Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Singkong Thailand


__ADS_3

Cia membulatkan kedua mata, kala melihat begitu banyak pohon singkong di hadapannya saat ini. Kedua kakinya mengikuti langkah Bunda Marwah, yang semakin masuk kedalam kebun.


"Kebun singkong siapa ini, Bun?" tanya Cia.


Wanita berkulit seputih susu itu, terlihat mengedarkan pandangan ke setiap sudut kebun.


"Punya kita lah, kalau punya Pak RT gak mungkin Bunda ngajak kamu ngambil kesini." celoteh Bunda Marwah.


Setelah Alkan dan Cia resmi menyandang sebagai suami istri, Bunda Marwah meminta Cia untuk memanggilnya Bunda, bukan Ibu.


"Pohonnya gede banget sih Bun, mana kuat Cici nyabutnya. Astaga dragon ball, batangnya gak bisa di pegang, Bun. Gimana cara bongkar nya, kita gali dulu?" Cia terus berceloteh, wanita cantik itu menatap ngeri, pada pohon singkong yang ada di depan matanya.


"Kita cari yang kecil aja batangnya, yang gede biar sama Alkan nanti." ucap Bunda Marwah.


Wanita berkerudung abu abu pekat itu, berjalan menuju jejeran pohon singkong yang berukuran lebih kecil, dari yang tengah di pegang oleh Cia.


" Luarannya aja gede, gimana dala*mannya." gumam pelan Cia.


Kedua sudut matanya masih melirik pohon singkong yang tadi dia pegang, Cia berjalan mendekati Bunda Marwah, yang bersiap untuk mencabut sebuah pohon singkong kecil.


"Bun, ini kecil batangnya. Pasti dalamnya juga kecil." protes Cia, saat Bunda Marwah sudah bersiap menariknya.


"Jangan di lihat dari luarnya, biar pun batangnya kecil, tapi dalamnya pasti lebih gede dari yang tadi." ucap yakin Bunda Marwah.


Wanita paruh baya itu kembali memposisikan tubuhnya, Cia pun ikut menjongkokkan tubuh agar sejajar dengan Ibu Mertuanya.


Kedua wanita beda usia, yang tengah bersusah payah mencabut pohon singkong, terlihat ngos ngosan di buatnya. Bahkan Cia menatap kesal pada pohon itu, kenapa susah sekali dicabutnya. Ingin makan combro saja perjuangannya setengah mati begini, mana cuaca begitu panas.


"Ayo sekali lagi, itu udah kelihatan umbinya." ucap Bunda Marwah penuh semangat.

__ADS_1


Cia menghirup napas sebanyak mungkin, lalu kembali memposisikan tubuhnya seperti tadi.


Bruuk!


Dengan sekali tarikan, pohon singkong itu berhasil mereka cabut. Bahkan Cia sedikit terhuyung kebelakang.


Kedua mata Cia membulat, kala melihat ukuran singkong yang baru saja di panen.


'Luarannya kecil, tapi dalamnya? uuhh, mengerikan.' ucap Cia dalam hati.


"Ini singkongnya gede banget, gak sesuai sama ukuran batangnya." celoteh Cia.


Si Nyonya Alkan menatap ngeri, seperdetik kemudian Cia teringat dengan ucapannya tadi, pada saat dia dan Alkan masih di dalam kamar.


'Apa ini yang namanya singkong Thailand?' tanya Cia dalam hati.


Cia mendekat pada Bunda Marwah, salah satu tangannya meraih singkong yang ada di dalam keranjang.


Bunda Marwah menoleh saat mendengar ocehan menantunya, kedua matanya menatap dalam pada Cia, yang tengah membolak balikan benda keras itu.


"Ini namanya singkong Thailand, enak kalau di bikin kolak, kenyal kenyal gitu, soalnya banyak tepung aci nya," ujar Bunda Marwah pelan.


Kedua tangannya sibuk memisahkan umbi singkong dari batang, sementara Cia malah terlihat menatap tajam, pada salah satu bahan makanan pokok itu.


'Ja-jadi? astaga pantas aja, si singkong Thailand yang semalam, bikin-,' Cia tidak sanggup untuk melanjutkan bisikan didalam hatinya.


Kedua matanya menatap nanar pada singkong, yang tengah di kupas oleh Ibu Mertuanya. Bahkan Cia sampai susah payah menelan salivanya sendiri.


"Loh, sudah selesai ngambil singkongnya, Alkan kira Bunda sama Cici bakalan gak bisa." suara seruan Alkan, membuat kedua wanita itu menoleh.

__ADS_1


Cia tersenyum lebar kala melihat suaminya mendekat, bahkan dengan cepat Cia meraih satu buah singkong, lalu membawanya ada Alkan.


Cia mengulum senyumannya susah payah, dengan jahil dia semakin mendekat pada Alkan, yang tengah menatap kearah deretan rapi pohon singkong.


"Mas Al?" panggil Cia lembut, membuat Alkan langsung menoleh.


"Apa, Cimut?" sahut tak kalah lembut.


Cia semakin menahan senyumnya, kala melihat Alkan menatap heran padanya.


"Ini singkong Thailand," bisik pelan Cia tepat di telinga Alkan, membuat si Bapak Penghulu membatu seketika.


Cia terkikik dalam hati, kala melihat wajah tegang suaminya.


'Ihh kalau lagi tegang begitu, bawaannya pingin nanam singkong Thailand terus.' pekik Ci dalam hati.



**CICI NATAP MAS SINGKONG THAILAND



SI SINGKONG THAILAND YANG CICI TATAP


HOLLA MET PAGI EPRIBADEH


GIMANA KABAR HARI INI?


JANGAN LUPA BUAT LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA

__ADS_1


SEE YOU NEXT PART MUUUAACCHH**


__ADS_2