun, biasa aja. Tapi-," ucap ragu Cia.


"Tapi apa, Nak?" tanya Bunda Marwah penasaran.


"Mas Al akhir akhir ini aneh loh Bun, Cici aja sampai bingung, kenapa? tapi, ya gak apa apa sih, kita sarapan yuk Cici udah laper." lanjut Cia.


Wanita itu tidak menyadari kalau ucapannya mampu membuat Bunda Marwah mengukir senyuman lebar.


"Bentar lagi punya cucu, punya cucu." gumam Bunda Marwah pelan.



CICI NGOMEL



**MAS AL PASRAH, UDAH MEGANG SPATULA


HOLLA MET PAGI EPRIBADEH


GIMANA KABAR KALIAN HARI INI


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA

__ADS_1


SEE YOU NEXT PART


MUUUAACCHH**


__ADS_2