
"Mami serius?" tanya Cia.
Entah sudah berapa kali wanita itu memastikan, kalau apa yang dia dengar saat ini tidak salah.
"Apa kalian yakin, kalau mereka memang keluarga Crystal. Bisa aja kan mereka ngaku ngaku, terus Crystal dia apa apain." ucap Cia penuh kekhawatiran.
Semalam sudah Crystal pergi bersama pria yang mengaku sebagai calon suaminya, dan pagi ini Lovyna memberitahukan Cia apa yang sudah terjadi tadi malam di kediamannya.
Sedari pagi sepasang ibu dan anak itu, terus saja berbicara melalui sambungan telepon. Lovyna bahkan sempat menangis saat mendengar suara putrinya, dia teringat kembali pada Crystal.
"Terus Bang Gala sama Papi gimana? gak mungkin kan kalau mereka diam aja. Katanya Om Luan udah nemuin kediaman keluarga itu? benar gak?" Cia terus saja mencecar sang Mami.
Padahal saat ini, kedua tangan Cia tengah sibuk memasangkan kancing kemeja suaminya. Sedangkan ponsel Cia, tengah di pegang oleh Alkan. Sepanjang obrolan antara Cia dan Mami mertuanya, si Bapak Penghulu hanya menjadi pendengar yang baik.
"Ya udah, Mami gak usah nangis terus. Nanti Cici sama Bunda ke rumah deh, kok jadi gini sih! Bang Galak juga ngapain diam aja waktu Crystal di bawa." omel Cia.
Wanita ini mulai terpancing emosi mendengar sang Mami menangis, Cia tahu kalau Lovyna sedih karena kesepian di sana, dan kehadiran Crystal menjadi obat untuk sang Mami.
Cia bersyukur Crystal ada di kediaman keluarga Nagara, berarti sang Mami tidak kesepian setelah dia ikut tinggal bersama Alkan, disini. Namun sekarang Crystal sudah tidak ada, gadis itu di bawa pergi oleh pria yang mengaku sebagai calon suaminya.
"Mami istirahat, nanti biar Cici yang ngomong sama Abang. Cici juga sayang sama Mami, waalaikumsallam." Cia mengakhiri obrolan mereka berdua.
Wanita berdaster itu menghela napas kasar, dahinya berkerut seakan tengah berpikir sesuatu.
"Cimut?" panggil Alkan.
__ADS_1
Pria berlesung Pipi itu terlihat khawatir saat melihat sang istri terdiam, karena tidak seperti biasanya Cia diam seperti ini.
"Nanti Cici ke rumah Mami ya, Mas. Kata Mami nanti ada sopir yang jemput, sebelum sore Cici sama Bunda udah pulang kok. Crystal di bawa pergi sama orang, yang katanya calon suaminya. Cici kesel sama Abang Gala, kenapa ngebiarin orang itu bawa Crystal." omel kesal Cia.
Bahkan Alkan menghela napas lega, saat dia bisa kembali mendengar omelan sang istri. Ini lebih baik bagi Alkan, dari pada dia tidak mendengar suara Cia tadi.
"Ya sudah, hati hati. Mungkin kalau Mas pulang cepat, nanti bisa menyusul ke sana," ujar Alkan lembut.
Salah satu tangannya mengusap pipi Cia yang terlihat semakin berisi, menurut Alkan.
🕊
🕊
🕊
Wanita berpakaian santai itu segera menghampiri Galaska di halaman belakang, sementara Bunda Marwah tengah bersama Mami Lovyna di dapur.
Kedua wanita paruh baya itu tengah membuat sesuatu untuk makan siang mereka, sementara Cia memutuskan untuk menemui dan berbicara dengan Galaska.
"Bang, kalau Cia manggil tuh nyahut dong. Nanti Tuhan marah, terus Abang bolot bisa beneran." celoteh Cia.
Wanita itu kesal, karena Galaska terlihat acuh tak acuh semenjak tadi, bukan hanya padanya, namun pada semua orang yang ada di rumah ini.
"Ada apa? Abang lagi sibuk jangan ganggu!" larangnya.
__ADS_1
Galaska memang terlihat tengah mengotak atik laptop, tapi Cia tidak tahu apa tengah Galaska lakukan dengan laptop itu saat ini.
"Cici bukan mau ganggu Abang, Cici cuma mau bilang, kalau ada sesuatu yang Abang sesali mending diperbaiki deh. Cici yakin kok belum terlambat, dari pada rasa itu makin besar, nanti Abang juga yang repot." oceh Cia.
Wanita berambut panjang itu menatap Galaska penuh harap, dia berharap sang Abang akan kembali bersuara. Tapi sepertinya, Galaska si mulut syaiton sedang berpuasa bicara sekarang.
Cia bahkan menghela napas kasar, setelah sekian lama saling diam. Si Nyonya Alkan lebih memilih bangkit, meninggalkan Galaska yang tengah sibuk sendiri.
"Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga. Sungguh berat aku rasa kehilangan dia, sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia." Cia terus saja bersenandung, tanpa ingin menoleh pada Galaska lagi.
Sedangkan Galaska, pria berambut ikal itu terlihat memejamkan kedua mata, bahkan terlihat sedikit memijat pangkal hidungnya sendiri.
"Ck, Om Luan lama banget sih ngirim datanya!' gerutu pelan Galaska.
KOMPORIN TEROS CI
**ADUH MAMAE LAKIK ORANG MERESAHKAN BESTIE, ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
YUHUUUU JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT TOMORROW
__ADS_1
BABAYYYY MUUUAAACCHH**