
Alkan yang tengah meneliti lembaran kertas dihadapannya, terlihat sedikit terganggu kala mendengar para rekan kerjanya terdengar tengah meributkan sesuatu..
Entah apa yang sedang mereka ributkan saat ini, nampaknya lebih menarik dari pada mengerjakan tugas masing masing, yang tidak kunjung selesai.
"Widih nih serius apa lagi syuting film sih, kenapa ceweknya cantik banget?" seruan salah satu rekan kerjanya, membuat Alkan menoleh, namun masih tenang di tempatnya.
"Kalau semua cewek di dunia bisa kayak gitu, aman kayaknya. Tidak akan ada penjahat yang bisa macam macam sama cewek." timpal Fathur.
Dan itu membuat Alkan kembali menoleh, rasa penasaran mulai merasuk ke dalam relung jiwa serta otaknya.
"Kalian lagi pada ngapain sih? ini berkas belum selesai dikerjakan, berkas yang mau nikah bulan depan juga belum selesai semua, ayo kerja!" omel Alkan.
si Bapak Penghulu tampan itu menatap rekannya datar, namun di tanggapi biasa oleh Fathur dan yang lainnya.
"Ini loh ada cewek yang nangkap pencopet sendirian di pasar, kayaknya aku kenal nih pasar," ujar Fathur santai.
Pria beranak satu itu berjalan menuju Alkan, sembari membawa ponsel yang tengah menampilkan sebuah video viral.
"Nih lihat sendiri," ujar Fathur lagi sembari menyerahkan ponsel pada Alkan.
Si Bapak Penghulu berlesung pipi itu menghela napas kasar, sedikit malas untuk meraih benda pipih itu dari tangan sang rekan. Walau pun akhirnya Alkan meraihnya juga, kedua matanya mengerejab kala melihat adegan di video itu.
Lebih tepatnya orang yang tengah beradegan, kedua mata Alkan membulat sempurna, kala melihat si wanita yang ada di video itu, memelintir keras tangan remaja laki laki, yang sudah menjerit kesakitan.
__ADS_1
"Cimut," gumam pelan Alkan.
Tanpa berbicara, Alkan segera meletakan ponsel Fathur, lalu bangkit dari duduk. Kedua matanya menatap jam yang tergantung di dinding, waktu sudah menunjukan pukul 11.35 siang.
Waktu makan siang sebentar lagi, Alkan akan meminta izin untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Mas Fathur, saya istirahat makan siang duluan ya, soalnya saya mau pulang sebentar, Assalamualaikum!" ucap Alkan tergesa.
Si Bapak Penguhulu tampan itu segera meraih jaket serta kunci motor dan ponselnya. Lalu berlalu meninggalkan para rekan kerjanya, yang terlihat menatap bingung ke arahnya.
Sepanjang langkahnya, Alkan terus saja mengotak atik layar ponsel. Si Bapak Penghulu semakin di buat kesal, saat nomor yang sedang dia hubungi tidak juga kunjung tersambung.
🕊
🕊
🕊
Saat ini Cia dan Bunda Marwah tengah berada di teras rumah, bahkan masih ada beberapa warga, yang tadi mengantar mereka pulang.
"Ini calonnya Mas Alkan ya? tapi bukannya kata Bu Sarah kalau Mas Alkan lagi deket sama an...,"
"Mohon doanya saja Ibu Ibu, yang dekat belum tentu berjodohkan." Bunda Marwah segera memotong ucapan salah satu tetangganya.
__ADS_1
"Loh bukannya memang benar kalau anaknya Bu Sarah yang dokter jantung itu, sering kesini ya? walau pun mungkin sambil ngontrol kesehatan Mak Mar, tapi juga sambil menyelam minum air." celoteh salah satu dari mereka lagi.
Mereka yang ada disana saling lirik satu sama lain, memang benar gosip Dokter Eli yang tengah dekat dengan Si Bapak Penghulu tampan, pujaan anak perempuan mereka, sudah menyebar bagai virus, cepat sekali. Padahal entah itu benar atau tidak, mereka tidak peduli.
"Aakkhh," suara ringisin Cia kembali terdengar kala Bunda Marwah tidak sengaja menekan luka robek di tumitnya.
Wanita paruh baya itu terlihat sedikit melamun, setelah mendengar ucapan para tetangganya.
"Jangan suka bergosip yang tidak tidak soal anak saya Ibu Ibu, gosip itu belum tentu benar, kan saya sudah bilang tadi yang dekat belum tentu berjodoh." ucap Bunda Marwah lagi.
Wanita paruh baya itu terlihat merapihkan kassa bekas luka Cia, lalu membungkus ibu jari gadis itu agar tidak terkena kotoran dari luar.
Ibu jari Cia tergores batu kerikil tajam, hingga menyebabkan luka robek dibagian itu.
"Kamu diam disini, Bunda mau bawa ini kedalam." ucap Bunda Marwah pada Cia.
Terdengar seperti seorang Ibu yang tengah menyuruh anaknya diam, dan tidak boleh kemana pun, bukan?
"I-iya Bu." ucap Cia terbata.
Cia menghela napas pelan, kala sudah tidak melihat punggung calon Ibu Mertuanya.
"Asslamualaikum!" seruan salam seseorang membuat Cia dan yang lainnya menoleh.
__ADS_1
BALEK LAH ABANGKU BALEK ABANGKU TUNGGU DI TERAS RUMAH