
Entah berapa lama keduanya mengelilingi pasar, kedua tangan Cia sudah penuh dengan kresek belanjaan. Begitu pun dengan salah satu tangan Bunda Marwah, kedua wanita beda usia itu terus saja menyusuri setiap lorong pasar yang becek dan lembab.
"Kita beli es campur dulu," ujar Bunda Marwah, bahkan Cia hampir saja menabrak tubuh si Calon Ibu Mertuanya, saat Bunda Marwah berhenti secara tiba tiba.
Bunda Marwah terlihat memasuki sebuah kedai yang menjual bakso, pecel, lotek serta berbagai macam minuman.
"Mak Acih, bakso dua sama es campur nya dua ya! makan sini, entar bungkusin buat Alkan kayak biasa." ucap Bunda Marwah pada wanita yang terlihat seumuran dengannya.
"Lah ini bawa siapa, Mak Mar? cakep bener. Jodohin sama anak bujang saya aja lah, ya Allah mukanya cakep bener sih Neng, kamu makan apa bisa cakep kayak gini." si wanita pedang bakso itu menatap kagum pada Cia.
Sementara Cia hanya tersenyum kikuk, saat melihat beberapa orang yang tengah makan di sana ikut menatapnya.
"Cepetan buatin baksonya, kita udah mau pingsan ini." seru Bunda Marwah pada pedagang wanita itu.
__ADS_1
Ada rasa menyesal karena dia sudah membawa Cia ke pasar, Bunda Marwah bisa melihat begitu banyak mata memuja pada gadis cantik, yang tengah menggenggam ujung gamis yang dia pakai, karena banyak mata nakal yang menatap padanya.
'Ya Allah Kan, kenapa Bunda malah nyesel bawa dia ke pasar. Bunda gak rela lihat para mata laki laki lain natap dia penuh puja.' sesal Bunda Marwah dalam hati.
"Udah belum Mak, Acih? lama bener sih, keburu kelenger kita nanti!" seru Bunda Marwah lagi, dia kesal karena para mata itu terus menatap Cia tanpa henti, di tambah lagi si Acih terlalu lama menyiapkan bakso pesanannya.
Cia yang tengah memainkan ponsel, terlihat melirik pada calon Ibu Mertuanya lewat sudut mata. Cia mengerenyitkan dahi saat melihat wajah kesal Bunda Marwah, apa dia melakukan kesalahan? sampai calon Ibu Mertuanya ini terlihat kesal.
"Sabar atuh Mak Mar! tapi serius saya mau nanya, ini siapa sih? perasaan Mak Mar gak pernah bawa dia kesini, apa jangan jangan calonnya Alkan? wah beruntung banget si Bapak Penghulu dapetin bidadari, eh tapi bukannya Alkan deketnya sama dokter? benarnya yang mana sih?" cecar si wanita pedagang bakso itu pada Bunda Marwah.
Cia memakan bakso dihadapannya tidak berselera, padahal sebelumnya dia terlihat berbinar kala melihat makanan murah, namun sangat nikmat itu.
"Memangnya siapa yang bilang kalau Alkan, lagi dekat sama Dokter?" tanya Bunda Marwah.
__ADS_1
Wanita berkerudung biru itu terlihat menikmati potongan bakso dengan lahap, tanpa beban sedikit pun.
"Lah Mak Mar gak tau? kan kemaren Bu Sarah bilang di pengajian kalau anaknya yang dokter itu, lagi pdkt sama anak Mak Mar. Mak Mar gak masuk sih, makanya gak tau, nah sekarang saya kasih tau dah." cerocos si wanita pedang bakso itu, membuat Bunda Marwah menatap kearahnya.
Sementara Cia semakin merasakan ganjalan didalam tenggorokannya, apa lagi saat melihat senyuman tipis calon Ibu Mertuanya ini. Apa si calon Ibu Mertua senang, karena putranya digosipkan tengah melakukan pendekatan dengan dokter wanita itu?
"Kalau jodoh gak bakalan kemana Mak, biar pun di gembar gemborkan sampai satu negara tau, tapi kalau belum jodoh mau gimana lagi. Terus biarpun sudah berkorban dan melakukan apa pun, kalau namanya bukan jodoh, ya kita bisa apa." sahut Bunda Marwah tenang.
Namun sepertinya tidak tenang untuk Cia saat ini, gadis cantik itu menatap kosong ke arah depan setelah mendengar ucapan Bunda Marwah. Bahkan Cia menelan susah payah bakso yang ada didalam mulutnya
'Kalau bukan jodoh, ya mau gimana lagi.'
Ucapan Marwah terus saja terngiang di telinganya, rasa takut tengah menguasai hatinya saat ini. Bagaimana kalau dia dan Alkan tidak ditakdirkan berjodoh? apa Cia akan ikhlas menerimanya?
__ADS_1
JODOH OLANG😭😭😭