
Alkan terus saja menatap pada cincin cantik yang ada di tangannya, cincin yang akan dia ikatkan pada Cia besok malam.
Sepulang bekerja tadi, Alkan menyempatkan diri untuk pergi ke toko perhiasan. Alkan membelikan cincin sederhana untuk Cia, sebagai tanda pengikat hubungan serius mereka. Semoga saja keluarga sang gadis, mau menerima pemberiannya yang tidak seberapa ini.
Alkan masih saja menatap lekat cincin itu, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
Namun Alkan terlihat mengernyitkan dahi, kala mendengar suara Sang Bunda mengobrol dengan seseorang dari luar kamar. Alkan kembali memasukan cincin itu kedalam kotaknya, lalu meletakkannya dibawah bantal.
Pria berlesung pipi itu keluar dari kamar, dahinya semakin berkerut kala mendengar dua orang wanita, tengah mengobrol di ruang tamu.
Alkan melirik jam dinding yang tergantung di ruang keluarga, waktu sudah menunjukkan pukul 7.45 malam.
"Bunda sehat Bu Dokter Eli, malah semakin sehat rasanya. Bunda juga merasa tidak mudah lelah, beberapa hari ini." ucap Bunda Marwah apa adanya.
Wanita muda yang di panggil Dokter Eli itu tersenyum tipis, salah satu sudut matanya melirik pada seorang pria, yang tengah memperhatikan interaksinya dan Bunda Marwah.
"Syukurlah kalau Bunda merasa lebih sehat, Eli kesini cuma mau ngecek kesehatan Bunda, karena beberapa waktu ini Bunda jarang kontrol ke klinik. Eli cuma takut kalau Bunda, lagi gak baik di rumah. Walaupun kemarin Eli ketemu sama Mas Alkan, dan katanya Bunda sehat, tapi Eli ingin memastikan sendiri keadaan Bunda." ucap si dokter cantik itu lembut.
Kedua sudut bibirnya terus saja mengembang, bahkan salah satu tangan Elina terlihat menggenggam lembut tangan Bunda Marwah.
__ADS_1
"Ini sudah malam Dokter Elina, apa orang tua Dokter tidak khawatir, karena anak gadisnya tidak ada di rumah." sindir pelan Alkan, membuat kedua wanita beda usia itu menoleh.
Alkan menaikan sebelah alis, kala melihat dokter cantik itu malah menyunggingkan senyuman padanya. Bukannya tidak baik kalau seorang gadis kelayapan malam malam begini? walaupun alasannya ingin mengecek kesehatan salah satu pasiennya, tapi tidak etis kan kalau malam begini.
"Ah, tadi aku sekalian keluar kok Mas, Mama juga sudah tahu, kalau aku mampir sebentar ke sini. Aku cuma ngecek kesehatan Bunda saja," ujar lembut Elina.
Bahkan kedua sudut bibir Elina terus saja terangkat, kala melihat Alkan menatap biasa padanya, tanpa tertarik sedikit pun.
Alkan menghela napas pelan, pria berlesung pipi itu mengikis jarak dengan sang Bunda dan Elina. Alkan mendudukkan diri, di kursi jati single yang tidak jauh dari sang Bunda.
"Kalau Bunda tidak datang ke klinik, atau tidak menghubungi Dokter Elina, berarti Bunda saya sehat. Dokter Elina tidak perlu repot repot datang ke rumah kami untuk mengecek, itu tidak baik. Lagian tidak enak di lihat tetangga, apa lagi malam malam begini, fitnah manusia itu kejam, kalau Dokter belum tahu." ucap pelan Alkan namun terkesan menusuk kedalam ulu hati.
Si dokter cantik itu terlihat salah tingkah, dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Tidak apa apa Dokter Eli, Bunda senang kalau Dokter Eli masih mengkhawatirkan keadaan Bunda, di sela sela kesibukan Dokter Eli. Maaf kan Alkan ya, kalau ucapannya tidak nyaman di hati Dokter, tahu sendirikan gimana, Alkan." ucap Bunda Marwah merasa tidak enak, tidak enak karena dia melihat dokter muda ini terlihat salah tingkah. Alkan memang lembut, namun kalau dia melihat sesuatu yang salah dan tidak sesuai di matanya, pria berlesung pipi itu tidak akan diam dan hanya memperhatikan.
Bunda Marwah sudah tidak berharap apa pun pada dokter cantik ini, dia hanya menghargai perasaan serta perhatian Elina padanya selama ini. Bunda Marwa tahu dan paham, apa yang tengah di rasakan oleh si dokter pada sang putra, dulu, kemarin, sekarang dan saat ini.
Namun kali ini Bunda Marwah tidak ingin egois, dia akan menyerahkan semua keputusan pada putranya, Alkan.
__ADS_1
"Kalau begitu Eli pulang ya, Bun." pamit Elina.
Dokter muda itu tersenyum pada Bunda Marwah, bahkan dia diam diam melirik pada Alkan yang tengah duduk santai.
"Hati hati ya Dokter Eli." sahut Bunda Marwah.
Elina menganggukkan kepala, senyum di bibirnya terus saja terpatri, bahkan saat dia melewati Alkan, Elina tetap tersenyum manis. Walaupun Alkan menanggapinya biasa saja, pria berlesung pipi itu hanya menganggukkan kepala tanpa senyuman.
TATAPAN ALKAN PADA ELINA
**HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
GIMANA KABARNYA HARI INI, SEHAT?
UDAH HARI SENIN AJA NIH, SELAMAT HARI ISRA MIKRAJ NABI MUHAMAD SAW BAGI YANG BERAGAMA MUSLIM, SEMOGA KITA JUGA BISA HIJRAH MENJADI LEBIH BAIK LAGI, AAMIIN
JANGAN LUPA DUKUNGAN LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH**