
Hari ini Alkan keluar dari rumah sakit, setelah 4 hari lamanya dia menginap. Lovyna dan Nagara terlihat ada diantara mereka, kedua mertua sang Bapak Penghulu segera pergi ke rumah sakit dimana Alkan tengah di rawat, setelah mereka menitipkan Grandpa Crish pada Galaska dan Crystal.
Dan kini Alkan, Cia dan yang lainnya tengah menuju ke kantor polisi untuk memenuhi panggilan. Cia dan Alkan di panggil karena menjadi korban kecerobohan seseorang, untung saja nyawa keduanya masih selamat, sementara salah satu korban kecelakaan yang terjadi beberapa waktu lalu, ada yang meninggal di tempat akibat terjepit badan mobil yang di tabrak oleh pelaku.
Cia terus saja menggenggam salah satu tangan suaminya, sembari menikmati satu kotak susu hamil. Pagi ini naf*su makan Cia kembali pulih, bahkan tadi saat sarapan Cia memakan dua porsi bubur ayam buatan sang Mami.
"Mau lagi susunya?" tanya Alkan pelan, saat melihat susu yang Cia minum sudah tandas.
"Udah, Cici ngantuk." sahutnya.
Cia bahkan sudah menguap, entah kenapa kalau pagi seperti ini hawanya ingin tidur, padahal sebelum Cia hamil pantang sekali untuknya tidur di pagi hari seperti ini. Jangankan tidur pagi, tidur siang saja Cia jarang atau bahkan tidak pernah. Mungkin karena hormon kehamilan, jadi kebiasaan yang tidak pernah dia lakukan terjadi begitu saja.
"Tidurlah, nanti kalau sudah sampai Mas bangunkan." tutur Alkan lembut.
Satu tangannya membawa kepala Cia untuk bersandar di dadanya, Alkan terus saja membelai lembut punggung Cia, sembari terus saja memberikan banyak kecupan di pucuk kepala Cia yang tertutup hijab pasmina abu abu.
Sementara Nagara, Lovyna dan Bunda Marwah hanya diam. Mereka tidak berani membuka suara sedikit pun ketiganya membiarkan atau bahkan menikmati interaksi antara Cia dan Alkan saat ini.
🕊
__ADS_1
🕊
🕊
Kedua netra dark coklat Alkan menatap dingin serta datar pada orang yang ada di hadapannya saat ini, salah satu sudut bibir sang penghulu terangkat membentuk senyuman tipis, seakan menunjukkan kalau dia belum percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.
"Mas Alkan, a-aku gak bermak-,"
"Saya gak menyangka kalau kamu ingin mencelakakan putra serta menantu saya, Dokter Elina." Bunda Marwah segera memotong ucapannya.
Wanita bergamis coklat itu sama tidak percayanya dengan Alkan, padahal dia sudah memaafkan kesalahan dokter cantik ini beberapa waktu yang lalu. Namun apa sekarang, dia kembali berulah dan kini membahayakan nyawa sang putra, menantu serta ketiga calon cucunya.
"Bunda, ini tidak sengaja. Eli tidak sengaja, waktu itu Eli sedang ribut sa-sama, sama seseor-,"
"Saya tidak peduli, yang terpenting bagi saya sekarang adalah hukuman apa yang pantas kamu dapatkan. Mungkin dulu saya memaafkan kamu, walaupun kamu sengaja membuat sakit yang saya derita semakin parah. Tapi maaf, untuk kali ini tidak bisa! saya tidak bisa memaafkan kamu, dan saya tidak akan membiarkan Alkan atau pun Cici menarik tuntutannya." tukas Bunda Marwah.
Entah kenapa setelah kejadian obat itu respek nya terhadap dokter cantik ini hilang begitu saja, di tambah lagi kejadian ini membuat Bunda Marwah semakin tidak peduli.
Elina menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. Bahkan tidak lama terdengar kekehan kecil dari bibir pucatnya.
__ADS_1
Bunda Marwah mengernyitkan dahi heran, begitu pun Alkan dan Cia. Bahkan wanita hamil itu semakin merapatkan tubuhnya pada Alkan, sembari mengusap lembut perut buncitnya, terlihat Cia menggumamkan sesuatu saat melihat sikap Elina.
"I-itu, itu karena Eli ingin Bunda selalu dekat dengan Eli, bukankah kalau Eli sering berinteraksi dengan Bunda, Eli juga bisa dekat sama Mas Alkan. Tapi ternyata salah, Mas Alkan lebih memilih gadis ini dari pada seorang Elina yang sudah menyukainya sejak dulu. Maka dari itu Elina melampiaskan semuanya pada Rizal, tapi sayang dia udah mati gara gara Eli. Rizal mati padahal dia sudah berjanji akan menikahi Eli, setelah dia menceraikan istrinya yang mandul itu." ucap Elina penuh emosi.
Bahkan dokter cantik itu terkekeh frustasi, dia hilang arah setelah Alkan menikahi Cia. Klinik kebanggaannya disita karena tanpa izin resmi, di pecat dari rumah sakit tempatnya bekerja secara tidak terhormat karena skandal, dan sekarang pria yang berjanji akan menikahinya diambil oleh Tuhan.
Rizal, rekan kerja Elina yang berskandal dengannya kini membuat hidup wanita itu semakin hancur. Karena Rizal meninggal, jadi Elina yang harus mempertanggung jawabkan semuanya, sendirian.
Alkan dan Cia hanya terdiam, ada rasa iba dan prihatin didalam hati mereka, namun karena yang menuntut Elina bukan hanya mereka berdua, jadi walaupun Alkan dan Cia mencabut tuntutan, masih ada banyak tuntutan yang bisa menjerat Elina kedalam bui.
**IBA TAPI PINGIN NYEKEK YA MAS
YUHUUUU JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYYY MUUUAAACCHH**
__ADS_1