Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Tendangan Beruntun


__ADS_3

Cia mengusap lembut perut buncitnya, gerakan tangannya semakin intens kala merasakan tiga tendangan secara bergantian dari dalam perutnya.


Cia meringis linu, namun tak ayal wanita itu juga menikmati masa masa indah ini. Usia kandungan Cia sudah berusia 8 bulan, ukuran perut Cia bahkan 3 kali lebih besar dari wanita hamil biasanya. Untuk bergerak saja dia harus pelan dan berhati hati, Alkan bahkan tidak pernah melepaskan Cia sendirian kala si Bapak Penghulu itu berada di rumah.


Dan saat Alkan tidak ada, Bunda Marwah yang akan menjadi satpan untuk Cia. Wanita paruh baya itu akan mengikuti langkah menantunya, kemana pun pergi.


Pernah saat Bunda Marwah mengajak Cia berjalan santai memutari pemukiman, wanita yang tengah mengandung bayi kembar tiga itu menginginkan buah kelapa, langsung dari pohonnya. Bunda Marwah sempat bingung, karena Alkan tidak ada karena si Bapak Penghulu tengah menikahkan beberapa pasang pengantin di kampung sebelah, alhasil Bunda Marwah membayar orang untuk memetiknya.


Dan kini Bunda Marwah masih sibuk memetik cabai yang mulai memerah, dia belum tahu kalau Cia tengah meringis ngilu di atas ayunan.


"Kalian kalau mau main tendang tendangan, gantian dong sayang. Jangan barengan gini, kan udah tau tempatnya sempit." tutur pelan Cia.


Dia terkekeh kecil kala ucapannya di balas tendangan dari salah satu bayinya, ketiga bayi yang di prediksi akan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Lebih tepatnya dua laki laki dan satu perempuan, Alkan bahkan sampai meneteskan air mata kala melihat foto USG 3 dimensi ketiga bayinya.


Pria berlesung pipi itu sampai memeluk gambar itu ketika tidur, Alkan masih belum percaya kalau Tuhan benar benar meng'ijabah ucapan asalnya saat itu. Padahal Alkan berbicara seperti itu hanya ingin menghindar dari permintaan horor seorang pria, kalau dia tidak cepat menghindar entah apa jadinya nanti.


"Assalamualaikum," seruan salam seseorang membuat Cia menegakan tubuhnya.


"Waalaikumsallam," sahut Cia.

__ADS_1


Cia berusaha turun dari ayunan, wanita itu semakin meringis ngilu kala kembali merasakan tendangan di perutnya.


"Kita jalan dulu sebentar ya para Jagoan Bunda, sebentar aja nanti kita rebahan lagi." monolog Cia menenangkan, sembari mengusap lembut permukaan perutnya.


Cia semakin tidak sabar untuk melihat ketiga buah cintanya, dokterĀ  menyarankannya operasi cesar padanya saat persalinan nanti, dan itu tidak masalah bagi Cia. Mau cesar atau pun normal, yang terpenting dia dan ketiga anaknya sehat.


"Loh Mas Al udah pulang?"


Cia segera menghampiri suaminya yang tengah melepas sepatu, kedua sudut bibir Cia terangkat tinggi saat melihat wajah lelah Alkan. Hari ini suaminya ini memang mendapatkan tugas lapangan di daerah yang cukup jauh, bahkan Alkan harus kembali memakai motor trail kesayangannya yang tersimpan rapi.


"Kenapa kesini?" tanya Alkan khawatir.


Pria berlesung pipi itu tidak tega saat melihat Cia berjalan tertatih, kalau bisa di tukar Alkan akan suka rela menerimanya.


Satu tangan wanita itu meraih tangan Alkan, lalu menciumnya takzim. Bahkan Cia dengan gemas menciumi telapak punggung suaminya berkali kali.


"Ayo masuk?" ajak Alkan.


Dia tidak sabar untuk membelai perut Cia, sudah kebiasaan Alkan setiap hari. Rasanya kalau dia tidak menyentuh ketiga buah cintanya, ada sesuatu yang hilang.

__ADS_1


"Mas Al udah makan?" tanya Cia.


Dia mendongak menatap wajah Alkan yang tengah merengkuh tubuhnya dari samping.


Cup


Satu kecupan Alkan berikan di dahi Cia, bahkan bukan hanya di area itu, Alkan memberikan banyak kecupan di seluruh area wajah Cia dengan gemas.


"Belum Sayang, Mas beli soto daging buat kamu sama Bunda." sahut gemas Alkan.



PLISS MAS, MUNDURAN DIKIT MATA OTHOR PEDES LIHATNYA



**SIKEMBAR TIGA


HOLLA MET PAGI EPRIBADEH

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


SEE YOU NEXT PART MUUAACCHH**


__ADS_2