Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Izinkan Kami Saling Melengkapi


__ADS_3

"Bun?" panggil Alkan, bahkan pria itu terlihat mendekat pada Marwah, lalu menggenggam kedua tangan sang Bunda erat.


"Ada yang mau Alkan bicarakan, sama Bunda," ujar lembut Alkan, membuat Marwah menghela napas kasar.


"Bunda juga mau bicara sama kamu, tapi kalau kamu mau bicara duluan, silahkan!" sahut sang Bunda pelan, namun terdengar ada kekesalan disana.


Alkan berkali kali, mengucapkan kalimat Basmallah didalam hatinya, saat dia sudah yakin, akan membicarakan hal penting ini, pada sang Bunda.


"Alkan, mau ngenalin seseorang sama Bunda, besok. Semoga Bunda, bisa mener...,"


"Bunda gak akan pernah menerima dia!" potong Marwah cepat.


Dan itu sukses membuat Alkan terperangah, genggamannya semakin mengerat. Kedua mata dark coklat Alkan, menatap sang Bunda heran. Kenapa Bundanya langsung memutuskan secara sepihak, padahal dia saja belum menjelaskan apa pun.


"Kenapa Bunda, berbicara seperti itu? Alkan kan belum menjelaskan apa pun, sama Bunda," ujar lembut Alkan, sembari membelai punggung wanita yang sudah melahirkannya, bahkan Alkan memberikan banyak kecupan lembut, di telapak serta punggung tangan Marwah.

__ADS_1


"Tapi Bunda sudah tau semuanya, sebelum kamu menjelaskan. Bunda tau, siapa yang akan kamu kenalkan sama Bunda! bahkan gara gara gadis itu, kamu tega berlaku kasar pada Eli. Nak, Dokter Eli banyak berjasa di hidup Bunda, setidaknya walau pun kamu tidak suka sama Eli, tolong jangan membuatnya bersedih." ucapan panjang lebar Marwah, membuat Alkan semakin menghela napas kasar.


Bahkan si Bapak Penghulu berlesung pipi itu, sampai memejamkan kedua matanya rapat.


"Jadi, karena cerita dari Elina, makanya sedari tadi Bunda kesal sama Alkan? padahal, Bunda hanya mendengar cerita dari salah satu pihak," ujar pelan Alkan, si Bapak Penghulu berusaha setenang mungkin. Karena dia tahu, kalau saat ini sang Bunda, tengah menilai Cia dengan sebelah mata, akibat cerita yang diberikan oleh Elina.


"Bunda lebih lama mengenal Eli, dari pada gadis yang akan kamu kenalkan sama, Bunda!" sahut Marwah, terdengar begitu keras kepala.


Alkan semakin mengeratkan genggamannya, bahkan si Pak Penghulu terus saja berusaha menenangkan sang Bunda.


Namun sang Bunda terlihat diam, bahkan Marwah mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Tapi gadis itu sudah mempermalukan Eli, apa gadis seperti itu yang kamu cari selama ini? Alkan, Bunda tidak mungkin menyetujui anak satu satunya Bunda, untuk mempersunting gadis berakhlak buruk! Bunda tidak mau!" Marwah tetap kekeuh pada pendiriannya, entah itu benar atau pun salah.


Kali ini Alkan terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ini salah satu sifat sang Bunda yang sangat tidak disukai olehnya, keras kepala.

__ADS_1


"Kenapa Bunda bisa langsung menyimpulkan, kalau Cia adalah gadis yang berakhlak buruk? apa Bunda pernah bertemu dengan dia sebelumnya? apa Bunda pernah berbicara empat mata denganya? apa Bunda bisa menilai akhlak seseorang, sebelum Bunda mengenalnya?" Alkan terus saja mencecar sang Bunda.


Pemikiran pendek sang Bunda, membuat Alkan menghela napas kasar. Si Bapak Penghulu ganteng itu, terus saja beristigfar didalam hati, dia berusaha berbicara selembut serta sepelan mungkin, pada sang Bunda. Agar dia tidak sampai melukai hati, malaikat tak bersayapnya.


"Bunda yang mengajarkan Alkan, untuk tidak mempercayai sesuatu, sebelum kita melihatnya sendiri, bukan. Bunda yang selalu mengajarkan Alkan, untuk tidak menilai sesuatu dari luarnya. Mungkin, Cia bukan gadis  yang sempurna, seperti yang Bunda inginkan. Dia hanya gadis biasa, yang apa adanya, jauh dari kata sempurna dalam versi Bunda. Bahkan sifat serta sikap dia, begitu jauh dari tipe yang Alkan harapkan selama ini." ucap Alkan dengan napas tercekat.


"Tidak ada manusia yang sempurna, Bunda. Begitu pun dengan gadis yang akan, Alkan ajak menuju Samawa Till Jannah, dia hanya gadis biasa. Alkan juga jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, izinkan kami untuk saling melengkapi satu sama lain, Bunda." lanjut Alkan, pria berlesung pipi itu, bahkan sampai menenggelamkan wajah serta kepalanya, di atas lutut sang Bunda.



LEMBUT, BAIK, SEDERHANA, SABAR, PENGERTIAN, BERTANGGUNG JAWAB, GANTENG, HOTZ, PLEASE TUHAN CIPTAKAN DIA SATU SAJA😭😭


 


SIAPA NIH VISUAL YANG COCOK BUAT SI BUNDA?

__ADS_1


__ADS_2