Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Cover dan Isi, Tidak Selalu Sama


__ADS_3

Kediaman Alkan perlahan sepi, para tamu pengajian mulai berpamitan pulang. Alkan dan Cia terus saja mengembangkan senyum, mereka bersyukur pengajian malam ini berjalan lancar.


"Selamat atas pernikahannya," ujar Elina.


Si dokter jantung itu mengulurkan tangannya pada Cia, bahkan Elina juga terlihat mengembangkan senyuman tipisnya. Entah itu senyuman tulus atau terpaksa, Cia tidak peduli.


Sang Nyonya Alkan dengan senang hati meraih uluran tangan Elina, bahkan Cia juga membalas senyuman tipis Elina dengan tulus.


"Terimakasih Bu Dokter, anda sudah mau datang ke acara ini." ucap basa basi Cia.


Elina terdengar berdehem kecil, lalu melepaskan tautan tangan mereka berdua, salah satu sudut matanya melirik pada Bunda Marwah dan Alkan.


"Iya, Bunda mengundang saya, jadi kalau bukan karena undangan Bunda, saya juga tidak mungkin datang." ucap Elina, ucapannya lebih terdengar seperti 'aku ini spesial, kalau Bunda Marwah tidak mengundangku, aku juga tidak sudi'.


"Bukannya semua tamu pengajian kita di undang ya, Mas?" tanya Cia pada Alkan.


Kedua matanya menatap pada sang suami, wajahnya terlihat polos dan lugu saat bertanya.


"Iya, Pak RT yang mengundang." jawab Alkan tenang.


Bahkan pria berlesung pipi itu, menampilkan senyuman manis pada sang istri. Cia mengangkat kedua sudut bibirnya mendengar ucapan Alkan, netra abu abu beningnya kembali menatap pada Elina.

__ADS_1


"Semua tamu pengajian, kita undang kok Bu Dokter. Pak RT yang mengundang, tapi intinya kami sekeluarga senang kalau Bu DokterΒ  sudah mau menghadiri undangan kami, terimakasih." ucap ramah Cia.


Senyuman lebarnya semakin membuat wajahnya terlihat cantik, apa lagi saat ini Cia tengah memakai hijab pasmina berwarna senada, dengan gamis yang dia pakai.


"Sama sama." sahut Elina serba salah.


Dokter cantik itu segera pergi dari hadapan sepasang suami istri, yang terlihat saling tatap sembari mengernyitkan dahi. Bukankah ucapan mereka benar, para tamu pengajian malam ini di undang oleh Pak RT, lalu kenapa Elina terlihat tidak suka.


"Pantas saja kamu lebih memilihnya dari pada gadis lain ya, Nak Alkan." celetuk Bu Sarah.


Wanita berpenampilan layaknya sosialita itu menatap sinis pada Alkan. Wanita ber'abaya heboh, penuh kerlap kerlip di seluruh payetnya, segera menyusul Elina setelah mengatakan hal itu pada Alkan.


Sedangkan Bu Santi yang sedari tadi mengekor, segera menyusul sepasang ibu dan anak itu, setelah dia berpamitan pada tuan rumah.


"Hush, jodoh itu di tangan Tuhan. Kita gak boleh ngomong kayak gitu, pamali. Tapi saya setuju sama omongan Bu Rosma, untung Mas Alkan gak berjodoh sama anaknya Bu Sarah. Kalau sampai berjodoh, duh kita sebagai tetangga deketnya bakalan di tanya gak ya, kalau pas ketemu di jalan." timpal tetangga satunya lagi.


Alkan memijat pangkal hidungnya pelan, kala mendengar ibu ibu itu bergosip di depannya. Alkan tidak tahu apa apa soal masalah Dokter Elina, yang jarang bertegur sapa dengan warga sekitar.


Karena yang Alkan dan Bunda Marwah tahu, kalau si dokter jantung itu selalu ramah saat memeriksa kesehatan pasiennya. Bahkan Elina memaksa Bunda Marwah, untuk memeriksakan kesehatannya di rumah saja. Wanita paruh baya itu tidak perlu ke rumah sakit atau pun klinik pribadinya. Karena Elina sendiri yang akan datang ke kediaman Alkan, dengan alasan tidak ingin Alkan dan Bunda Marwah repot harus antri, kalau pergi ke rumah sakit atau pun kliniknya.


"Ibu ibu, gosipnya di lanjutkan besok lagi ya. Ayo pulang sudah malam, para suami lagi nungguin di pagar tuh." suara keras Bu RT, membuat para ibu ibu itu terdiam. Namun terdengar bersuara lagi, saat mereka sudah berpamitan pada Alkan, Cia dan Bunda Marwah, serta keluarga besar Cia.

__ADS_1


"Kenapa mereka ngomong kayak gitu sama, Dokter Elina?" bisik Cia pada Alkan.


Pria berkemeja baby blue itu menoleh, kedua sudut bibirnya kembali terangkat kala melihat wajah ayu sang istri. Apa lagi saat melihat penampilan tertutup Cia saat ini, rasanya Alkan tidak ingin berkedip walaupun hanya sebentar.


"Kita tidak tahu isi hati seseorang, Cimut. Yang terlihat tertutup, tidak selamanya bersih, begitu pun sebaliknya. Intinya, jangan pernah menilai sesuatu dari cover dan katanya. Sebelum mengetahuinya sendiri, kamu paham sayang," ujar Alkan lembut, bahkan saking lembutnya hanya Cia yang mampu mendengarnya.


Cia membalas dengan anggukan, rangkulan tangannya pada Alkan semakin mengerat. Sekarang Cia tahu kalau tidak semua yang terlihat baik itu tulus, justru lebih baik terlihat bahkan terdengar jahat, namun ternyata lebih peduli dan sangat tulus.



YA MAS AL



KAYAK GITU AJA EKSPRESINYA MASIH BIKIN OTHOR PINGIN BAWA KARUNG


***YUHUUU JANGAN LUPA BUAT LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


CERITA GALASKA BAKALAN AKU SATUIN DI SINI OKE, DARI "PAK PENGHULU, NIKAHI AKU" sampai "PAK PENGHULU, NIKAHKAN AKU" πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


SEE YOU NEXT TOMORROW

__ADS_1


BABAYYY MUUAAACCHH***


__ADS_2