Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Sport Jantung


__ADS_3

Cia mengusap perutnya yang terlihat membuncit, mulutnya terus saja mengunyah keripik singkong buatan Bunda Marwah. Semenjak Cia hamil, Bunda Marwah tidak pernah membiarkan Cia berada di rumah sendirian, apa lagi kalau Alkan sedang bekerja.


Bunda Marwah akan berada di samping menantunya sepanjang waktu, bahkan saat Cia ke kamar mandi pun Bunda Marwah sampai mengikutinya.


"Bunda gak pengajian? ini udah jam 3 sore loh, Bun." ucap Cia.


"Bunda absen hari ini, Alkan belum pulang. Bunda gak bakalan ninggalin kamu sendiri di rumah, udah diam di sini Bunda mau masak dulu." sahut Bunda Marwah.


"Cici ikut ya," Cia memohon, sumpah demi apa pun hari ini dia amat sangat bosan.


"Ya udah ayo, tapi diam aja jangan bergerak terus. Bunda takut kamu kepeleset, ngerti!" lanjut Sang Bunda.


Cia menganggukkan kepala, ibu mertuanya ini memang lebih protektif dari pada Alkan. Cia tidak boleh begini tidak boleh begitu, membuat ruang geraknya terbatas. Tapi walaupun begitu, dia merasa senang karena ibu mertuanya selalu terlihat sehat setelah mengetahui kehamilannya, dan Cia yakin semua yang di larang oleh sang ibu mertua adalah kebaikan untuknya serta si kembar tiga.


Bunda Marwah bahkan pernah berkata pada Cia dan Alkan, bahwa dia akan selalu sehat sampai cucu cucunya nanti dewasa dan menikah.


🕊


🕊


🕊


Laju motor trail Alkan semakin kencang, salah satu sudut mata Alkan terus saja melirik pada kaca spion motornya.

__ADS_1


Entah kenapa Alkan merasa kalau mobil hitam yang ada di belakangnya saat ini, terus saja mengikuti. Mulai Alkan keluar dari dealer mobil, hingga sekarang mobil mewah hitam mengkilat itu terus saja mengikuti laju motornya.


Pria berlesung pipi itu berusaha berpikir positif, mungkin saja sang pengendara memang satu arah dengannya. Hingga saat Alkan mulai memasuki area pemukiman tempat tinggalnya, si mobil hitam terlihat memelan seakan tengah memperhatikan Sang Bapak Penghulu dari jarak aman.


Di sisi lain Alkan menghela napasnya kasar, saat pagar rumahnya sudah terlihat. Pria berlesung pipi itu tidak sabaran bertemu dengan Cia dan si kembar tiga yang masih di dalam perut sang istri, bahkan rasanya Alkan sangat menanti kelahiran mereka bertiga.


"Assalamualaikum," seruan salam Alkan menggema di dalam rumah.


Si Bapak Penghulu menenteng helm sembari masuk kedalam rumah, dahinya mengernyit melihat suasana rumah yang sepi. Padahal pintu rumah terbuka lebar, kemana Cia dan Bundanya?


Alkan melebarkan langkahnya kala mendengar suara dari arah halaman belakang, pantas saja istri dan Bundanya tidak menyahuti salamnya. Kedua wanita itu tengah sibuk memimdahkan bibit cabai serta bawang daun Bunda Marwah, yang habis di makan ayam tetangga.


"Assalamualaikum," salam Alkan untuk kesekian kalinya.


Kedua wanita beda usia itu menoleh, kalau Bunda Marwah hanya tersenyum melihat kepulangan Alkan.  Tapi lain dengan Cia, wanita yang tengah hamil muda itu segera bangkit, berlari kecil menghampiri sang suami.


Belum sempat Alkan dan Bunda Marwah membuka mulut, Cia hampir saja terpeleset kalau saja keseimbangan tubuhnya buruk.


Alkan menghela napasnya kasar, jantungnya berdetak berkali kali lebih cepat melihat Cia hampir terjatuh, begitu pula Bunda Marwah. Wanita paruh baya itu hampir saja menjerit saat melihat anak menantunya hampir terjungkal.


"Kenapa lari?" tanya Alkan pelan.


Pelan namun terdengar ada nada ketidaksukaan didalamnya, pria berlesung pipi itu segera meletakan helm serta tas ranselnya di lantai. Alkan mendekat pada Cia yang masih terdiam di tempatnya, si bapak penghulu berlesung pipi menggulung lengan kemejanya hingga siku.

__ADS_1


Alkan berani melakukan hal ini saat dia sudah berada di rumah, kalau di luar rumah jangan pernah berharap Alkan akan melakukan hal itu. Dalam kode etik, bila seorang penghulu menggulung lengan kemeja hingga siku itu namanya tidak sopan, apa lagi sedang bertugas di luar.


"Mas Al, udah pulang," ujar Cia mencairkan suasana.


Kedua mata abu abu beningnya menatap penuh puja pada sang suami, senyuman tipis Cia semakin melebar kala melihat Alkan merentangkan kedua tangannya.


Tanpa menunggu Cia segera masuk kedalam dekapan hangat suaminya, pelukan Cia semakin mengerat sembari menghirup rakus aroma tubuh Alkan yang sedari tadi sudah Cia rindukan.


Mereka berdua melupakan seorang wanita paruh baya yang hanya bisa tersenyum haru, melihat interaksi anak serta menantunya.



MAS AL OLAHRAGA JANTUNG



**MAKAN TERROOSS


HOLLA MET PAGI EPRIBADEH


GIMANA KABAR KALIAN HARI INI


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA

__ADS_1


SEE YOU NEXT PART MUUUAACCHH**


__ADS_2